Ketika Gen Z Membawa Orang Tua ke Ruang Interview
Selasa, 30 Juni 2026 - 15:28 WIB
loading...
Faozan Amar. Foto/Istimewa
A
A
A
Faozan Amar
Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA
ADA fenomena yang terasa asing bagi generasi milenial dan baby boomers: anak muda datang ke kantor untuk wawancara kerja, tapi ada yang menemani, yaitu orang tua yang ikut mendampingi, memberi motivasi, bahkan dalam beberapa kasus ikut terlibat dalam proses komunikasi dengan perusahaan.
Fenomena ini menjadi perbincangan setelah muncul laporan bahwa sekitar 40 persen Gen Z pernah melibatkan orang tua dalam proses pencarian kerja, termasuk saat wawancara dan negosiasi gaji. Fenomena tersebut kemudian memunculkan pertanyaan besar: apakah Gen Z kehilangan kemandirian atau justru sedang menghadapi dunia kerja yang semakin penuh tekanan? Jawabannya tidak sederhana.
Melihat fenomena ini hanya dari sudut pandang “ anak muda tidak mandiri” tentu terlalu menyederhanakan persoalan. Di baliknya ada perubahan pola keluarga, tekanan ekonomi, dan tantangan dunia kerja yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Baca Juga: Gen Z Lebih Rentan Kena Mental di Dunia Kerja, Dokter Jiwa Ungkap Penyebabnya
Menurut psikolog perkembangan Jeffrey Jensen Arnett (2000), usia 18–29 tahun sebagai fase emerging adulthood, yaitu masa ketika seseorang sedang membangun identitas, menentukan arah hidup, dan belajar menjadi pribadi yang mandiri. Pada fase ini, pengalaman menghadapi tantangan menjadi bagian penting dari proses pendewasaan.
Seseorang tidak tumbuh kuat karena selalu diselamatkan dari masalah, tetapi karena diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah. Pada sisi lain, Gen Z memasuki dunia kerja dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Menghadapi kompetisi yang lebih ketat, teknologi yang berubah cepat, serta biaya hidup yang semakin meningkat.
Laporan Deloitte Gen Z and Millennial Survey 2025 menunjukkan bahwa persoalan finansial menjadi salah satu tekanan utama generasi muda saat ini. Banyak Gen Z di berbagai negara merasa khawatir terhadap stabilitas ekonomi, keamanan pekerjaan, dan kemampuan mencapai kesejahteraan finansial.
Kondisi itu membuat sebagian anak muda masih membutuhkan dukungan lebih besar dari keluarga. Namun, rasa aman tidak boleh berubah menjadi ketergantungan. Dunia kerja tetap menuntut seseorang memiliki keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan sendiri.
Dalam wawancara kerja, perusahaan tidak hanya melihat apa yang tertulis dalam CV, tetapi juga bagaimana seseorang menjelaskan kemampuan, menunjukkan sikap profesional, dan menghadapi tekanan. Karena itulah, strategi yang tepat bukan memisahkan orang tua, tetapi mengubah pola relasi. Orang tua tetap hadir sebagai mentor, bukan pengambil keputusan.
Sebelum wawancara, orang tua boleh membantu latihan. Sebelum negosiasi gaji, orang tua boleh memberikan pandangan. Tetapi ketika pintu ruang interview terbuka, anak harus mampu masuk dengan keyakinannya sendiri. Perguruan tinggi juga memiliki peran penting. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan nilai akademik tinggi, tetapi harus melahirkan individu yang siap memasuki dunia profesional. Karena itu, mahasiswa harus dibekali kemampuan career readiness: komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, pemecahan masalah, dan kesiapan menghadapi dinamika pekerjaan.
Peter Senge (1990) melalui konsep learning organization menjelaskan bahwa kemampuan belajar dan beradaptasi merupakan kunci menghadapi perubahan. Prinsip ini relevan bagi Gen Z: mereka harus menjadi generasi yang tidak takut mencoba, tidak takut gagal, dan mampu belajar dari pengalaman.
Sebab, kegagalan dalam interview bukan akhir perjalanan. Ditolak perusahaan bukan berarti kehilangan masa depan. Justru dari proses tersebut seseorang belajar mengenali kemampuan dan memperbaiki diri.
Fenomena Gen Z membawa orang tua ke ruang interview layak untuk menjadi bahan refleksi bersama. Ini bukan untuk menghakimi generasi Z, tepatnya untuk memahami bahwa setiap zaman memiliki tantangannya berbeda. Orang tua tetap menjadi tempat pulang. Namun, anak harus belajar menjadi pribadi mandir yang siap melangkah.
Karena tujuan akhir pendidikan dan keluarga adalah menyiapkan manusia yang berdikari, meminjam istilah Bung Karno, yang suatu hari nanti mampu berdiri tegak dengan kemampuan dan keyakinannya sendiri, bukan membuat seseorang selalu ditemani dalam setiap langkahnya.
Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA
ADA fenomena yang terasa asing bagi generasi milenial dan baby boomers: anak muda datang ke kantor untuk wawancara kerja, tapi ada yang menemani, yaitu orang tua yang ikut mendampingi, memberi motivasi, bahkan dalam beberapa kasus ikut terlibat dalam proses komunikasi dengan perusahaan.
Fenomena ini menjadi perbincangan setelah muncul laporan bahwa sekitar 40 persen Gen Z pernah melibatkan orang tua dalam proses pencarian kerja, termasuk saat wawancara dan negosiasi gaji. Fenomena tersebut kemudian memunculkan pertanyaan besar: apakah Gen Z kehilangan kemandirian atau justru sedang menghadapi dunia kerja yang semakin penuh tekanan? Jawabannya tidak sederhana.
Melihat fenomena ini hanya dari sudut pandang “ anak muda tidak mandiri” tentu terlalu menyederhanakan persoalan. Di baliknya ada perubahan pola keluarga, tekanan ekonomi, dan tantangan dunia kerja yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Dukungan Orang Tua dan Tantangan Perubahan Dunia Kerja
Bagi kebanyakan keluarga, anak bukan sekadar individu yang harus dilepas begitu saja ketika dewasa. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak meraih masa depan terbaik. Setelah bertahun-tahun mendampingi pendidikan dan kehidupan anak, sangatlah beralasan jika sebagian orang tua masih ingin hadir ketika anak memasuki dunia kerja. Sebab pendampingan itu lahir dari kasih sayang. Namun, kasih sayang membutuhkan keseimbangan. Dukungan yang baik adalah ketika orang tua membantu anak mempersiapkan diri, bukan menggantikan anak menjalani prosesnya.Baca Juga: Gen Z Lebih Rentan Kena Mental di Dunia Kerja, Dokter Jiwa Ungkap Penyebabnya
Menurut psikolog perkembangan Jeffrey Jensen Arnett (2000), usia 18–29 tahun sebagai fase emerging adulthood, yaitu masa ketika seseorang sedang membangun identitas, menentukan arah hidup, dan belajar menjadi pribadi yang mandiri. Pada fase ini, pengalaman menghadapi tantangan menjadi bagian penting dari proses pendewasaan.
Seseorang tidak tumbuh kuat karena selalu diselamatkan dari masalah, tetapi karena diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah. Pada sisi lain, Gen Z memasuki dunia kerja dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Menghadapi kompetisi yang lebih ketat, teknologi yang berubah cepat, serta biaya hidup yang semakin meningkat.
Laporan Deloitte Gen Z and Millennial Survey 2025 menunjukkan bahwa persoalan finansial menjadi salah satu tekanan utama generasi muda saat ini. Banyak Gen Z di berbagai negara merasa khawatir terhadap stabilitas ekonomi, keamanan pekerjaan, dan kemampuan mencapai kesejahteraan finansial.
Kondisi itu membuat sebagian anak muda masih membutuhkan dukungan lebih besar dari keluarga. Namun, rasa aman tidak boleh berubah menjadi ketergantungan. Dunia kerja tetap menuntut seseorang memiliki keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan sendiri.
Membangun Gen Z yang Mandiri
Kemandirian bukan sesuatu yang bersifat instan dan otomatis muncul ketika seseorang memasuki usia dewasa. Kemandirian dibentuk melalui pengalaman. Gen Z perlu memahami bahwa dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik dan kecakapan teknologi. Dunia profesional memerlukan kemampuan berkomunikasi, membangun relasi, menerima kritik, menyelesaikan masalah, dan melakukan negosiasi.Dalam wawancara kerja, perusahaan tidak hanya melihat apa yang tertulis dalam CV, tetapi juga bagaimana seseorang menjelaskan kemampuan, menunjukkan sikap profesional, dan menghadapi tekanan. Karena itulah, strategi yang tepat bukan memisahkan orang tua, tetapi mengubah pola relasi. Orang tua tetap hadir sebagai mentor, bukan pengambil keputusan.
Sebelum wawancara, orang tua boleh membantu latihan. Sebelum negosiasi gaji, orang tua boleh memberikan pandangan. Tetapi ketika pintu ruang interview terbuka, anak harus mampu masuk dengan keyakinannya sendiri. Perguruan tinggi juga memiliki peran penting. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan nilai akademik tinggi, tetapi harus melahirkan individu yang siap memasuki dunia profesional. Karena itu, mahasiswa harus dibekali kemampuan career readiness: komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, pemecahan masalah, dan kesiapan menghadapi dinamika pekerjaan.
Peter Senge (1990) melalui konsep learning organization menjelaskan bahwa kemampuan belajar dan beradaptasi merupakan kunci menghadapi perubahan. Prinsip ini relevan bagi Gen Z: mereka harus menjadi generasi yang tidak takut mencoba, tidak takut gagal, dan mampu belajar dari pengalaman.
Sebab, kegagalan dalam interview bukan akhir perjalanan. Ditolak perusahaan bukan berarti kehilangan masa depan. Justru dari proses tersebut seseorang belajar mengenali kemampuan dan memperbaiki diri.
Fenomena Gen Z membawa orang tua ke ruang interview layak untuk menjadi bahan refleksi bersama. Ini bukan untuk menghakimi generasi Z, tepatnya untuk memahami bahwa setiap zaman memiliki tantangannya berbeda. Orang tua tetap menjadi tempat pulang. Namun, anak harus belajar menjadi pribadi mandir yang siap melangkah.
Karena tujuan akhir pendidikan dan keluarga adalah menyiapkan manusia yang berdikari, meminjam istilah Bung Karno, yang suatu hari nanti mampu berdiri tegak dengan kemampuan dan keyakinannya sendiri, bukan membuat seseorang selalu ditemani dalam setiap langkahnya.
(zik)
Lihat Juga :