Rasionalitas Penundaan Pilkada 2020
Senin, 28 September 2020 - 06:49 WIB
loading...
A
A
A
Alasan kelima adalah alasan ekonomi. Pelaksanaan pilkada akan berkorelasi dengan geliat ekonomi bangsa. Kegiatan ekonomi saat ini pada kenyataannya sudah demikian lemah akibat tidak ada kepercayaan terhadap pasar. Inti persoalan itu terungkap dari hasil penelitian terbaru Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, yang mengatakan bahwa pada level kalangan masyarakat atas sekalipun saat ini cenderung menahan diri tidak melakukan pembelian atau sebuah kegiatan ekonomi yang masif. Mereka menunggu kepastian apa yang akan terjadi. Perilaku ini jelas tidak terkait dengan ditunda atau tidak ditundanya pilkada.
Jika dikaitkan dengan pendanaan pilkada yang pada dasarnya demikian minim hanya sekitar belasan juta triliun, dibanding dengan pendanaan terkait dengan pandemi Covid-19 yang jumlahnya hingga ratusan triliun. Dengan kata lain, dengan modal sekian belas triliun, tentu saja pendapatan yang diharapkan sebagai timbal balik ekonomi pun juga tidak akan memancing pergerakan yang signifikan. Stimulus kehidupan ekonomi kita tidak terletak pada pilkada. Bahkan, pilkada berpotensi menghasilkan expenditure akibat jatuhnya korban yang lebih banyak.
Alasan keenam, pilkada tidak akan menghasilkan klaster baru karena diprediksi akan berjalan dengan tertib dan diharapkan pada Desember 2020 akan mulai melandai. Dalam praktiknya, tidak ada jaminan bahwa pelaksanaan pilkada itu akan benar-benar tertib. Sejauh kebanyakan peserta maupun rakyat pada umumnya masih memahami kampanye adalah sebuah kegiatan mengumpulkan massa yang luar biasa potensi berkumpulnya masyarakat dalam jumlah besar itu tetap ada. Terbukti konsentrasi kerumunan massa masih terlihat di sana-sini.
Secara rasional sulit dipahami bahwa situasinya telah benar-benar berubah dan kondusif untuk sebuah pilkada dengan fase kampanye yang melibatkan 734 kontestan, selama 71 hari di berbagai titik plus pada hari H pilkada. Prediksi beberapa pihak termasuk LP3ES bahwa pada masa-masa ini justru akan terjadi klaster pilkada yang melibatkan hingga jutaan orang.
Selain itu, saat ini kecenderungan OTG menjadi masif. Kecerdasan virus yang semakin tinggi membuat kita tidak pernah tahu pasti siapa yang terjangkit atau tidak. Sementara tidak ada fakta yang meyakinkan bahwa kondisi semakin membaik. Kenyataannya beberapa wilayah justru menunjukkan tren positif Covid-19 meningkat. Dan kalau toh benar di Desember melandai, apakah ini merupakan momen yang tepat bagi pelaksanaan pilkada yang masih berpotensi besar menghasilkan klaster baru?
Dengan berbagai argumen di atas dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pilkada Desember 2020 adalah sesuatu yang terburu-buru, bersifat elitis dan berpotensi berujung pada sebuah pagelaran yang berbahaya karena dapat menimbulkan lebih banyak korban kemanusiaan bagi bangsa kita.
Jika dikaitkan dengan pendanaan pilkada yang pada dasarnya demikian minim hanya sekitar belasan juta triliun, dibanding dengan pendanaan terkait dengan pandemi Covid-19 yang jumlahnya hingga ratusan triliun. Dengan kata lain, dengan modal sekian belas triliun, tentu saja pendapatan yang diharapkan sebagai timbal balik ekonomi pun juga tidak akan memancing pergerakan yang signifikan. Stimulus kehidupan ekonomi kita tidak terletak pada pilkada. Bahkan, pilkada berpotensi menghasilkan expenditure akibat jatuhnya korban yang lebih banyak.
Alasan keenam, pilkada tidak akan menghasilkan klaster baru karena diprediksi akan berjalan dengan tertib dan diharapkan pada Desember 2020 akan mulai melandai. Dalam praktiknya, tidak ada jaminan bahwa pelaksanaan pilkada itu akan benar-benar tertib. Sejauh kebanyakan peserta maupun rakyat pada umumnya masih memahami kampanye adalah sebuah kegiatan mengumpulkan massa yang luar biasa potensi berkumpulnya masyarakat dalam jumlah besar itu tetap ada. Terbukti konsentrasi kerumunan massa masih terlihat di sana-sini.
Secara rasional sulit dipahami bahwa situasinya telah benar-benar berubah dan kondusif untuk sebuah pilkada dengan fase kampanye yang melibatkan 734 kontestan, selama 71 hari di berbagai titik plus pada hari H pilkada. Prediksi beberapa pihak termasuk LP3ES bahwa pada masa-masa ini justru akan terjadi klaster pilkada yang melibatkan hingga jutaan orang.
Selain itu, saat ini kecenderungan OTG menjadi masif. Kecerdasan virus yang semakin tinggi membuat kita tidak pernah tahu pasti siapa yang terjangkit atau tidak. Sementara tidak ada fakta yang meyakinkan bahwa kondisi semakin membaik. Kenyataannya beberapa wilayah justru menunjukkan tren positif Covid-19 meningkat. Dan kalau toh benar di Desember melandai, apakah ini merupakan momen yang tepat bagi pelaksanaan pilkada yang masih berpotensi besar menghasilkan klaster baru?
Dengan berbagai argumen di atas dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pilkada Desember 2020 adalah sesuatu yang terburu-buru, bersifat elitis dan berpotensi berujung pada sebuah pagelaran yang berbahaya karena dapat menimbulkan lebih banyak korban kemanusiaan bagi bangsa kita.
(ras)