Ketika Ijazah Tenggelam dalam 'Satelit-Satelit Isu'

Jum'at, 08 Mei 2026 - 06:16 WIB
loading...
Ketika Ijazah Tenggelam...
Ramdansyah, Praktisi Hukum Tifa – Roy’s Advocate & Ketua Bidang di Majelis Nasional Kahmi. Foto: Istimewa
A A A
Ramdansyah
Praktisi Hukum Tifa – Roy’s Advocate & Ketua Bidang di Majelis Nasional Kahmi

Tribute to Jusuf Kalla


Di tengah ruang publik yang semakin gaduh, polemik dugaan ijazah Mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo sesungguhnya telah bergerak jauh melampaui persoalan autentisitas dokumen. Yang semula tampak sebagai isu administratif kini berkembang menjadi pertarungan untuk menentukan apa yang layak disebut sebagai persoalan utama dan apa yang sekadar gangguan periferi.

Fenomena itu melahirkan apa yang dapat disebut sebagai “satelit-satelit isu”: rangkaian polemik turunan yang terus mengelilingi persoalan utama, tetapi justru menjauhkan publik dari substansi pokoknya. Akibatnya, perhatian masyarakat terseret ke dalam konflik identitas, perang sentimen, rumor personal, hingga kegaduhan media sosial yang tidak pernah benar-benar menyentuh inti masalah.

Padahal, pokok persoalannya sesungguhnya sederhana: dapatkah polemik tersebut diselesaikan secara terbuka, transparan, dan meyakinkan publik? Namun, ruang publik Indonesia justru bergerak ke arah sebaliknya. Demokrasi tidak lagi bekerja sebagai arena pencarian kebenaran, melainkan arena perebutan perhatian.

Dalam situasi demikian, yang menentukan bukan lagi siapa yang memiliki argumentasi paling kuat, melainkan siapa yang paling mampu menguasai fokus publik. Substansi dikalahkan sensasi. Fakta tenggelam oleh viralitas. Politik akhirnya berubah menjadi kompetisi untuk mengendalikan emosi massa.

Politik Pengalihan Perhatian


Pernyataan Jusuf Kalla yang meminta agar polemik ijazah diselesaikan secara terbuka sebenarnya merupakan upaya mengembalikan persoalan pada substansi. JK menyatakan bahwa apabila ijazah asli memang ada, maka polemik itu dapat diselesaikan dengan menunjukkan dokumen tersebut secara terbuka kepada publik.

Namun, respons yang muncul justru bergerak keluar konteks. Tuduhan bahwa JK mendanai pihak tertentu, penyebaran potongan ceramah agama di Universitas Gajah Mada (UGM) tanpa konteks, hingga laporan dugaan penistaan agama berubah menjadi isu baru yang menggeser perhatian publik dari pertanyaan utama. Di titik inilah politik pengalihan perhatian bekerja secara efektif.

Fenomena semacam itu sesungguhnya bukan hal baru dalam politik modern. Dalam teori agenda setting, John W. Kingdon (2011) menjelaskan bahwa politik pada dasarnya adalah perebutan untuk menentukan isu mana yang layak memperoleh perhatian publik. Tidak semua persoalan diperlakukan sama; sebagian isu diperbesar, sementara sebagian lain dipinggirkan.

Karena itu, ketika isu verifikasi dokumen bergeser menjadi polemik agama dan penyerangan personal, yang bekerja bukan semata dinamika hukum, melainkan juga mekanisme politik untuk membentuk arah perhatian masyarakat.

Logika media sosial memperparah keadaan tersebut. Dalam ruang digital, viralitas jauh lebih cepat bekerja dibanding argumentasi rasional. Potongan video JK lebih mudah menyebar dibanding klarifikasi utuh mantan Wakil Presiden ini. Emosi lebih efektif memobilisasi massa dibanding penjelasan substantif. Akibatnya, ruang publik bergerak bukan berdasarkan pencarian kebenaran, melainkan kompetisi sentimen.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Relawan Jokowi Sebut...
Relawan Jokowi Sebut Tudingan Roy Suryo Cs Soal Ijazah Jokowi Menguras Energi
Rupiah, IHSG, dan Krisis...
Rupiah, IHSG, dan Krisis Kepercayaan
PP 20/2026: Menambah...
PP 20/2026: Menambah Penerimaan Negara atau Menambah Beban UMKM?
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Segera Disidang, Ini Respons Pengacara Jokowi
Ujian Kapasitas Negara,...
Ujian Kapasitas Negara, Bukan Sekadar Kasus Korupsi
Kasus Tudingan Ijazah...
Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi Segera Disidang, Roy Suryo: Kayaknya Ini Didorong Termul yang Ngamuk
Kasus Ijazah Palsu Jokowi...
Kasus Ijazah Palsu Jokowi Janggal, Troya Minta Kejati DKI Kembalikan SPDP ke Polisi
Jelang P21 Kasus Roy...
Jelang P21 Kasus Roy Suryo Cs, Polda Metro Masih Tunggu Penelitian Berkas dari Kejaksaan
Rekomendasi
Dilarang Sering Gendong...
Dilarang Sering Gendong Baby Soleil, Alyssa Daguise Bantah Mitos Bayi Bau Tangan
2 WNA Ditemukan Tewas...
2 WNA Ditemukan Tewas di Apartemen Jakbar
Bos NATO: Ukraina Menang...
Bos NATO: Ukraina Menang Perang, Rusia Semakin Putus Asa!
Berita Terkini
KPK Segel Rumah Wamen...
KPK Segel Rumah Wamen Imipas Silmy Karim
Dadan Hindayana Cs Tersangka...
Dadan Hindayana Cs Tersangka Korupsi, Politikus PDIP Sebut Bolak-balik Singgung Kelemahan Tata Kelola MBG
Wamen Imipas Silmy Karim...
Wamen Imipas Silmy Karim Tersangka Kasus Pemerasan Ratusan Miliar
Silmy Karim dan 7 Orang...
Silmy Karim dan 7 Orang Ditetapkan Tersangka Kasus Pengurusan Dokumen Keimigrasian
Silmy Karim Ditahan...
Silmy Karim Ditahan KPK, Jabatan Wamen Imipas Segera Dicopot?
Silmy Karim dan Dadan...
Silmy Karim dan Dadan Hindayana Terjerat Korupsi, Istana Hormati Proses Hukum
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved