Hukum dan Ekonomi: Penopang Keberhasilan Piala Dunia 2026

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:16 WIB
loading...
Hukum dan Ekonomi: Penopang...
Jamal Wiwoho. Foto/Istimewa
A A A
Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S.H., M.Hum
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS/Rektor UNS 2019-2024

PIALA Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko merupakan pesta olahraga sepak bola terbesar di muka bumi itu telah usai. Spanyol keluar sebagai juara dunia baru setelah mengalahkan juara bertahan Argentina 1-0. Ferran Torres, sang pencetak gol penentu di babak tambahan waktu pada menit ke-106, telah menobatkan Spanyol sebagai ranking 1 urutan sepak bola dunia.

Setiap empat tahun sekali perhatian jutaan bahkan miliaran penduduk dunia tertuju pada pertandingan yang mempertemukan negara-negara terbaik dalam kompetisi sepak bola. Namun di balik gemuruh stadion, sorak-sorai suporter dan penonton, serta indahnya permainan para bintang lapangan hijau, terdapat dua fondasi utama yang menjadikan turnamen ini mampu berlangsung sukses, yakni hukum dan ekonomi.

Banyak orang memandang dan beranggapan bahwa Piala Dunia hanya sebagai pertandingan sepak bola saja. Padahal, penyelenggaraan turnamen tahun 2026 yang untuk pertama kali ini melibatkan 48 negara, jutaan penonton, ribuan atlet, ratusan sponsor, serta perputaran uang hingga miliaran dolar Amerika tidak mungkin berjalan tanpa kepastian hukum dan kekuatan ekonomi. Keduanya menjadi dua sisi mata uang yang saling melengkapi.

Ekonomi Menyediakan Sumber Daya

Dari sudut pandang ekonomi, Piala Dunia telah berkembang menjadi industri olahraga global. Federasi sepak bola internasional (FIFA) memproyeksikan pendapatan atau (revenue) edisi pesta bola 2026 diperkirakan sekitar USD 8,911 milliar atau sekitar Rp 145-150 triliun rupiah. Komponen pendapatan tersebut berasal dari: hak siar televisi sekitar USD 3,925 miliar (44%); penjualan tiket dan hospitality sekitar USD 3,017 miliar (34%); hak pemasaran atau sponsor sekitar USD 1,786 miliar (20%) serta lisensi merchandisse dan royalty serta pendapatan lain seperti platfom digital, museum FIFA , program kualitas FIFA, video dan lain- lain.

Sebagai organisasi nirlaba, FIFA menganggarkan sebagian besar pendapatanya untuk pengembangan sepak bola dengan rincian penyelenggaraan kompetisi dan event sekitar USD 4,235 miliar, pengembangan dan pendidikan sepak bola sekitar USD 1,726 miliar; tata kelola (governance) sepak bola sekitar USD 54 juta untuk admistrasi FIFA, pemasaran dan penyiaran, operational termasuk teknologi, logistik, trasportasi, keamanan, akreditasi dan pelayanan tamu. Nilai ekonomi tersebut menunjukkan bahwa olahraga kini telah menjadi salah satu sektor industri paling menguntungkan di dunia.

Baca Juga: Sepak Bola dan Organisme Kepercayaan

Dampak ekonomi juga dirasakan negara tuan rumah. Misalnya kehadiran jutaan wisatawan sehingga meningkatkan okupansi hotel berbintang, restoran, transportasi, penerbangan, pusat perbelanjaan, hingga pelaku UMKM. Investasi pembangunan stadion, jalan, bandara, jaringan komunikasi, dan transportasi publik meninggalkan warisan infrastruktur yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang. Dengan demikian, Piala Dunia bukan sekadar kompetisi olahraga, melainkan instrumen pembangunan ekonomi nasional.

Hukum Memberi Kepastian

Besarnya nilai ekonomi penyelenggaraan pesta bola dunia 2026 tersebut memerlukan sistem hukum yang kuat. Hukum hadir untuk memberikan kepastian bagi seluruh pihak yang terlibat. Mulai dari kontrak penyelenggaraan antara FIFA dan negara tuan rumah, perlindungan hak siar, hak kekayaan intelektual (intelectual property rights) atas logo dan maskot, kontrak sponsor, perlindungan konsumen, pengamanan stadion, hingga penyelesaian sengketa (dispute resolution) olahraga, semuanya diatur melalui mekanisme hukum yang jelas dengan norma hukum yang tegas.

Perlindungan hak kekayaan intelektual juga menjadi salah satu aspek yang paling penting. Logo Piala Dunia, maskot resmi, lagu resmi, dan berbagai atribut komersial memperoleh perlindungan hukum (protections law) yang ketat. Penjualan merchandise palsu maupun penggunaan merek tanpa izin dapat dikenai sanksi hukum. Perlindungan tersebut memberikan kepastian bagi investor dan sponsor yang telah mengeluarkan investasi dalam jumlah besar.

Demikian pula dengan hak siar televisi yang menjadi sumber pendapatan terbesar FIFA. Tanpa perlindungan hukum terhadap pembajakan siaran digital, nilai komersial turnamen akan menurun drastis. Oleh karena itu, berbagai negara bekerja sama menindak pelanggaran hak siar sebagai bentuk perlindungan terhadap industri olahraga.

Aspek hukum lainnya adalah keamanan. Piala Dunia mempertemukan jutaan orang dari berbagai negara, budaya, dan latar belakang. Karena itu, pengamanan menjadi prioritas utama. Regulasi mengenai keamanan stadion, pengendalian massa, penanganan ,hooliganisme, hingga pencegahan terorisme merupakan bagian dari sistem hukum yang menjamin keselamatan seluruh peserta dan penonton.

Pada bidang hukum pidana, hukum juga berperan memberantas praktik pengaturan skor, perjudian ilegal, penyuapan wasit, pemalsuan tiket, hingga tindak pidana pencucian uang (money loundry). Integritas pertandingan merupakan modal utama menjaga kepercayaan publik terhadap olahraga.

Sementara itu, tata kelola organisasi atau good governance menjadi syarat mutlak bagi keberhasilan sebuah turnamen. Transparansi pengelolaan anggaran yang besar, audit keuangan independen, akuntabilitas penggunaan dana, serta pengawasan terhadap konflik kepentingan merupakan prinsip yang harus dijalankan. Dalam konteks FIFA, laporan keuangan FIFA akan diaudit oleh Price Waterhouse Cooper- PWC sebagai auditor independen (statutory auditor) sesuai standar internasional sehingga penggunaan dana dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh anggota.

Piala Dunia juga merupakan contoh nyata bagaimana hukum internasional (international law) bekerja dalam praktik. Negara tuan rumah (Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko) harus menyesuaikan berbagai regulasi nasional mengenai keimigrasian, perpajakan, kepabeanan, keamanan, dan perlindungan hak komersial agar sesuai dengan standar penyelenggaraan FIFA. Dengan demikian, olahraga menjadi media harmonisasi berbagai sistem hukum lintas negara.

Pelajaran bagi Indonesia

Rakyat Indonesia yang sebagian besar pecandu sepak bola, maka Piala Dunia memberikan banyak pelajaran. Keberhasilan sebuah negara dalam olahraga tidak hanya ditentukan oleh kualitas pemain, tetapi juga oleh tata kelola organisasi yang profesional, kepastian hukum, serta kekuatan ekonomi yang menopangnya. Pembinaan atlet sejak usia dini harus diiringi dengan sistem kompetisi yang sehat, manajemen federasi yang transparan, serta penegakan hukum terhadap praktik-praktik yang merusak integritas olahraga.

Lebih jauh lagi, olahraga mampu menjadi instrumen diplomasi internasional dan diplomasi budaya global. Prestasi di lapangan hijau akan meningkatkan citra bangsa, memperkuat kepercayaan investor, serta memperkenalkan budaya nasional kepada masyarakat dunia. Oleh sebab itu, investasi di bidang olahraga sesungguhnya merupakan investasi terhadap martabat bangsa.



Pada akhirnya, Piala Dunia mengajarkan bahwa keberhasilan sebuah pesta olahraga dunia tidak hanya ditentukan oleh jumlah gol yang tercipta ataupun trofi yang diangkat. Di balik setiap pertandingan terdapat sistem hukum yang menjamin keadilan dan kepastian, serta kekuatan ekonomi yang memungkinkan seluruh rangkaian kegiatan berjalan secara profesional. Hukum yang memberikan kepastian, ekonomi menyediakan sumber daya, sedangkan olahraga menjadi panggung yang memperlihatkan kemampuan suatu bangsa kepada dunia.

Inilah makna sesungguhnya dari Piala Dunia, bukan sekadar pesta sepak bola, melainkan pertemuan antara prestasi olahraga, supremasi hukum, dan kekuatan ekonomi yang bersama-sama membangun kebanggaan bangsa serta mempererat persaudaraan masyarakat dunia.

Semoga.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mantan Ketua MK Sebut...
Mantan Ketua MK Sebut Kondisi Indonesia Suram: Hukum Sangat Tajam ke Bawah, tapi Tumpul ke Atas
Pakar Kebijakan Publik...
Pakar Kebijakan Publik Soroti Ego Sektoral Penegakan Hukum, Sarankan Pelibatan KPK
Korban Kekerasan Seksual...
Korban Kekerasan Seksual dan TPPO Bakal Dapat Penanganan Lebih Cepat
Celoteh Hotman Paris,...
Celoteh Hotman Paris, Pakar: Penghinaan Wartawan Bisa Diproses Hukum
Sebelum Ditangkap KPK,...
Sebelum Ditangkap KPK, Bupati Lombok Barat Sempat Nobar Piala Dunia 2026
IJTI: Menghormati Profesi...
IJTI: Menghormati Profesi Jurnalis Wujud Kepatuhan Hukum
10 Pemain Tercepat di...
10 Pemain Tercepat di Piala Dunia 2026: Mbappe Kalahkan Haaland
Rodri Bungkam Mulut...
Rodri Bungkam Mulut Ronaldo dengan Trofi Piala Dunia 2026 dan Golden Ball
Masalah Klasik Lagi,...
Masalah Klasik Lagi, Justin Hubner Terancam Absen Bela Timnas Indonesia di Piala AFF 2026
Rekomendasi
Yusril Imbau Dedi Mulyadi...
Yusril Imbau Dedi Mulyadi Tak Bikin Sayembara Tangkap Begal: Khawatir Masyarakat Jadi Main Hakim Sendiri
Hasil Piala AFF 2026:...
Hasil Piala AFF 2026: Malaysia Comeback, Tundukkan Myanmar 2-1
Pemerintah Bebaskan...
Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Impor Komponen Pesawat dan LPG Petrokimia
Berita Terkini
Robikin Emhas: Marwah...
Robikin Emhas: Marwah NU Tercabik-cabik Hanya karena Konflik Elite PBNU
Polemik Londo Ireng,...
Polemik Londo Ireng, IJTI Minta Presiden Hindari Diksi yang Bisa Beri Label Negatif bagi Profesi Jurnalis
Febrie Adriansyah Tak...
Febrie Adriansyah Tak Pakai Rompi Tahanan, Eks Penyidik KPK: Persepsi Publik Ada Keistimewaan Tidak Bisa Dicegah
Apresiasi Pelaksanaan...
Apresiasi Pelaksanaan PTT BSPS di Bandung, Mendagri: Tender Rakyat Perkuat Transparansi
Mantan Ketua MK Sebut...
Mantan Ketua MK Sebut Kondisi Indonesia Suram: Hukum Sangat Tajam ke Bawah, tapi Tumpul ke Atas
Dugaan Keterkaitan Eks...
Dugaan Keterkaitan Eks Jampidsus dengan Sejumlah Kasus Korupsi Disorot
Infografis
Tahapan Penerimaan Sekolah...
Tahapan Penerimaan Sekolah Kedinasan 2026, Lulus Bisa Jadi Calon PNS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved