AMSI Ungkap Fenomena AI Crawler Jadi Tekanan Baru Industri Media
Minggu, 12 April 2026 - 16:23 WIB
loading...
Ketua AMSI Wahyu Dhyatmika menyoroti dampak kecerdasan buatan (AI) khususnya crawler yang kian menekan industri media dari sisi bisnis hingga distribusi konten, di Jakarta pada Minggu (12/4/2026). Foto/Yuwantoro Winduajie
A
A
A
JAKARTA - Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika menyoroti dampak kecerdasan buatan (AI) khususnya crawler dan bot yang kian menekan industri media dari sisi bisnis hingga distribusi konten. Hal itu disampaikan dalam talkshow “Babak Belur Industri Media: Masihkah Jurnalisme Dibutuhkan?” pada Pesta Media AJI Jakarta 2026 di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Minggu (12/4/2026).
Wahyu menjelaskan, dalam setahun terakhir industri media menghadapi tekanan baru akibat aktivitas AI crawler yang menyedot konten dari situs media.
Baca juga: Hadapi Era AI dan Disrupsi Teknologi, Media Harus Cepat Beradaptasi
“Salah satunya yang terlihat di sisi kami di publisher adalah turunnya page views secara drastis. Jadi hampir separuh dari page views media itu hilang di 2025 kemarin, setahun terakhir. Pada saat yang sama, kita juga melihat ada lonjakan pengguna yang bukan manusia. Jadi crawler atau bots AI itu makin banyak beroperasi mengambil konten yang ada di website-website publisher," ungkapnya.
Ia menyebut kondisi ini sebagai double squeeze, yakni tekanan ganda yang menghantam bisnis media. Menurutnya, bot tersebut menyamar sebagai pengguna biasa sehingga tetap membebani server yang dikelola media.
“Karena bots itu kan menyatu seperti visitors. Jadi setiap kali halaman terbuka, ada load server kami yang harus bekerja dan itu ada biayanya. Jadi di satu sisi biayanya bertumbuh, di sisi lain pendapatannya berkurang," paparnya.
Baca juga: Deklarasi Pers Nasional 2026, Nomor 6 Mendesak Platform AI Beri Kompensasi Wajar dan Adil atas Karya Jurnalistik
Ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap media sebenarnya sudah terjadi sejak disrupsi digital, namun kehadiran AI memperparah situasi. Menurut dia, pergeseran konsumsi informasi sejak akhir 2024 hingga 2025 membuat kondisi industri semakin tidak stabil.
Selain itu, ia mengatakan maraknya AI juga memicu banjir informasi yang sulit diverifikasi, sehingga menggerus konteks dan kepercayaan publik terhadap informasi.
Wahyu menambahkan, dalam ekosistem informasi saat ini banyak konten beredar tanpa pertanggungjawaban yang jelas. Karena itu, peran jurnalis tetap dibutuhkan untuk memastikan proses verifikasi dan akurasi informasi.
“Di situ butuh personality, butuh tokoh, butuh orang, butuh jurnalis," katanya.
Wahyu mendorong media beralih ke model bisnis berbasis pembaca agar dapat membangun hubungan langsung dengan audiens sekaligus mengurangi ketergantungan pada platform. Ia juga menekankan perlunya regulasi agar platform AI tidak mengambil konten media tanpa kompensasi.
Menurutnya, ke depan produk jurnalistik tidak hanya berhenti sebagai artikel, tetapi dapat menjadi data yang bernilai dan dilisensikan ke platform AI. Menurut Wahyu, di tengah banjir informasi, kepercayaan menjadi elemen paling krusial.
“Jadi kalau kita lihat, trust itu bukan hanya reputasi tapi trust itu adalah infrastruktur," katanya.
Wahyu menjelaskan, dalam setahun terakhir industri media menghadapi tekanan baru akibat aktivitas AI crawler yang menyedot konten dari situs media.
Baca juga: Hadapi Era AI dan Disrupsi Teknologi, Media Harus Cepat Beradaptasi
“Salah satunya yang terlihat di sisi kami di publisher adalah turunnya page views secara drastis. Jadi hampir separuh dari page views media itu hilang di 2025 kemarin, setahun terakhir. Pada saat yang sama, kita juga melihat ada lonjakan pengguna yang bukan manusia. Jadi crawler atau bots AI itu makin banyak beroperasi mengambil konten yang ada di website-website publisher," ungkapnya.
Ia menyebut kondisi ini sebagai double squeeze, yakni tekanan ganda yang menghantam bisnis media. Menurutnya, bot tersebut menyamar sebagai pengguna biasa sehingga tetap membebani server yang dikelola media.
“Karena bots itu kan menyatu seperti visitors. Jadi setiap kali halaman terbuka, ada load server kami yang harus bekerja dan itu ada biayanya. Jadi di satu sisi biayanya bertumbuh, di sisi lain pendapatannya berkurang," paparnya.
Baca juga: Deklarasi Pers Nasional 2026, Nomor 6 Mendesak Platform AI Beri Kompensasi Wajar dan Adil atas Karya Jurnalistik
Ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap media sebenarnya sudah terjadi sejak disrupsi digital, namun kehadiran AI memperparah situasi. Menurut dia, pergeseran konsumsi informasi sejak akhir 2024 hingga 2025 membuat kondisi industri semakin tidak stabil.
Selain itu, ia mengatakan maraknya AI juga memicu banjir informasi yang sulit diverifikasi, sehingga menggerus konteks dan kepercayaan publik terhadap informasi.
Wahyu menambahkan, dalam ekosistem informasi saat ini banyak konten beredar tanpa pertanggungjawaban yang jelas. Karena itu, peran jurnalis tetap dibutuhkan untuk memastikan proses verifikasi dan akurasi informasi.
“Di situ butuh personality, butuh tokoh, butuh orang, butuh jurnalis," katanya.
Wahyu mendorong media beralih ke model bisnis berbasis pembaca agar dapat membangun hubungan langsung dengan audiens sekaligus mengurangi ketergantungan pada platform. Ia juga menekankan perlunya regulasi agar platform AI tidak mengambil konten media tanpa kompensasi.
Menurutnya, ke depan produk jurnalistik tidak hanya berhenti sebagai artikel, tetapi dapat menjadi data yang bernilai dan dilisensikan ke platform AI. Menurut Wahyu, di tengah banjir informasi, kepercayaan menjadi elemen paling krusial.
“Jadi kalau kita lihat, trust itu bukan hanya reputasi tapi trust itu adalah infrastruktur," katanya.
(shf)
Lihat Juga :