Masa Depan Iran di bawah Kepemimpinan Garda Revolusi (IRGC)
Senin, 30 Maret 2026 - 16:34 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, Larijani memainkan peran penting sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, yang menjadi penyeimbang dan mampu berbicara dalam bahasa ideologi sekaligus diplomasi. Dia adalah produk khas Iran modern yang komplit. Mantan komandan Garda Revolusi, yang juga doktor filsafat Barat, negosiator nuklir yang memahami cara kerja Washington, politisi yang tetap setia pada sistem, namun,memahami bahwa Iran tidak bisa hidup hanya dari retorika revolusi. Kematiannya tampaknya meninggalkan ruang yang tidak bisa diisi oleh Mojtaba atau para jenderal IRGC, yang masih memerlukan arahan di tengah badai perang.
Apa artinya ini bagi masa depan Iran?
Pertama, Iran akan menjadi lebih sulit ditebak. Bukan karena ia menjadi lebih radikal secara ideologis, namun, karena struktur pengambilan keputusan akan semakin tidak jelas. Dalam sistem sebelumnya, paling tidak ada satu orang yang menjadi titik akhir setiap perdebatan, pada diri Khamenei dan selanjutnya Larijani. Kini, keputusan akan lahir dari konsensus di antara para jenderal IRGC, yang tak terlatih untuk berpikir dalam kerangka diplomasi dan negosiasi, kecuali pembalasan dendam.
Kedua, strategi regional Iran akan mengandalkan strategi asimetrik melalui proksi, operasi siber, dan gangguan terhadap jalur pelayaran akan meningkat karena ini adalah cara berperang yang tak membutuhkan legitimasi publik yang kuat. Juga, Iran menggunakan strategi atrisi, yaitu bertujuan membuat lelah lawan dan menghabiskan sumber daya mereka sehingga mereka berhenti atau menarik diri dari perang.
Secara keseluruhan, pasca-Khamenei dan Larijani rezim ini berdiri di atas tanah yang retak. Perkembangan terkini menunjukkan ketidakpuasan warga Iran, terutama generasi muda dan perempuan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Group for Analyzing and Measuring Attitudes in Iran (GAMAAN), sebuah lembaga penelitian yang berbasis di Belanda, memang ditemukan pergeseran drastis dalam pandangan keagamaan dan politik warga Iran.
Survei GAMAAN menunjukkan hanya sekitar sepertiga warga Iran yang masih mengidentifikasi diri sebagai Muslim Syiah. Sebanyak 72% menghendaki pemisahan agama dari negara. Generasi muda Iran, yang lahir setelah revolusi, justru paling vokal menolak ideologi yang membelenggu hidup mereka.
Paradoksnya, tekanan dari luar, terutama perang dengan AS-Israel malahan menjadi anestesi bagi rezim. Konflik eksternal memungkinkan IRGC membungkus represi domestik dengan narasi pertahanan nasional, kedaulatan negara dan kesuksesan mengumpulkan warga Iran di bawah bendera.
Lalu apa skenario ke depan? Ada tiga kemungkinan, hemat penulis. Skenario pertama, controlled deterrence (penangkalan terkendali). Perang berakhir dengan Iran tetap mempertahankan sistem teokrasi, hubungan dengan Teluk dan Barat tetap tegang namun cukup stabil. Ini skenario paling optimistis, Namun, Iran membutuhkan figur seperti Larijani untuk mengemudikannya. Tanpa dia, pintu menuju skenario ini perlahan tertutup.
Apa artinya ini bagi masa depan Iran?
Pertama, Iran akan menjadi lebih sulit ditebak. Bukan karena ia menjadi lebih radikal secara ideologis, namun, karena struktur pengambilan keputusan akan semakin tidak jelas. Dalam sistem sebelumnya, paling tidak ada satu orang yang menjadi titik akhir setiap perdebatan, pada diri Khamenei dan selanjutnya Larijani. Kini, keputusan akan lahir dari konsensus di antara para jenderal IRGC, yang tak terlatih untuk berpikir dalam kerangka diplomasi dan negosiasi, kecuali pembalasan dendam.
Kedua, strategi regional Iran akan mengandalkan strategi asimetrik melalui proksi, operasi siber, dan gangguan terhadap jalur pelayaran akan meningkat karena ini adalah cara berperang yang tak membutuhkan legitimasi publik yang kuat. Juga, Iran menggunakan strategi atrisi, yaitu bertujuan membuat lelah lawan dan menghabiskan sumber daya mereka sehingga mereka berhenti atau menarik diri dari perang.
Secara keseluruhan, pasca-Khamenei dan Larijani rezim ini berdiri di atas tanah yang retak. Perkembangan terkini menunjukkan ketidakpuasan warga Iran, terutama generasi muda dan perempuan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Group for Analyzing and Measuring Attitudes in Iran (GAMAAN), sebuah lembaga penelitian yang berbasis di Belanda, memang ditemukan pergeseran drastis dalam pandangan keagamaan dan politik warga Iran.
Survei GAMAAN menunjukkan hanya sekitar sepertiga warga Iran yang masih mengidentifikasi diri sebagai Muslim Syiah. Sebanyak 72% menghendaki pemisahan agama dari negara. Generasi muda Iran, yang lahir setelah revolusi, justru paling vokal menolak ideologi yang membelenggu hidup mereka.
Paradoksnya, tekanan dari luar, terutama perang dengan AS-Israel malahan menjadi anestesi bagi rezim. Konflik eksternal memungkinkan IRGC membungkus represi domestik dengan narasi pertahanan nasional, kedaulatan negara dan kesuksesan mengumpulkan warga Iran di bawah bendera.
Lalu apa skenario ke depan? Ada tiga kemungkinan, hemat penulis. Skenario pertama, controlled deterrence (penangkalan terkendali). Perang berakhir dengan Iran tetap mempertahankan sistem teokrasi, hubungan dengan Teluk dan Barat tetap tegang namun cukup stabil. Ini skenario paling optimistis, Namun, Iran membutuhkan figur seperti Larijani untuk mengemudikannya. Tanpa dia, pintu menuju skenario ini perlahan tertutup.
Lihat Juga :