Optimalisasi Program Stunting

Kamis, 24 September 2020 - 07:22 WIB
loading...
A A A
Penelitian di 19 propinsi (Ali Khomsan & Tin Herawati, 2014) mengungkapkan bahwa persentase partisipasi anak yang datang ke posyandu hanya 58.4%. Anak-anak balita sudah drop-out dari posyandu ketika usia 2-3 tahun. Mereka kemudian terdaftar di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan posyandu akhirnya semakin ditinggalkan.

Posyandu yang jangkuannya sudah sangat luas masih layak untuk menerima beban tanggung jawab dalam mengatasi stunting. Syaratnya hanya satu, segera lakukan revitalisasi posyandu dengan melengkapi pelayanannya. Pelayanan yang sangat krusial untuk segera diimplementasikan adalah pemberian makanan tambahan yang berkualitas (bukan lagi secangkir kacang ijo setiap bulan).

Untuk mendongkrak kinerja posyandu, maka kader-kadernya yang mayoritas perempuan perlu dihargai pemerintah, misalnya: keluarga kader gratis berobat, anak-anak kader mendapat beasiswa dan pendidikan gratis sampai SMA, atau kader memperoleh insentif bulanan yang memadai. Pada kenyataannya ada kader yang menerima insentif Rp300.000 per tahun. Suatu jumlah yang sangat kecil dan mungkin tidak berarti.

Ketika seorang anak menderita problem gizi (stunting alias pendek ataupun gizi buruk), maka seringkali ibu (perempuan) merasa paling bertanggung jawab terhadap musibah yang terjadi. Mengapa? Karena ibu adalah orang paling dekat dalam pengasuhan anak balita terutama dalam hal makannya. Padahal, timbulnya masalah gizi pada anak balita jelas bukan melulu persoalan perempuan. Apalagi, sebagian istri ternyata juga berkarier sebagai pekerja.

Pada keluarga-keluarga miskin trade-off yang terjadi apabila ibu bekerja adalah hilangnya kesempatan baginya untuk mengasuh dan membesarkan anaknya secara optimal. Ini bagaikan buah simalakama, sebab seandainya ibu tidak bekerja dan penghasilan suami tidak mencukupi, maka seluruh anggota keluarga (termasuk anak balita) akan mengalami defisit konsumsi gizi.

Ibu yang berpendidikan akan lebih giat mencari dan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam memelihara anak. Mereka juga akan menaruh perhatian lebih besar pada konsep sehat yang harus dicapai oleh seluruh anggota keluarganya sehingga anak-anak akhirnya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Upaya-upaya untuk meningkatkan pendidikan perempuan, memberi kesempatan dalam berbagai sektor pekerjaan, serta memudahkan akses mereka untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan gizi akan berdampak besar pada kualitas bangsa secara keseluruhan.
(ras)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
Mengapa Surat Al-Fatihah...
Mengapa Surat Al-Fatihah Disebut Induk Al-Qur'an? Ini Makna dan Keistimewaannya
Diskominfo Tangsel Bagikan...
Diskominfo Tangsel Bagikan Transformasi Digital Pelayanan Publik ke BPSDMD Jateng
4 Operasi Militer Berani...
4 Operasi Militer Berani yang Berakhir Bencana, dari Invasi Teluk Babi hingga Cakar Elang
Berita Terkini
3 Brigjen Pol Dapat...
3 Brigjen Pol Dapat Penugasan Baru ke Itwasum Polri pada Mutasi Juni 2026, Ini Daftar Namanya
UU PFII Bukti Pemerintah...
UU PFII Bukti Pemerintah Serius Bangun Fondasi Ekonomi Jangka Panjang
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama...
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama Baru, Ada Mantan Kapuspenkum Kejagung
Dugaan Penyamaran Aset...
Dugaan Penyamaran Aset Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Disorot
Jadi Investor Fiktif,...
Jadi Investor Fiktif, 10 WNA Ditangkap Imigrasi
Penguatan Kualitas Lulusan...
Penguatan Kualitas Lulusan Terus Digencarkan SGU
Infografis
Fakta Program Makan...
Fakta Program Makan Bergizi Gratis untuk Anak Balita dan Pelajar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved