Masa Depan Iran di bawah Kepemimpinan Garda Revolusi (IRGC)

Senin, 30 Maret 2026 - 16:34 WIB
loading...
Masa Depan Iran di bawah...
Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews
A A A
Ridwan al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)

DALAM politik, sejatinya, tidak pernah ada kekosongan kekuasaaan. Jika seorang pemimpin meninggal dunia, maka dia akan digantikan oleh seorang pemimpin yang lain. Dalam situasi perang di Iran, kekosongan kekuasaan dengan cepat diisi oleh pemimpin baru.

Kematian Ayatullah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, disusul wafatnyanya Ali Larijani pada 17 Maret 2026 dalam serangan Israel beberapa pekan kemudian merupakan kehilangan dua figur sentral dalam tubuh pemerintahan Iran. Tampaknya ini adalah akhir dari era yang bisa menjaga keseimbangan antara kapan berperang dan kapan berdamai. Mungkinkah ini awal dari perang total yang menghancurkan?

Hingga kini, dunia sibuk menghitung rudal yang diluncurkan dan kilang minyak yang meledak. Namun, di balik gemuruh perang, ada pergeseran struktur yang terjadi di Republik Islam Iran, yang selama empat dekade merawat keseimbangan tersebut. Generasi muda Iran, sejatinya, memimpikan demokrasi dan reformasi, namun, sejauh ini yang lahir adalah sebuah negara militer yang berselimut jubah agama.

Sistem Velayat-e-Faqih (kekuasaan tertinggi ulama) sekian lama selalu hidup dalam kepalsuan. Sejak awal, rezim ini tegak berdiri di atas dua pilar yang kontradiktif, yaitu legitimasi agama dari para ulama dan kekuatan koersif dari Garda Revolusi (IRGC). Sang Rahbar Khamenei memahami seni menjaga keseimbangan, yang disebut sebagai narmesh-e qahremananeh (kelenturan heroik), yang memungkinkan rezim menghela napas saat tekanan terlalu berat, termasuk dalam negosiasi nuklir.

Harapan bertumpu pada Larijani, yang juga telah meninggal dunia. Kini, keseimbangan itu telah hancur. Pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru adalah bukti paling gamblang. Putra kedua almarhum sang rahbar ini dipandang bukanlah seorang ulama besar, di mana gelar Hojjatoleslam-nya tidak sebanding dengan otoritas Ayatullah yang disandang ayahnya.

Dia bukan pemimpin spiritual, namun, dia adalah produk kompromi antara faksi garis keras dan IRGC. Satu fakta menggelitik adalah sejak diangkat sebagai pimpinan tertinggi, Mojtaba tidak pernah muncul di depan publik. Pidato pertamanya sebagai pemimpin tertinggi dibacakan orang lain di televisi. Entah karena cedera dan dirawat di Rusia, atau karena ia memang tak lebih dari sekadar front—sebuah kedok agar dunia percaya bahwa Republik Islam masih dijalankan ulama, padahal kendali terpusat di tangan para jenderal Garda Revolusi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo Terima Menlu...
Prabowo Terima Menlu Turki di Hambalang, Bahas Palestina hingga Timur Tengah
Hari ke-83 Perang Iran:...
Hari ke-83 Perang Iran: Ketika Diplomasi Menjadi Jeda Kematian
Fenomena Rupiah Melemah...
Fenomena Rupiah Melemah dan Dilema Impossible Trinity: Membaca Kepanikan Investor di Tengah Ketidakpastian Global
Imbas Selat Hormuz Ditutup,...
Imbas Selat Hormuz Ditutup, Prabowo Ungkap Banyak Negara Minta Pupuk dari Indonesia
Pakar Hubungan Internasional:...
Pakar Hubungan Internasional: China Punya Kepentingan Redam Konflik AS-Iran
Mayat Ditemukan Dekat...
Mayat Ditemukan Dekat Markas Timnas Iran di Piala Dunia 2026, Teror atau Kebetulan?
Ini 5 Bukti Perjanjian...
Ini 5 Bukti Perjanjian Damai AS dan Iran Tunjukkan Kegagalan Tujuan Perang Israel
Bocoran Isi Kesepakatan...
Bocoran Isi Kesepakatan AS-Iran: Barter Minyak, Aset Triliunan, hingga Senjata Nuklir
Rekomendasi
Tiru Israel, Taiwan...
Tiru Israel, Taiwan Gunakan AI untuk Rekrut Informan dan Whistleblower China
Pejuang Hizbullah Sergap...
Pejuang Hizbullah Sergap Pasukan Israel di Lebanon
Australia vs Turki,...
Australia vs Turki, Gol Solo Nestory Irankunda Bikin Socceroos Unggul di Babak Pertama
Berita Terkini
5 Peristiwa Politik...
5 Peristiwa Politik Pekan Ini: Said Iqbal Jadi Penasihat Presiden, Prabowo Terima JK, hingga Mahasiswa Turun ke Jalan
Kompolnas Diperkuat...
Kompolnas Diperkuat dalam UU Polri Baru, Boni Hargens Yakin Gagasan Restorasi Kapolri Bakal Terwujud
Rieke Diah Pitaloka...
Rieke Diah Pitaloka Dikritik Akademisi: Melihat Dukungan Manajemen Jangan Sempit
Wamenhaj: Transparansi...
Wamenhaj: Transparansi jadi Kunci Berantas Kartel Haji
Menkomdigi Ajak Generasi...
Menkomdigi Ajak Generasi Muda Jadi Duta Internet Sehat dan Lawan Kejahatan Digital
Mendikdasmen Abdul Muti:...
Mendikdasmen Abdul Mu'ti: Sebagian Besar Murid Berharap Program MBG Dilanjutkan
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved