Makna Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
Senin, 06 Juli 2026 - 09:26 WIB
loading...
A
A
A
Namun, sejarah tidak pernah ditulis hanya oleh para pendukung. Di balik keteguhan itu, pemerintahan Khamenei juga meninggalkan warisan kontroversial, khususnya bagi pembecinya. Pengetatan ruang kebebasan sipil, pembatasan hak-hak perempuan, penahanan terhadap aktivis, pengawasan media, hingga tekanan ekonomi akibat kombinasi salah urus domestik dan sanksi internasional menjadi bagian yang tak dapat dihapus dari catatan sejarahnya.
Gelombang protes yang berulang dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa Iran bukanlah masyarakat yang sepenuhnya seragam. Di balik slogan "persatuan" dan bernaung di bawah bendera revolusi Iran, selalu ada keragaman aspirasi yang mendesak dan mencari ruang untuk didengar.
Karena itu, membaca pemakaman Khamenei semata-mata sebagai bukti cinta rakyat kepada pemimpinnya adalah bentuk penyederhanaan. Sebaliknya, memandangnya hanya sebagai mobilisasi politik negara juga tidak cukup adil.
Dalam budaya Syiah, kematian memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Sublim. Tradisi berkabung bukan sekadar ritual, tetapi sebagai bagian dari merawat memori kolektif yang dibentuk sejak tragedi Karbala.
Air mata bukan saja sekadar ekspresi kehilangan, melainkan juga bahasa iman, solidaritas, dan identitas. Ketika jutaan orang turun ke jalan, mereka tidak selalu sedang memberikan suara politik; sebagian sedang menjalankan keyakinan religius, sebagian lagi menghormati seorang pemimpin yang mereka yakini telah mengabdikan hidupnya bagi bangsa.
Di sisi lain, negara tentu memahami bahwa simbol juga merupakan instrumen politik. Prosesi pemakaman yang berlangsung berhari-hari, melintasi kota-kota suci Iran dan Irak, dihadiri pejabat tinggi dari Rusia, Tiongkok, Pakistan, Irak, Turki, serta berbagai negara sahabat, bukan semata sekadar penghormatan terakhir. Indonesia diwaikili Dubesnya di Tehran, Roy Sumirat.
Gelombang protes yang berulang dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa Iran bukanlah masyarakat yang sepenuhnya seragam. Di balik slogan "persatuan" dan bernaung di bawah bendera revolusi Iran, selalu ada keragaman aspirasi yang mendesak dan mencari ruang untuk didengar.
Karena itu, membaca pemakaman Khamenei semata-mata sebagai bukti cinta rakyat kepada pemimpinnya adalah bentuk penyederhanaan. Sebaliknya, memandangnya hanya sebagai mobilisasi politik negara juga tidak cukup adil.
Dalam budaya Syiah, kematian memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Sublim. Tradisi berkabung bukan sekadar ritual, tetapi sebagai bagian dari merawat memori kolektif yang dibentuk sejak tragedi Karbala.
Air mata bukan saja sekadar ekspresi kehilangan, melainkan juga bahasa iman, solidaritas, dan identitas. Ketika jutaan orang turun ke jalan, mereka tidak selalu sedang memberikan suara politik; sebagian sedang menjalankan keyakinan religius, sebagian lagi menghormati seorang pemimpin yang mereka yakini telah mengabdikan hidupnya bagi bangsa.
Di sisi lain, negara tentu memahami bahwa simbol juga merupakan instrumen politik. Prosesi pemakaman yang berlangsung berhari-hari, melintasi kota-kota suci Iran dan Irak, dihadiri pejabat tinggi dari Rusia, Tiongkok, Pakistan, Irak, Turki, serta berbagai negara sahabat, bukan semata sekadar penghormatan terakhir. Indonesia diwaikili Dubesnya di Tehran, Roy Sumirat.
Lihat Juga :