Petani Tebu yang Belum Merdeka

Jum'at, 24 Juli 2026 - 21:17 WIB
loading...
A A A
Awal musim giling tahun ini, Mei 2026, harga tetes mulai membaik: Rp1.600 per kg. Saat ini, Juli 2026, harga bergerak antara Rp1.700 hingga Rp2.000 per kg. Tergantung kualitas. Lelang tetes di Lampung, kata Khabsyin, menyentuh harga Rp2.200 per kg. Impor lebih terkendali setelah Kementerian Perdagangan menerbitkan Permendag 18/2026 tentang Perubahan Kedua atas Permendag 16/2025 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor. Regulasi berubah setelah APTRI maraton berdialog dan mengadvokasi ke sejumlah pihak. Di aturan baru itu impor tetes tebu dan etanol masuk dalam pengendalian.

Produksi tetes nasional mencapai 1,827 juta ton pada 2025, naik dari tahun 2021 yang sebesar 1,51 juta ton (tumbuh 5,23% per tahun). Seperti gula, produksi tetes dominan dari pabrik gula (PG) di Jawa, mencapai 69,46% tahun 2025. Pasokan dan kebutuhan tetes tergambar dari data Perkumpulan Industri Pengguna Tetes Tebu (PIPTT) pada 2023 yang dimuat Jurnal GULA, Juni 2026. Dengan produksi tetes 1,511 juta ton dan ekspor 820 ribu ton, tersisa 691 ribu ton. Di sisi lain, kebutuhan mencapai 985 ribu ton.

Merujuk data PIPTT, 985 ribu ton tetes itu terdistribusi untuk produksi etanol 500 ribu ton, bumbu masak atau monosodium glutamat (MSG) 425 ribu ton, dan yeast 60 ribu ton. Jadi, pada 2023 terjadi defisit tetes sekitar 294 ribu ton. Merujuk data BPS, pada 2023 Indonesia mengimpor tetes 57,46 ribu ton, yang mayoritas (71,87%) didatangkan dari Mesir. Situasi ini memunculkan paradoks: produksi tetes Indonesia sebetulnya surplus, tapi industri pengguna kekurangan karena separuh tetes diekspor.

Absennya regulasi yang mengatur alokasi tetes untuk kebutuhan domestik berbuah fluktuasi pasokan untuk industri pengguna: etanol, MSG, dan yeast. Dampaknya langsung ditransmisikan hingga di tingkat PG dan petani tebu. Harga tetes yang jatuh membuat PG kehilangan salah satu sumber pendapatan tambahan untuk menutup biaya produksi gula yang tinggi. Bagi petani idem ditto: jatuhnya harga tetes berarti semakin kecil penerimaan yang didapatkan dari hasil giling tebu.

Harga tetes tebu yang fluktuatif menambah lapisan kerentanan baru pada industri gula nasional. Kondisi tahun 2025 dapat menjadi cermin yang baik untuk perenungan. Selain tetes, lelang gula juga lesu. Rerata harga lelang gula 2025 mencapai Rp14.950/kg, di atas harga acuan pembelian di produsen Rp14.500/kg. Harga acuan pembelian sejak 2024 belum berubah. Di sisi lain, biaya produksi, seperti sewa lahan, tenaga kerja, dan pupuk, terus naik. Biaya produksi makin tinggi tatkala krisis di Selat Hormuz. Harga retail pada 2025 tetap jauh di atas harga lelang: Rp17.912–18.603/kg. Ada selisih Rp2.800–3.200/kg atau sekitar 16–17% yang dinikmati pelaku perdagangan-distribusi.

Ketika harga gula turun karena lelang tidak laku, yang diikuti anjloknya harga tetes, pendapatan PG dan petani akan jatuh. Kombinasi ini akan menekan arus kas pabrik gula dan memperburuk posisi tawar petani. Ketika harga gula dan tetes sama-sama rendah, insentif petani untuk menanam tebu melemah. Dalam jangka menengah, hal ini bukan hanya mengancam pencapaian target swasembada gula konsumsi pada 2028 tetapi juga dapat memperlemah industri pergulaan secara keseluruhan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Harga Pangan Naik saat...
Harga Pangan Naik saat Sekolah Dimulai dan MBG Bergulir Lagi, Ekonom: Sinyal Positif bagi Ekonomi Rakyat
Pimpin Panen Raya di...
Pimpin Panen Raya di Malang, Prabowo: Bukti TNI Hadir Perkuat Kemandirian Pangan
Ramalan Juni Indonesia...
Ramalan Juni Indonesia Kolaps, Prabowo: Ini Udah Juli!
Prabowo Apresiasi Panen...
Prabowo Apresiasi Panen Raya Inisiasi TNI Serentak di 43 Titik Seluruh Indonesia
Pertaruhan Tugas Bulog...
Pertaruhan Tugas Bulog saat Stok Beras Jumbo
Prabowo: Perang di Mana-mana,...
Prabowo: Perang di Mana-mana, Kita Tidak Terlibat tapi Waspada
Ketahanan Pangan Nasional,...
Ketahanan Pangan Nasional, Nestlé Salurkan 90 Sapi Perah Impor di Jatim
IYSDGS 2026 Dorong Kolaborasi...
IYSDGS 2026 Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Ketahanan Air dan Pangan
HKTI Papua Dukung Agenda...
HKTI Papua Dukung Agenda Ketahanan Pangan Nasional dari Biak
Rekomendasi
Ducati Tidak Tertarik...
Ducati Tidak Tertarik dengan Reli Dakar, Ini Alasannya
OJK Catat Transaksi...
OJK Catat Transaksi Kripto Rp23,01 Triliun, Pasar Futures Dinilai Kian Prospektif
Trump Ungkap Iran Sedang...
Trump Ungkap Iran Sedang Bernegosiasi dengan AS, Peringatkan Teheran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir
Berita Terkini
Febrie Adriansyah Jadi...
Febrie Adriansyah Jadi Tersangka TPPU, Kejagung Paparkan Modusnya
Penyesuaian Tarif PNBP...
Penyesuaian Tarif PNBP Berkeadilan, Tarif Merek UMKM Tetap dan Pendaftaran Hak Cipta Lagu Gratis
Febrie Adriansyah Ditahan...
Febrie Adriansyah Ditahan Tanpa Rompi Pink, PB PMII: Cetak Sejarah
PWNU Jateng dan Konjen...
PWNU Jateng dan Konjen Tiongkok Jalin Kerja Sama Pendidikan, Gus Rozin Ikuti Jejak Gus Dur
Pakar Kebijakan Publik...
Pakar Kebijakan Publik Soroti Ego Sektoral Penegakan Hukum, Sarankan Pelibatan KPK
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Infografis
Slavko Vincic, Wasit...
Slavko Vincic, Wasit Final Piala Dunia 2026 yang Pelit Kartu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved