Thucydides Trap: Antinomi China dan Amerika
Kamis, 21 Mei 2026 - 19:29 WIB
loading...
A
A
A
Begitulah wajah multiple suitable standard Washington. Sebagai bukti empiris yang lain, terlihat apa, kenapa dan bagaimana AS menekankan prinsip kedaulatan dan hukum internasional di Ukraine. Namun secara simultan memasok senjata besar ke Taiwan meski mengakui kebijakan “One China”.
AS juga menolak perubahan status quo dengan kekuatan, tapi juga membangun deterrence militer yang justru mengubah keseimbangan strategis. Ingat pula agresi brutal AS pada Venezuela. Sementara AS pun berbicara tentang stabilitas Indo-Pasifik, yang terangkai strategi multiple suitable standard dan chip war. Ini meningkatkan rasa tidak aman dan nyaman bagi Beijing.
Itu bukan inkonsistensi kebetulan. Tapi merupakan mekanisme hegemonik yang memproduksi dan menegakkan aturan sesuai kebutuhan sistem kekuasaan AS.
Kebijakan, regulasi dan standarisasi ini disesuaikan secara situasional demi kepentingan AS mempertahankan posisi dominannya. Salah satu wujudnya adalah pengertian dan kesadaran tentang stabilitas, perdamaian, perang dan kemanusiaan global yang diproduksi dan didominasi Washington.
Justru pada pendekatan konteks dan isi, AS konsisten saat kita merujuk Peace Through Strength pada dokumen National Defence Stratgey of US, Januari 2026. AS sepenuhnya sadar bahwa dirinya masih merupakan kekuatan militer, finansial, dan IT terbesar dunia. Namun, China kini punya sesuatu yang dulu belum mereka miliki: kepercayaan diri untuk berkata “tidak” kepada AS.
Dulu Washington terbiasa mendikte. Sekarang Beijing berani menetapkan syarat. Dulu China lebih banyak bertahan. Kini mereka aktif membangun pengaruh lewat perdagangan, teknologi, BRICS, hingga diplomasi global. Itu petanda muculnya multipolaritas yang akarnya bersumber pada penolakan strategi multiple suitable standard sebagai wujud munafik struktural. Jelas, hegemoni lama meluruh sementara yang baru belum mengemuka. Itulah faktanya.
Pada akhirnya, dunia sedang menyaksikan satu kenyataan baru: Amerika masih merasa sebagai raksasa tua. Lagi, China kini bukan lagi pengekor yang selalu tunduk pada penentu geopolitik, Washington. Beijing berani menutup pintu, menetapkan syarat, bahkan memainkan gengsi kekuasaan dengan percaya diri yang dulu tidak mereka miliki. Padahal Beijing hanya punya hulu ledak nuklir sekitar 600.
Memang sejarah mengajarkan, ketika dua kekuatan besar sama-sama merasa paling berhak memimpin dunia, yang lahir bukan hanya persaingan, melainkan potensi kekacauan global. Perang modern hari ini tidak selalu dimulai dengan peluru.
Ia bisa dimulai dari perang narasi, tarif, chip semikonduktor, data, propaganda digital, hingga perebutan pengaruh ekonomi yang diam-diam mencekik banyak negara. Ini gambaran perang peradaban yang Washington mulai sejak krisis keuangan ASEAN 1997/1998, war on terror 2001, Covid-19, dan agresi-agresi Washington lainnya.
Pada titik inilah dunia harus waspada. Sebab jika Amerika sulit menerima berakhirnya dominasi tunggalnya, sementara China makin agresif menunjukkan taring kebangkitannya, maka dunia sedang bergerak mencari multipolaritas baru yang jauh lebih rumit dan berbahaya dibanding pada masa lalu.
Apa yang terjadi hari ini sesungguhnya makin mendekati apa yang disebut Thucydides Trap. Yaitu ketika kekuatan lama takut kehilangan dominasi, sementara kekuatan baru merasa waktunya telah tiba. China kini tampil sebagai rising power yang semakin percaya diri, sedangkan Amerika tetap ingin bertahan sebagai ruling power yang tidak siap turun panggung.
Masalahnya, sejarah menunjukkan bahwa benturan dua kekuatan besar hampir selalu berujung konflik. Penyebabnya bukan semata karena ambisi pihak yang naik, tetapi juga karena kecemasan pihak yang mulai terancam. Saat masing-masing pihak cemas terancam, maka ketegangan akan berkesinambungan dan saling serang membuat siapapun menjadi tidak tenang.
Dan hari ini, dunia sedang berdiri tepat di titik paling berbahaya itu! Lalu, Indonesia berdiri di mana?
AS juga menolak perubahan status quo dengan kekuatan, tapi juga membangun deterrence militer yang justru mengubah keseimbangan strategis. Ingat pula agresi brutal AS pada Venezuela. Sementara AS pun berbicara tentang stabilitas Indo-Pasifik, yang terangkai strategi multiple suitable standard dan chip war. Ini meningkatkan rasa tidak aman dan nyaman bagi Beijing.
Itu bukan inkonsistensi kebetulan. Tapi merupakan mekanisme hegemonik yang memproduksi dan menegakkan aturan sesuai kebutuhan sistem kekuasaan AS.
Kebijakan, regulasi dan standarisasi ini disesuaikan secara situasional demi kepentingan AS mempertahankan posisi dominannya. Salah satu wujudnya adalah pengertian dan kesadaran tentang stabilitas, perdamaian, perang dan kemanusiaan global yang diproduksi dan didominasi Washington.
Justru pada pendekatan konteks dan isi, AS konsisten saat kita merujuk Peace Through Strength pada dokumen National Defence Stratgey of US, Januari 2026. AS sepenuhnya sadar bahwa dirinya masih merupakan kekuatan militer, finansial, dan IT terbesar dunia. Namun, China kini punya sesuatu yang dulu belum mereka miliki: kepercayaan diri untuk berkata “tidak” kepada AS.
Dulu Washington terbiasa mendikte. Sekarang Beijing berani menetapkan syarat. Dulu China lebih banyak bertahan. Kini mereka aktif membangun pengaruh lewat perdagangan, teknologi, BRICS, hingga diplomasi global. Itu petanda muculnya multipolaritas yang akarnya bersumber pada penolakan strategi multiple suitable standard sebagai wujud munafik struktural. Jelas, hegemoni lama meluruh sementara yang baru belum mengemuka. Itulah faktanya.
Pada akhirnya, dunia sedang menyaksikan satu kenyataan baru: Amerika masih merasa sebagai raksasa tua. Lagi, China kini bukan lagi pengekor yang selalu tunduk pada penentu geopolitik, Washington. Beijing berani menutup pintu, menetapkan syarat, bahkan memainkan gengsi kekuasaan dengan percaya diri yang dulu tidak mereka miliki. Padahal Beijing hanya punya hulu ledak nuklir sekitar 600.
Memang sejarah mengajarkan, ketika dua kekuatan besar sama-sama merasa paling berhak memimpin dunia, yang lahir bukan hanya persaingan, melainkan potensi kekacauan global. Perang modern hari ini tidak selalu dimulai dengan peluru.
Ia bisa dimulai dari perang narasi, tarif, chip semikonduktor, data, propaganda digital, hingga perebutan pengaruh ekonomi yang diam-diam mencekik banyak negara. Ini gambaran perang peradaban yang Washington mulai sejak krisis keuangan ASEAN 1997/1998, war on terror 2001, Covid-19, dan agresi-agresi Washington lainnya.
Pada titik inilah dunia harus waspada. Sebab jika Amerika sulit menerima berakhirnya dominasi tunggalnya, sementara China makin agresif menunjukkan taring kebangkitannya, maka dunia sedang bergerak mencari multipolaritas baru yang jauh lebih rumit dan berbahaya dibanding pada masa lalu.
Apa yang terjadi hari ini sesungguhnya makin mendekati apa yang disebut Thucydides Trap. Yaitu ketika kekuatan lama takut kehilangan dominasi, sementara kekuatan baru merasa waktunya telah tiba. China kini tampil sebagai rising power yang semakin percaya diri, sedangkan Amerika tetap ingin bertahan sebagai ruling power yang tidak siap turun panggung.
Masalahnya, sejarah menunjukkan bahwa benturan dua kekuatan besar hampir selalu berujung konflik. Penyebabnya bukan semata karena ambisi pihak yang naik, tetapi juga karena kecemasan pihak yang mulai terancam. Saat masing-masing pihak cemas terancam, maka ketegangan akan berkesinambungan dan saling serang membuat siapapun menjadi tidak tenang.
Dan hari ini, dunia sedang berdiri tepat di titik paling berbahaya itu! Lalu, Indonesia berdiri di mana?
(akr)
Lihat Juga :