Sekolah Nasional Terintegrasi: Investasi Besar yang Harus Dijaga Konsistensinya
Selasa, 28 Juli 2026 - 16:55 WIB
loading...
Hendarman, Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
Hendarman
Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor
Ketua Tim Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI (Ikatan Nasional Analis Kebijakan)
MEMBANGUN pendidikan sesungguhnya tidak pernah cukup hanya dengan membangun sekolah. Yang jauh lebih sulit adalah membangun kualitas pembelajaran, budaya akademik, dan ekosistem yang membuat setiap anak memperoleh kesempatan berkembang secara optimal. Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) seharusnya tidak dilihat publik sekadar sebagai proyek pembangunan fisik, melainkan sebagai investasi strategis untuk masa depan Indonesia.
Melalui Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026, Pemerintah melalui kementerian yang mengurusi pendidikan dasar dan menengah, menargetkan pembangunan 500 layanan Sekolah Nasional Terintegrasi hingga tahun 2029. Tahap awal dimulai dengan pembangunan di 37 lokasi, dan sebanyak 17 lokasi akan mulai menerima murid pada Tahun Ajaran 2026/2027. Pemerintah menegaskan bahwa SNT bukan sekadar sekolah baru, melainkan pusat peningkatan mutu pendidikan bagi wilayah sekitarnya.
Jawaban Ketimpangan Mutu
Kebijakan ini seyogianya diapresiasi karena berangkat dari persoalan nyata yang selama bertahun-tahun membayangi pendidikan Indonesia yaitu ketimpangan mutu antardaerah. Data Kemendikdasmen menunjukkan bahwa dari 7.288 kecamatan di Indonesia, hanya sekitar empat persen yang memiliki SMP dan SMA dengan kualitas baik berdasarkan indikator akreditasi, literasi, dan numerasi.
Artinya, sebagian besar anak Indonesia masih tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang belum mampu memberikan layanan pembelajaran terbaik. Kondisi tersebut diperkuat oleh hasil Programme for International Student Assessment (PISA) OECD yang menunjukkan kemampuan literasi, numerasi, dan sains murid Indonesia masih berada di bawah rata-rata global.
Persoalan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah sekolah. Yang dibutuhkan adalah menciptakan pusat-pusat keunggulan yang mampu menggerakkan sekolah lain untuk berkembang bersama.
Pemerintah merancang SNT sebagai ekosistem pendidikan yang mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu kawasan pembelajaran. Integrasi tersebut mencakup pengembangan guru, penguatan karakter, pembinaan talenta, pemanfaatan fasilitas bersama, hingga sistem penjaminan mutu yang saling terhubung.
Bahkan setiap sekolah akan memiliki kekhasan sesuai potensi daerah. Konsep ini menunjukkan bahwa Pemerintah mulai menggeser paradigma pendidikan dari sekadar memperluas akses menuju peningkatan kualitas pembelajaran.
Gary Becker dalam teori Human Capital menjelaskan bahwa investasi pendidikan merupakan investasi paling produktif bagi pembangunan ekonomi jangka panjang. Sementara Eric Hanushek dan Ludger Woessmann membuktikan bahwa kualitas pembelajaran memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi dibandingkan hanya meningkatkan angka partisipasi sekolah.
Tantangan ke Depan
Sejarah pembangunan pendidikan juga mengajarkan bahwa gagasan besar tidak selalu berakhir dengan hasil yang besar. Banyak kebijakan lahir dengan semangat tinggi, tetapi perlahan kehilangan daya dorong ketika memasuki tahap implementasi.
Tiga tahun pertama akan menjadi periode yang menentukan apakah SNT benar-benar menjadi pengungkit mutu pendidikan atau hanya menjadi proyek pembangunan sekolah yang megah. Tantangan pertama, menjaga agar SNT tidak berkembang menjadi sekolah eksklusif. Keunggulan sebuah sekolah memang penting, tetapi jauh lebih penting adalah kemampuan sekolah tersebut meningkatkan kualitas sekolah lain di sekitarnya.
Pemerintah telah menegaskan bahwa keberhasilan SNT bukan hanya diukur dari prestasi muridnya, melainkan dari berkembangnya guru, meningkatnya kolaborasi antarsekolah, dan bertumbuhnya mutu pendidikan di wilayah tersebut. Artinya, yang harus diukur adalah berapa banyak praktik baik yang menyebar ke sekolah lain, berapa guru yang meningkat kompetensinya, dan seberapa besar perubahan kualitas pembelajaran di daerah tersebut.
Tantangan kedua adalah keberlanjutan kualitas sumber daya manusia. Gedung modern dapat selesai dibangun dalam waktu singkat. Smart classroom dapat dibeli melalui anggaran pemerintah. Laboratorium dapat dilengkapi dengan berbagai teknologi mutakhir. Akan tetapi, membangun guru yang kreatif, kepala sekolah yang visioner, dan budaya belajar yang kolaboratif membutuhkan proses jauh lebih panjang.
Transformasi sumber daya manusia harus menjadi prioritas yang tidak kalah penting dibanding pembangunan infrastruktur. Jangan sampai setelah tiga tahun, fasilitas masih berdiri megah, tetapi semangat inovasi mulai memudar karena pendampingan guru tidak berlanjut.
Tantangan ketiga adalah menjaga sinergi lintas pemangku kepentingan. SNT sejak awal dirancang sebagai pusat pembelajaran bersama yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut tidak boleh berhenti pada saat peresmian sekolah. Justru setelah sekolah mulai beroperasi, kemitraan harus semakin kuat agar murid memperoleh pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan maupun kebutuhan dunia kerja.
Tantangan berikutnya adalah konsistensi evaluasi. Dalam implementasi kebijakan publik, keberhasilan tidak pernah hanya ditentukan oleh kualitas perencanaan. Pressman dan Wildavsky mengingatkan bahwa semakin panjang rantai implementasi sebuah kebijakan, semakin besar pula kemungkinan terjadinya penyimpangan dari tujuan awal. Karena itu, evaluasi harus dilakukan secara berkala untuk memastikan SNT tetap bergerak sesuai arah yang telah ditetapkan.
Evaluasi tersebut sebaiknya tidak hanya menggunakan indikator administratif, tetapi juga mengukur peningkatan literasi, numerasi, karakter peserta didik, kompetensi guru, kepuasan masyarakat, serta dampak pengimbasan terhadap sekolah-sekolah di sekitarnya.
Penutup
Terlalu sering terjadi pola pikir yang menempatkan seluruh tanggung jawab pendidikan di pundak pemerintah. Padahal sekolah berkualitas hanya dapat tumbuh apabila orang tua, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan komunitas ikut mengambil peran. Pendidikan yang bermutu merupakan hasil kerja kolektif, bukan hasil kerja satu institusi.
Investasi sebesar apa pun hanya akan menghasilkan manfaat apabila dijaga konsistensinya. Pembangunan gedung harus diikuti pembangunan budaya belajar. Pengadaan fasilitas harus dibarengi peningkatan kapasitas guru. Program nasional harus terus dikawal melalui evaluasi yang objektif dan perbaikan yang berkelanjutan.
Keberhasilan SNT pada akhirnya tidak akan dikenang karena jumlah bangunan yang berhasil didirikan. Tetapi apakah SNT mampu mengubah masa depan jutaan anak Indonesia.
Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor
Ketua Tim Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI (Ikatan Nasional Analis Kebijakan)
MEMBANGUN pendidikan sesungguhnya tidak pernah cukup hanya dengan membangun sekolah. Yang jauh lebih sulit adalah membangun kualitas pembelajaran, budaya akademik, dan ekosistem yang membuat setiap anak memperoleh kesempatan berkembang secara optimal. Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) seharusnya tidak dilihat publik sekadar sebagai proyek pembangunan fisik, melainkan sebagai investasi strategis untuk masa depan Indonesia.
Melalui Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026, Pemerintah melalui kementerian yang mengurusi pendidikan dasar dan menengah, menargetkan pembangunan 500 layanan Sekolah Nasional Terintegrasi hingga tahun 2029. Tahap awal dimulai dengan pembangunan di 37 lokasi, dan sebanyak 17 lokasi akan mulai menerima murid pada Tahun Ajaran 2026/2027. Pemerintah menegaskan bahwa SNT bukan sekadar sekolah baru, melainkan pusat peningkatan mutu pendidikan bagi wilayah sekitarnya.
Jawaban Ketimpangan Mutu
Kebijakan ini seyogianya diapresiasi karena berangkat dari persoalan nyata yang selama bertahun-tahun membayangi pendidikan Indonesia yaitu ketimpangan mutu antardaerah. Data Kemendikdasmen menunjukkan bahwa dari 7.288 kecamatan di Indonesia, hanya sekitar empat persen yang memiliki SMP dan SMA dengan kualitas baik berdasarkan indikator akreditasi, literasi, dan numerasi.
Artinya, sebagian besar anak Indonesia masih tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang belum mampu memberikan layanan pembelajaran terbaik. Kondisi tersebut diperkuat oleh hasil Programme for International Student Assessment (PISA) OECD yang menunjukkan kemampuan literasi, numerasi, dan sains murid Indonesia masih berada di bawah rata-rata global.
Persoalan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan menambah jumlah sekolah. Yang dibutuhkan adalah menciptakan pusat-pusat keunggulan yang mampu menggerakkan sekolah lain untuk berkembang bersama.
Pemerintah merancang SNT sebagai ekosistem pendidikan yang mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu kawasan pembelajaran. Integrasi tersebut mencakup pengembangan guru, penguatan karakter, pembinaan talenta, pemanfaatan fasilitas bersama, hingga sistem penjaminan mutu yang saling terhubung.
Bahkan setiap sekolah akan memiliki kekhasan sesuai potensi daerah. Konsep ini menunjukkan bahwa Pemerintah mulai menggeser paradigma pendidikan dari sekadar memperluas akses menuju peningkatan kualitas pembelajaran.
Gary Becker dalam teori Human Capital menjelaskan bahwa investasi pendidikan merupakan investasi paling produktif bagi pembangunan ekonomi jangka panjang. Sementara Eric Hanushek dan Ludger Woessmann membuktikan bahwa kualitas pembelajaran memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi dibandingkan hanya meningkatkan angka partisipasi sekolah.
Tantangan ke Depan
Sejarah pembangunan pendidikan juga mengajarkan bahwa gagasan besar tidak selalu berakhir dengan hasil yang besar. Banyak kebijakan lahir dengan semangat tinggi, tetapi perlahan kehilangan daya dorong ketika memasuki tahap implementasi.
Tiga tahun pertama akan menjadi periode yang menentukan apakah SNT benar-benar menjadi pengungkit mutu pendidikan atau hanya menjadi proyek pembangunan sekolah yang megah. Tantangan pertama, menjaga agar SNT tidak berkembang menjadi sekolah eksklusif. Keunggulan sebuah sekolah memang penting, tetapi jauh lebih penting adalah kemampuan sekolah tersebut meningkatkan kualitas sekolah lain di sekitarnya.
Pemerintah telah menegaskan bahwa keberhasilan SNT bukan hanya diukur dari prestasi muridnya, melainkan dari berkembangnya guru, meningkatnya kolaborasi antarsekolah, dan bertumbuhnya mutu pendidikan di wilayah tersebut. Artinya, yang harus diukur adalah berapa banyak praktik baik yang menyebar ke sekolah lain, berapa guru yang meningkat kompetensinya, dan seberapa besar perubahan kualitas pembelajaran di daerah tersebut.
Tantangan kedua adalah keberlanjutan kualitas sumber daya manusia. Gedung modern dapat selesai dibangun dalam waktu singkat. Smart classroom dapat dibeli melalui anggaran pemerintah. Laboratorium dapat dilengkapi dengan berbagai teknologi mutakhir. Akan tetapi, membangun guru yang kreatif, kepala sekolah yang visioner, dan budaya belajar yang kolaboratif membutuhkan proses jauh lebih panjang.
Transformasi sumber daya manusia harus menjadi prioritas yang tidak kalah penting dibanding pembangunan infrastruktur. Jangan sampai setelah tiga tahun, fasilitas masih berdiri megah, tetapi semangat inovasi mulai memudar karena pendampingan guru tidak berlanjut.
Tantangan ketiga adalah menjaga sinergi lintas pemangku kepentingan. SNT sejak awal dirancang sebagai pusat pembelajaran bersama yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut tidak boleh berhenti pada saat peresmian sekolah. Justru setelah sekolah mulai beroperasi, kemitraan harus semakin kuat agar murid memperoleh pengalaman belajar yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan maupun kebutuhan dunia kerja.
Tantangan berikutnya adalah konsistensi evaluasi. Dalam implementasi kebijakan publik, keberhasilan tidak pernah hanya ditentukan oleh kualitas perencanaan. Pressman dan Wildavsky mengingatkan bahwa semakin panjang rantai implementasi sebuah kebijakan, semakin besar pula kemungkinan terjadinya penyimpangan dari tujuan awal. Karena itu, evaluasi harus dilakukan secara berkala untuk memastikan SNT tetap bergerak sesuai arah yang telah ditetapkan.
Evaluasi tersebut sebaiknya tidak hanya menggunakan indikator administratif, tetapi juga mengukur peningkatan literasi, numerasi, karakter peserta didik, kompetensi guru, kepuasan masyarakat, serta dampak pengimbasan terhadap sekolah-sekolah di sekitarnya.
Penutup
Terlalu sering terjadi pola pikir yang menempatkan seluruh tanggung jawab pendidikan di pundak pemerintah. Padahal sekolah berkualitas hanya dapat tumbuh apabila orang tua, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan komunitas ikut mengambil peran. Pendidikan yang bermutu merupakan hasil kerja kolektif, bukan hasil kerja satu institusi.
Investasi sebesar apa pun hanya akan menghasilkan manfaat apabila dijaga konsistensinya. Pembangunan gedung harus diikuti pembangunan budaya belajar. Pengadaan fasilitas harus dibarengi peningkatan kapasitas guru. Program nasional harus terus dikawal melalui evaluasi yang objektif dan perbaikan yang berkelanjutan.
Keberhasilan SNT pada akhirnya tidak akan dikenang karena jumlah bangunan yang berhasil didirikan. Tetapi apakah SNT mampu mengubah masa depan jutaan anak Indonesia.
(poe)