Tujuh Langkah Memperbaiki Keuangan Pesantren
Jum'at, 15 Mei 2026 - 17:00 WIB
loading...
A
A
A
Berikan beasiswa kuliah ekonomi atau akuntansi syariah kepada santri terbaik. Atau kerja sama dengan perguruan tinggi untuk memberikan pelatihan manajemen keuangan bagi pengurus pondok. Dengan kesepakatan, setelah lulus, mereka harus mengabdi dulu di pesantren.
Model ini sudah diterapkan dan dikembangkan di Darunnajah. Beberapa pesantren mengirim alumni untuk belajar manajemen keuangan pesantren.
Setelah selesai Mereka pulang, lalu mengelola unit usaha pesantren. Hasilnya, sistem keuangan lebih rapi, dan pesantren tidak perlu mencari profesional dari luar yang belum tentu paham kultur.
Banyak pesantren takut transparan. Takut jika donatur tahu pemasukan banyak, lalu berhenti menyumbang. Ini pemikiran yang keliru. Donatur justru akan lebih percaya jika pesantren terbuka.
Transparansi tidak berarti semua informasi dibuka ke publik. Cukup laporan tahunan yang disampaikan kepada donatur tetap, alumni, dan wali santri. Berisi, pemasukan, pengeluaran, alokasi dana, dan capaian program.
Sidogiri menerbitkan laporan tahunan untuk anggota koperasi. Gontor melaporkan penggunaan wakaf secara berkala. Darunnajah juga demikian.
Hasilnya, kepercayaan publik meningkat, dan dana yang masuk justru lebih besar.
Kembali ke curhat para pengasuh pesantren di awal. Saya tidak bisa memberi solusi instan. Tidak ada pil ajaib yang bisa membuat keuangan pesantren sehat dalam semalam.
Tapi dengan tujuh langkah di atas, jika dilakukan konsisten, perlahan tapi pasti, metabolisme pesantren akan membaik. Uang tidak akan mangkrak. Surplus tidak akan menguap. Dan pesantren akan tetap hidup, melintasi generasi, melampaui zaman.
Karena pada akhirnya, pesantren yang mengelola keuangan dengan amanah adalah pesantren yang Allah berkahi. Bukan karena rumus matematika, tapi karena niat dan sistem yang berjalan beriringan.
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, konsultan pendidikan. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.
Model ini sudah diterapkan dan dikembangkan di Darunnajah. Beberapa pesantren mengirim alumni untuk belajar manajemen keuangan pesantren.
Setelah selesai Mereka pulang, lalu mengelola unit usaha pesantren. Hasilnya, sistem keuangan lebih rapi, dan pesantren tidak perlu mencari profesional dari luar yang belum tentu paham kultur.
Langkah Ketujuh: Bangun Transparansi Publik Terbatas
Banyak pesantren takut transparan. Takut jika donatur tahu pemasukan banyak, lalu berhenti menyumbang. Ini pemikiran yang keliru. Donatur justru akan lebih percaya jika pesantren terbuka.
Transparansi tidak berarti semua informasi dibuka ke publik. Cukup laporan tahunan yang disampaikan kepada donatur tetap, alumni, dan wali santri. Berisi, pemasukan, pengeluaran, alokasi dana, dan capaian program.
Sidogiri menerbitkan laporan tahunan untuk anggota koperasi. Gontor melaporkan penggunaan wakaf secara berkala. Darunnajah juga demikian.
Hasilnya, kepercayaan publik meningkat, dan dana yang masuk justru lebih besar.
Kembali ke curhat para pengasuh pesantren di awal. Saya tidak bisa memberi solusi instan. Tidak ada pil ajaib yang bisa membuat keuangan pesantren sehat dalam semalam.
Tapi dengan tujuh langkah di atas, jika dilakukan konsisten, perlahan tapi pasti, metabolisme pesantren akan membaik. Uang tidak akan mangkrak. Surplus tidak akan menguap. Dan pesantren akan tetap hidup, melintasi generasi, melampaui zaman.
Karena pada akhirnya, pesantren yang mengelola keuangan dengan amanah adalah pesantren yang Allah berkahi. Bukan karena rumus matematika, tapi karena niat dan sistem yang berjalan beriringan.
Muhammad Irfanudin Kurniawan, dosen Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, konsultan pendidikan. Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam: Dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.
(nnz)
Lihat Juga :