Membaca Iran, Mengingat Pesantren

Rabu, 15 April 2026 - 16:37 WIB
loading...
A A A
Tapi jangan lupa, prosesnya berbeda. Islam masuk ke Persia melalui penaklukan. Ada yang terbunuh, ada kitab yang dibakar. Sementara Islam masuk ke Nusantara lewat dagang dan dakwah yang damai. Jadi kalau kita bilang "sama-sama tangguh", itu benar. Tapi kalau kita bilang "sama persis", itu keliru.

Yang Beda: Proyek Identitas yang Tak Sejalan


Kita juga sering dengar cerita bagaimana Iran bisa menjadi negara Syiah. Itu bukan kebetulan. Dinasti Safawi, sekitar abad ke-16, sengaja menjadikan Syiah sebagai mazhab negara. Mereka mengirim pasukan, memaksa rakyat, dan mengundang ulama dari luar. Butuh tiga abad sampai mayoritas penduduk Iran benar-benar Syiah.

Sekarang, bayangkan pesantren melakukan hal seperti itu. Gak mungkin. Pesantren tidak punya tentara. Pesantren tidak punya kekuasaan negara. Pesantren mengajarkan agama lewat dakwah, bukan lewat pedang.

Jadi ketika saya membaca ada yang menyamakan "proyek identitas" Safawi dengan pesantren modern seperti Gontor, saya geleng-geleng. Gontor memang punya proyek membangun sistem pendidikan yang khas. Tapi itu lahir dari kesadaran masyarakat, bukan dari paksaan. Gontor menerima santri dari mana saja, tanpa memaksa mereka jadi apa pun.

Jadi hati-hati dengan analogi. Kadang mirip di permukaan, tapi dalamnya berbeda.

Hauzah dan Pesantren: Dua Saudara yang Tak Kembar


Satu hal yang paling mengesankan dari Iran adalah ketahanan lembaga pendidikan mereka, Hauzah. Sudah ribuan tahun, Hauzah di Najaf dan Qom terus mencetak ulama. Ketika revolusi datang, ketika perang terjadi, ketika sanksi mencekik, Hauzah tetap jalan. Ia seperti "bank gen" yang menjaga nilai-nilai tetap hidup.

Nah, di Indonesia kita punya pesantren. Fungsinya mirip: mencetak kader, menjaga tradisi, menjadi rujukan masyarakat. Tapi sistemnya berbeda.

Hauzah punya hierarki yang jelas dan terpusat. Ulama tertinggi punya otoritas besar, bahkan dalam politik. Sementara pesantren kita lebih cair. Ada kiai yang disegani, tapi tidak ada satu pusat komando. Keputusan diambil lewat musyawarah, bukan perintah dari atas.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
4th ICOP Darunnajah...
4th ICOP Darunnajah Bersama Menteri ATR/BPN, Pesantren Siap Pimpin Optimalisasi Wakaf Nasional
Pesantren dan AI, Cucun...
Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
Darunnajah Gelar 4th...
Darunnajah Gelar 4th ICOP Bersama Menteri ATR/BPN, Siap Optimalisasi Wakaf Nasional
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
PBNU: Segelintir Kasus...
PBNU: Segelintir Kasus Kekerasan Seksual Tak Mewakili Wajah Pesantren
Mengapa Negara-negara...
Mengapa Negara-negara Arab Khawatir Kesepakatan Iran Jadi Titik Balik yang Membawa Bencana?
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
AS dan Israel Jadi Sumber...
AS dan Israel Jadi Sumber Kerusakan, Iran Serukan Tatanan Baru Negara Islam
Rekomendasi
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Sering Dibully karena...
Sering Dibully karena Kondisi Fisiknya, Debi Ceper Mengaku Tak Pernah Sakit Hati
Berita Terkini
Didakwa Terima Suap...
Didakwa Terima Suap Rp4,8 Miliar, Hery Susanto Tak Ajukan Eksepsi
Jaksa Ungkap Nama Samaran...
Jaksa Ungkap Nama Samaran Hery Susanto, Ada John Lennon 07 hingga Komandante
3 Fakta Terbaru Kasus...
3 Fakta Terbaru Kasus Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Batal Ajukan Gugatan Praperadilan
Singgung Perbedaan Pandangan,...
Singgung Perbedaan Pandangan, Dudung Ajak Purnawirawan TNI-Polri Jaga Persatuan
Gita Wirjawan: Integritas...
Gita Wirjawan: Integritas Harus Jadi Prioritas Memilih Pemimpin
KPK Periksa Eks Sekjen...
KPK Periksa Eks Sekjen MPR Ma'ruf Cahyono sebagai Tersangka Kasus Gratifikasi
Infografis
Rp603 Triliun Milik...
Rp603 Triliun Milik Amerika Serikat Habis Terbakar di Langit Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved