Algoritma, Air Mata, dan Dunia Islam: Siapa Mengendalikan Narasi di Era AI?

Rabu, 01 April 2026 - 14:10 WIB
loading...
Algoritma, Air Mata,...
Tutik Lestari, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Darunnajah. Foto/UDN Jakarta.
A A A
Tutik Lestari, S.Si., M.Kom., CDA, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Darunnajah

Ketika konflik memanas, teknologi tak lagi netral—ia memilih yang terbanyak, menyaring, dan membentuk realitas. Begitulah narasi yang saat ini terjadi, kontras sekali dengan syair dulu dari jaman sahabat nabi Baginda Rosulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.

“Kebenaran itu tidak diukur dari banyaknya pengikut, tetapi dari kejelasan bukti.”
Umar bin Khattab

Realitas yang Tak Lagi Sama


Dalam beberapa hari terakhir, dunia kembali disuguhi eskalasi isu di berbagai wilayah dunia Islam—mulai dari konflik geopolitik, krisis kemanusiaan, hingga ketegangan identitas di ruang publik digital. Namun ada satu hal yang kini berbeda dari satu dekade lalu: kita tidak lagi hanya menyaksikan realitas, kita mengonsumsinya melalui algoritma.

Apa yang kita lihat di layar bukan sekadar fakta, melainkan hasil kurasi mesin. Video yang viral, narasi yang menguat, bahkan emosi kolektif, semuanya melewati “filter tak terlihat” bernama teknologi. Di sinilah pertanyaan penting muncul: apakah dunia Islam hari ini sedang berjuang di medan nyata, atau juga di medan algoritmik yang jauh lebih kompleks?

Dunia Islam di Tengah Bisingnya Informasi


Perkembangan situasi global yang melibatkan negara-negara mayoritas Muslim dalam sepekan terakhir memperlihatkan pola yang berulang: konflik di lapangan selalu diikuti oleh “perang narasi” di dunia digital. Media sosial seperti X (Twitter), TikTok, dan Instagram dipenuhi oleh potongan video, opini publik, dan klaim yang sering kali sulit diverifikasi.

Data dari berbagai laporan global menunjukkan bahwa lebih dari 60% masyarakat dunia kini mendapatkan informasi utama mereka dari media sosial. Di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan, angka ini bahkan bisa lebih tinggi. Ini berarti, persepsi publik tentang dunia Islam tidak lagi sepenuhnya dibentuk oleh media konvensional, melainkan oleh algoritma dan user-generated content.

Masalahnya, algoritma tidak dirancang untuk kebenaran—melainkan untuk keterlibatan (engagement). Konten yang memicu emosi, kemarahan, atau simpati ekstrem cenderung lebih cepat menyebar. Dalam konteks konflik, ini menciptakan distorsi realitas yang berbahaya.

AI, Media Sosial, dan Geopolitik Digital

1. Algoritma sebagai “Editor Tak Terlihat”

Teknologi AI yang digunakan oleh platform digital bekerja dengan prinsip prediksi: konten apa yang paling mungkin membuat pengguna bertahan lebih lama. Dalam situasi konflik di dunia Islam, ini berarti konten yang dramatis, provokatif, atau bahkan manipulatif memiliki peluang lebih besar untuk viral.

Contoh konkret dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bagaimana video lama dari konflik berbeda bisa kembali beredar dengan narasi baru. AI tidak memverifikasi konteks—ia hanya mengoptimalkan distribusi. Akibatnya, publik global sering kali bereaksi terhadap “realitas yang sudah direkayasa”.

2. Disinformasi sebagai Senjata Baru


Disinformasi bukan fenomena baru, tetapi dengan AI generatif, skalanya meningkat drastis. Deepfake, voice cloning, dan manipulasi visual kini dapat diproduksi dengan biaya rendah dan kecepatan tinggi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sulhu dan Islah: Sebuah...
Sulhu dan Islah: Sebuah Refleksi
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
Masalah Hukum Penggunaan...
Masalah Hukum Penggunaan Artificial Intelligence
4th ICOP Darunnajah...
4th ICOP Darunnajah Bersama Menteri ATR/BPN, Pesantren Siap Pimpin Optimalisasi Wakaf Nasional
Darunnajah Gelar 4th...
Darunnajah Gelar 4th ICOP Bersama Menteri ATR/BPN, Siap Optimalisasi Wakaf Nasional
Mengenal Gareth Morgan:...
Mengenal Gareth Morgan: di Balik Metafora Organisme Pesantren
Siapa yang Akan Menguasai...
Siapa yang Akan Menguasai Pasar AI Indonesia Senilai $10,9 Miliar?
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Rekomendasi
Gen Z Berekspresi, 510...
Gen Z Berekspresi, 510 STUDIOS Bawa Tren Self-Photo ke Lampung Selatan
Sukun Disebut Superfood...
Sukun Disebut Superfood Lokal Indonesia, Guru Besar IPB Beberkan Keunggulannya
Modernisasi Infrastruktur...
Modernisasi Infrastruktur TI Kunci Efisiensi dan Ketahanan Bisnis di Era Digital
Berita Terkini
PDIP: Tingginya Biaya...
PDIP: Tingginya Biaya Politik Tuntas dengan Perbaikan Regulasi, Bukan Pilkada Tak Langsung
Diperiksa Kemendagri...
Diperiksa Kemendagri 8 Jam soal Konten Lagunya, Bupati Purwakarta Minta Maaf dan Akui Salah
KPK Tetapkan Bupati...
KPK Tetapkan Bupati Langkat Tersangka Kasus Dugaan Suap
Tingginya Kasus Kanker...
Tingginya Kasus Kanker Paru: Tantangan Skrining, Diagnosis, hingga Akses Terapi
Andi Azwan: Sikap Roy...
Andi Azwan: Sikap Roy Suryo Tempuh Praperadilan Tindakan Pengecut
Tegaskan MBG Lanjut...
Tegaskan MBG Lanjut Terus, Hashim: Tak Berhenti sampai Berhasil
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved