Thucydides Trap: Antinomi China dan Amerika

Kamis, 21 Mei 2026 - 19:29 WIB
loading...
A A A
Jelas, kunjungan Trump ini sangat berpengaruh bagi stabilitas ekonomi dunia dan posisi hegemoni AS sendiri. Dan China sengaja "melunakkan" posisi administratifnya terhadap Rubio agar AS juga mau berkompromi dalam negosiasi ekonomi penting dan tarif yang dibawa oleh rombongan CEO Amerika.

Tetapi, satu hal yang nyata: hubungan AS - China berada dalam lingkup competitive coexistence. Di dalamnya terkandung penuh perebutan pengaruh. Kenapa demikian?

Mari kita lihat bagaimana China membatalkan pembicaraan dengan Elbridge Colby petinggi Departemen Perang sebagai lanjutan dari kunjungan Trump 13-15 Mei. Salah satu kesepakatan besar adalah China akan berunding tentang pembelian paket persenjataan oleh Taiwan dari AS sebesar USD14 miliar.

China tidak setuju atas penjualan ini. Saat Trump berada di Beijing, dia tidak mengambil keputusan setuju atau menolak permintaan China. Kesannya, Washington mengakui Satu China, tapi di sisi lain AS tetap mau menjual paket persenjataan militernya ke Taiwan.

Salah satu utusan perundingan lebih lanjut itu adalah Elbridge Colby yang dikenal sebagai arsitek pendekatan garis keras terhadap China. Colby menggenggam konsep strategi mengelak dan mengecoh, prioritas Indo-Pasifik, dan penguatan militer Taiwan.

Karena itu, penundaan perundingan lanjutan dan penolakan Beijing terhadap kehadiran Colby memiliki makna simbolik dan substantif. Jelas, Beijing menolak penuh militerisasi Taiwan karena melanggar prinsip Satu China, legitimasi kedulatan China atas Taiwan, dan derajat keamanan nasional China. Sikap Beijing menunjukkan paket senjata USD14 miliar masalah serius dan harus batal.

Belajar dari posisi hegemoninya meluruh sekaligus menjadi hegemon predator, Pentagon menggunakan pendekatan “respect, realism and clarity”. Tiga istilah ini merupakan diksi penting dalam geopolitik. Respect menunjukkan AS mengakui China tidak bisa lagi diperlakukan sebagai penguasa junior. Ini mendekati pengakuan de facto terhadap multipolaritas.

Sementara realism merujuk pada kesadaran AS bahwa berseberangan dengan sikap China berpotensi menimbulkan biaya sangat mahal. AS mengubah taktik dari upaya menundukkan China menjadi pengelolaan persaingan. AS dan China kemudian mengambil posisi rivalry dan competitive coexistence.

Sedangkan konsep clarity merupakan pedoman kejelasan atas batas-batas pertentangan dan pencegahan kesalahan pahaman militer dalam masalah Taiwan, Laut China Selatan, AI warfare, cyber, dan nuklir.

Karena itu dibutuhkan diplomasi lanjutan dengan mengutus Colby. Melalui diplomasi, AS ingin tetap mengendalikan kerusakan hubungan (damage control diplomacy).

Tujuannya agar penjualan senjata ke Taiwan tetap berjalan dan komunikasi AS-China tetap berlangsung. Di tangannya, AS ingin mengelola konfrontasi simultan dengan keterlibatannya pada Taiwan dan mencegah tekanan Beijing terhadap Taipei. Seperti biasa, AS memainkan multiple suitable standard.

Tapi China konsisten menolak legitimasi langkah AS di Taiwan. Toh jalur komunikasi tetap terbuka. Dalam konteks ini, konflik AS-China memang tajam. Karenanya kedua belah pihak menghindari strategic rupture total. Colby ditolak karena memaksakan penjualan paket persenjataan ke Taiwan.

Untuk paksaan ini, Beijing masih mau bicara dengan Washington. Catatan utamanya, tidak memposisikan Taiwan sebagai negara berdaulat, tapi sebagai bagian dari Satu China sehingga tidak menjual senjata. Tapi Washington bersikukuh untuk mempersenjatai Taiwan, beriringan dengan posisinya sebagai rival berpengaruh.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Airlangga Bertolak ke...
Airlangga Bertolak ke Shanghai Tanda Tangani Pendirian WAICO
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Satu Dekade Laut China...
Satu Dekade Laut China Selatan: Stabilitas Kawasan Ketimbang Kontestasi
UMKM Nasional Miliki...
UMKM Nasional Miliki Ketangguhan Hadapi Serbuan Produk China
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Dubes Wang Lutong Ungkap...
Dubes Wang Lutong Ungkap Purbaya Bakal ke China Pekan Depan, Bahas Apa?
Seorang Tentara AS Tewas...
Seorang Tentara AS Tewas di Irak Saat Buang Amunisi Drone Iran yang Jatuh
AS Tak Dapat Lindungi...
AS Tak Dapat Lindungi 50.000 Pasukannya di Timur Tengah dari Persenjataan Iran yang Besar
Militer Iran Gempur...
Militer Iran Gempur Sistem Rudal HIMARS AS di Kuwait
Rekomendasi
9 Kementerian dan Lembaga...
9 Kementerian dan Lembaga yang Buka Pendaftaran Sekolah Kedinasan 2026, Lulus Jadi CPNS
Dituding Egois, Jennifer...
Dituding Egois, Jennifer Coppen Ungkap Alasan Justin Hubner Lewatkan Final Piala Dunia
KKP Luncurkan Ocean...
KKP Luncurkan Ocean Institute of Indonesia, Enam Menteri Ikut Meresmikan
Berita Terkini
Roy Suryo: Rismon Tak...
Roy Suryo: Rismon Tak Layak Jadi Saksi di Kasus Ijazah Jokowi
Menteri Dody Ungkap...
Menteri Dody Ungkap Masalah Internal Kementerian PU Sangat Serius, Bongkar Berbagai Kasus termasuk Korupsi
OTT di Lombok Barat,...
OTT di Lombok Barat, KPK Sita Barang Bukti Rp9,06 Miliar
Kemendagri Kawal Penanganan...
Kemendagri Kawal Penanganan Tuberkulosis dalam RPJMD, RKPD, hingga APBD
Sangkal Isu Reshuffle,...
Sangkal Isu Reshuffle, Mensesneg: Evaluasi Tak Selalu Berujung Pergantian Menteri
Dukungan Publik Jadi...
Dukungan Publik Jadi Kunci Kejagung Tuntaskan Kasus Febrie Adriansyah
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved