Waspada Phishing: Belajar dari Konflik Siber Iran–Israel

Jum'at, 08 Mei 2026 - 16:59 WIB
loading...
Waspada Phishing: Belajar...
Ardi Arupa Kewangga, Pranata Humas BSSN dan Praktisi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta. Foto/istimewa
A A A
Ardi Arupa Kewangga
Pranata Humas BSSN dan Praktisi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta

PERNAH menerima pesan yang terlihat sangat penting dan mendesak? Misalnya, pesan dari bank yang meminta verifikasi akun, pesan dari kurir yang meminta kita membuka tautan pelacakan paket, atau pesan dari instansi resmi yang meminta kita segera mengisi data pribadi.

Sekilas, pesan seperti itu tampak wajar. Logonya terlihat resmi. Bahasanya meyakinkan. Bahkan, kadang pesannya datang pada saat yang sangat tepat: ketika kita sedang menunggu paket, sedang panik, atau sedang membutuhkan informasi cepat.

Di titik itulah phishing bekerja.

Phishing bukan sekadar penipuan digital biasa. Ia adalah bentuk rekayasa sosial yang memanfaatkan kepercayaan, ketakutan, kepanikan, dan kebiasaan manusia untuk bertindak cepat tanpa berpikir panjang. NIST menjelaskan phishing sebagai upaya memperoleh data sensitif melalui pesan atau situs palsu yang menyamar sebagai pihak sah atau tepercaya (NIST, 2017).

Masalahnya, di era sekarang, phishing tidak hanya muncul dalam bentuk email mencurigakan. Ia bisa datang lewat SMS, WhatsApp, media sosial, aplikasi palsu, QR code, bahkan pesan yang mengatasnamakan situasi darurat.

Phishing Menyerang Pikiran Sebelum Menyerang Perangkat

Selama ini, banyak orang mengira keamanan siber hanya urusan teknologi: antivirus, firewall, kata sandi kuat, atau autentikasi dua faktor. Semua itu memang penting. Namun, phishing memperlihatkan bahwa titik lemah terbesar sering kali bukan perangkat, melainkan cara kita mengambil keputusan.

Pelaku phishing tidak selalu perlu meretas sistem yang rumit. Kadang mereka hanya perlu membuat pesan yang cukup meyakinkan agar korban mau mengklik tautan, mengunduh aplikasi, memasukkan password, atau membagikan kode OTP.

Dalam perang siber, pola ini semakin jelas. Ketika masyarakat sedang cemas akibat konflik, pesan palsu bisa terasa seperti penyelamat. Ketika warga membutuhkan informasi tempat perlindungan, tautan berbahaya bisa menyamar sebagai aplikasi darurat. Ketika publik sedang mengikuti berita perang, disinformasi dan konten manipulatif bisa menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi.

Sophos mencatat bahwa dalam eskalasi konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran, aktivitas hacktivist meningkat di berbagai platform, termasuk Telegram, X, dan forum bawah tanah. Banyak klaim serangan berupa defacement, DDoS, dan doxxing, meskipun sebagian klaim perlu diperlakukan hati-hati karena belum tentu terverifikasi (Sophos, 2026).

Artinya, ruang digital sekarang bukan hanya tempat orang mencari informasi. Ia juga menjadi medan pengaruh, manipulasi, dan penipuan.

Belajar dari Perang Iran vs Israel
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Audit Media Sosial:...
Audit Media Sosial: Langkah Penting yang Sering Kita Lupakan
Badan Siber PP GP Ansor...
Badan Siber PP GP Ansor Kritik Ketertutupan Pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber
Pemerintah Ajukan RUU...
Pemerintah Ajukan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber ke DPR, Atur Mekanisme Penyidikan dan Sanksi
Polri Tangkap Buronan...
Polri Tangkap Buronan Kasus Online Scam Paling Dicari Asal China
Marak Tuntutan Tebusan,...
Marak Tuntutan Tebusan, Serangan Pelumpuhan Website di Indonesia Melonjak 62%
Nurul Arifin Sebut Akun...
Nurul Arifin Sebut Akun Medsos Wajib Pakai Nomor HP Bisa Jadi Tameng Indonesia Lawan Kejahatan Siber
Aset Kripto Rp18 Triliun...
Aset Kripto Rp18 Triliun Lenyap Diretas, AI Bisa Jadi Andalan Keamanan Baru
Lindungi Bursa Saham...
Lindungi Bursa Saham dari Ancaman Siber, ADIGSI Gandeng APEI
Perkuat Keamanan Digital...
Perkuat Keamanan Digital di Era Cloud dan AI, BDO di Indonesia Tekankan Pentingnya Ketahanan Siber
Rekomendasi
Sinopsis Terlanjur Mencintaimu...
Sinopsis 'Terlanjur Mencintaimu' Eps 8 Arumi Mendapatkan Kerja dan Makin Dibenci Elio
Buka Peluang Cuan Baru,...
Buka Peluang Cuan Baru, POJ dan TOP Kolaborasi Tambah Armada Ride-Hailing
Rahasia Benda Misterius...
Rahasia Benda Misterius Mas Den Mulai Terbongkar, Penerawangan Ki Atmo dan Tim Bikin Merinding
Berita Terkini
Bupati Sukoharjo Etik...
Bupati Sukoharjo Etik Suryani Ditangkap KPK, PDIP Dukung Proses Hukum Berkeadilan
Prabowo: Banyak yang...
Prabowo: Banyak yang Nyusup ke MBG untuk Jadi Maling
Prabowo Minta Aparat...
Prabowo Minta Aparat Introspeksi Diri: Rakyat Tak Ingin Korupsi Dibiarkan!
Senapan Tentara Arab...
Senapan Tentara Arab Saudi Bakal Diproduksi PT Pindad, Prabowo: Senjata Kita Teruji
Polri Harus Bongkar...
Polri Harus Bongkar Aktor Intelektual dan Korporasi Dugaan Korupsi Batu Bara
Prosesi Militer Iringi...
Prosesi Militer Iringi Pemakaman Rachmat Gobel di TMP Kalibata
Infografis
Rp603 Triliun Milik...
Rp603 Triliun Milik Amerika Serikat Habis Terbakar di Langit Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved