28 Tahun Reformasi: Pengkhianatan dan Kakistokrasi
Minggu, 17 Mei 2026 - 07:59 WIB
loading...
A
A
A
Mereka seperti sengaja lupa bahwa mereka mendapat kue kekuasaan karena agenda reformasi politik, yaitu partai baru boleh berdiri dan melalui partai itulah mereka mendapat kue kekuasaan. Tetapi agenda penting reformasi lainya yang menjadi amanah reformasi tidak dijalankan. Bahkan ada episode elit politik secara sengaja melemahkan KPK dan merusak demokrasi pada tahun 2019, dan tahun 2024 hingga saat ini. Parahnya pengkhianatan itu berada pada tipe paling berbahaya yaitu tipe sosiopat, tidak merasa bersalah sama sekali ketika menghianati konsensus kolektif agenda reformasi 1998. Mereka menikmati kekuasaan, bahkan menjadikan kekuasaan sebagai instrumen untuk menumpuk kekayaan.
Secara geneologi konseptual istilah Kakistokrasi jika dilacak muncul pada abad ke-17 dalam karya Paul Gosnold berjudul A sermon Preached at the Publique Fast. Namun, penggunaan istilah ini secara lebih luas dalam politik sering dikaitkan dengan penyair Amerika James Russell Lowell pada tahun 1876. James Russell Lowell menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan ketakutan akan pemerintahan yang tidak kompeten.
Penulis sastra dari Italia yaitu Vittorio Alfieri juga pernah menggunakan kata kakistocrazia pada tahun 1797 untuk meratapi situasi politik saat itu. Namun James Russell Lowell sering dianggap yang mempopulerkannya dalam konteks politik modern.
Apakah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini memasuki episode Kakistokrasi ?
Jika secara geneologi pemikiran bahwa Kakistokrasi dipahami sebagai bentuk pemerintahan yang dijalankan oleh orang - orang yang tidak kompeten, tidak memiliii integritas, atau tidak memenuhi syarat moral, maka ada benarnya jika Indonesia sedang memasuki episode kakistokrasi. Pemikir kebhinekaan Sukidi (2026) dalam Forum Intelektual Antar Disiplin (FIAD) yang diselenggarakan di FK UI ketika diskusi mendalam bersama penulis dan kawan-kawan meyakini itulah yang terjadi di Indonesia saat ini.
Noah Smith Jurnalis The Washington post dalam opininya yang berjudul Trumpism is kakistocracy (2024) menjelaskan satu narasi penting penyebab terjadinya kakistokrasi yaitu a cult of personality prizes loyalty above competence. Kultus personal dan mengutamakan loyalitas diatas kompetensi. Bahkan mereka bersekongkol untuk menyingkirkan orang-orang yang kompeten.
Jika realitas seperti itu benar-benar terjadi di Indonesia maknanya kita benar-benar sedang memasuki episode gelap yang membutuhkan kehadiran kolektif pembawa cahaya, dan cahaya itu hadir dari api perlawanan terhadap rezim kakistokrasi.
Kakistokrasi
Dalam situasi dimana elit politik dan aktivis di lingkar kekuasaan menghianati agenda reformasi itu akan semakin parah jika rezim yang berkuasa memasuki episode yang dalam bahasa Yunani disebut kakistokrasi. Istilah ini berasal dari kata kakistos yang artinya terburuk dan kratos yang artinya kekuasaan. Suatu rezim di mana posisi penting dipegang oleh individu yang salah, tidak kompeten, seringkali menyebabkan kebijakan buruk, nepotis, korup, banyak merugikan publik dan menghadirkan ketidakstabilan.Secara geneologi konseptual istilah Kakistokrasi jika dilacak muncul pada abad ke-17 dalam karya Paul Gosnold berjudul A sermon Preached at the Publique Fast. Namun, penggunaan istilah ini secara lebih luas dalam politik sering dikaitkan dengan penyair Amerika James Russell Lowell pada tahun 1876. James Russell Lowell menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan ketakutan akan pemerintahan yang tidak kompeten.
Penulis sastra dari Italia yaitu Vittorio Alfieri juga pernah menggunakan kata kakistocrazia pada tahun 1797 untuk meratapi situasi politik saat itu. Namun James Russell Lowell sering dianggap yang mempopulerkannya dalam konteks politik modern.
Apakah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini memasuki episode Kakistokrasi ?
Jika secara geneologi pemikiran bahwa Kakistokrasi dipahami sebagai bentuk pemerintahan yang dijalankan oleh orang - orang yang tidak kompeten, tidak memiliii integritas, atau tidak memenuhi syarat moral, maka ada benarnya jika Indonesia sedang memasuki episode kakistokrasi. Pemikir kebhinekaan Sukidi (2026) dalam Forum Intelektual Antar Disiplin (FIAD) yang diselenggarakan di FK UI ketika diskusi mendalam bersama penulis dan kawan-kawan meyakini itulah yang terjadi di Indonesia saat ini.
Noah Smith Jurnalis The Washington post dalam opininya yang berjudul Trumpism is kakistocracy (2024) menjelaskan satu narasi penting penyebab terjadinya kakistokrasi yaitu a cult of personality prizes loyalty above competence. Kultus personal dan mengutamakan loyalitas diatas kompetensi. Bahkan mereka bersekongkol untuk menyingkirkan orang-orang yang kompeten.
Jika realitas seperti itu benar-benar terjadi di Indonesia maknanya kita benar-benar sedang memasuki episode gelap yang membutuhkan kehadiran kolektif pembawa cahaya, dan cahaya itu hadir dari api perlawanan terhadap rezim kakistokrasi.
(jon)
Lihat Juga :