Kurikulum S3 Manajemen Pendidikan Islam: Membangun Organisme Ilmu yang Hidup
Rabu, 13 Mei 2026 - 14:30 WIB
loading...
A
A
A
Lapisan kedua adalah organ pendukung: Sejarah dan Kebijakan Pendidikan Islam di Indonesia, Pengembangan Kewirausahaan dan Filantropi, serta Teori dan Aplikasi Integrasi Ilmu Agama dan Umum.
Saya suka dengan usulan adanya mata kuliah kewirausahaan dan filantropi. Karena pesantren dan lembaga pendidikan Islam tidak bisa terus-menerus bergantung pada donatur. Mereka harus mandiri. Dan seorang doktor harus mampu merancang kemandirian itu.
Lapisan ketiga adalah sistem imun: Home Stay di luar negeri. Mahasiswa S3 diterjunkan ke lingkungan internasional. Mereka tinggal bersama keluarga asing, mengunjungi perpustakaan, bertemu pakar, membangun jaringan. Ini penting karena pendidikan Islam di Indonesia tidak bisa berjalan dalam isolasi. Ia harus terhubung dengan pusat-pusat keilmuan global.
Salah satu hal yang paling menarik adalah model pembelajaran yang diusulkan: DMMJ-L atau Deep learning, Mindful learning, Meaningful learning, Joyful learning.
Ini bukan sekadar jargon. Ia adalah upaya untuk menghidupkan proses belajar. Bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan kesadaran, makna, dan kegembiraan.
Model ini mengadopsi teori-teori Barat: Gestalt, Appersepsi Herbart, Reflective thinking John Dewey, Discovery learning Jerome Bruner, dan Inquiry training Richard Suchman. Tapi kemudian diadaptasi dengan nilai-nilai Islam: memadukan kekuatan panca indra, akal, hati nurani, dan hidayah Allah, sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Al-Nahl: 78 dan QS. Al-‘Alaq: 1-5.
Ini adalah bentuk integrasi ilmu yang sesungguhnya. Bukan sekadar menempelkan ayat pada teori Barat, tetapi menyaring, memilih, dan kemudian menyusun ulang menjadi kerangka yang utuh.
Yang terpenting, kurikulum ini dirancang untuk terus berkembang. Ada delapan hal yang harus diperhatikan: visi lembaga, kebutuhan stakeholder, hasil evaluasi, tantangan iptek, pandangan para pakar, kecenderungan globalisasi, kebijakan pemerintah, dan lain-lain.
Saya suka dengan usulan adanya mata kuliah kewirausahaan dan filantropi. Karena pesantren dan lembaga pendidikan Islam tidak bisa terus-menerus bergantung pada donatur. Mereka harus mandiri. Dan seorang doktor harus mampu merancang kemandirian itu.
Lapisan ketiga adalah sistem imun: Home Stay di luar negeri. Mahasiswa S3 diterjunkan ke lingkungan internasional. Mereka tinggal bersama keluarga asing, mengunjungi perpustakaan, bertemu pakar, membangun jaringan. Ini penting karena pendidikan Islam di Indonesia tidak bisa berjalan dalam isolasi. Ia harus terhubung dengan pusat-pusat keilmuan global.
Strategi Pembelajaran: DMMJ-L dan Ruh Belajar yang Hidup
Salah satu hal yang paling menarik adalah model pembelajaran yang diusulkan: DMMJ-L atau Deep learning, Mindful learning, Meaningful learning, Joyful learning.
Ini bukan sekadar jargon. Ia adalah upaya untuk menghidupkan proses belajar. Bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan kesadaran, makna, dan kegembiraan.
Model ini mengadopsi teori-teori Barat: Gestalt, Appersepsi Herbart, Reflective thinking John Dewey, Discovery learning Jerome Bruner, dan Inquiry training Richard Suchman. Tapi kemudian diadaptasi dengan nilai-nilai Islam: memadukan kekuatan panca indra, akal, hati nurani, dan hidayah Allah, sebagaimana diisyaratkan dalam QS. Al-Nahl: 78 dan QS. Al-‘Alaq: 1-5.
Ini adalah bentuk integrasi ilmu yang sesungguhnya. Bukan sekadar menempelkan ayat pada teori Barat, tetapi menyaring, memilih, dan kemudian menyusun ulang menjadi kerangka yang utuh.
Pengembangan Kurikulum: Organisme yang Tak Pernah Berhenti Tumbuh
Yang terpenting, kurikulum ini dirancang untuk terus berkembang. Ada delapan hal yang harus diperhatikan: visi lembaga, kebutuhan stakeholder, hasil evaluasi, tantangan iptek, pandangan para pakar, kecenderungan globalisasi, kebijakan pemerintah, dan lain-lain.
Lihat Juga :