Korea Selatan dan Indonesia: Mitra Strategis Khusus untuk Masa Depan Berkelanjutan

Senin, 30 Maret 2026 - 10:38 WIB
loading...
Korea Selatan dan Indonesia:...
Jisun Song, Associate Professor, Korea National Diplomatic Academy. Foto: Ist
A A A
Jisun Song
Associate Professor, Korea National Diplomatic Academy

SEJAK membentuk kemitraan strategis bilateral pada tahun 2006, Republik Korea ( Korea Selatan/Korsel ) dan Indonesia telah memperkuat hubungan bilateral yang didasarkan pada saling percaya dan saling menghormati. Pada tahun 2017, kedua negara meningkatkan hubungan tersebut menjadi Kemitraan Strategis Khusus, yang membuka jalan bagi kerja sama yang lebih mendalam di bidang ekonomi, pertahanan, budaya, serta pertukaran antar masyarakat.

Namun demikian, sejarah kerja sama Korsel dan Indonesia sebenarnya telah berlangsung jauh lebih lama, terutama dalam bidang kerja sama pembangunan. Indonesia telah menjadi mitra penting dalam kerja sama pembangunan Korsel, khususnya dalam bantuan pembangunan resmi atau Official Development Assistance (ODA).

Menurut OECD, Korsel mulai memberikan bantuan luar negeri kepada Indonesia sejak tahun 1987 dan sejak 2011 Indonesia dipilih sebagai salah satu negara mitra prioritas ODA Korsel, di mana sebagian besar bantuan bilateral Korsel difokuskan.

Anggaran ODA Korsel untuk Indonesia mencerminkan semakin eratnya hubungan kedua negara, meningkat lebih dari 280 kali lipat dari USD632.572 pada tahun 1987 menjadi lebih dari USD181 juta pada tahun 2023. Akibatnya, Indonesia menjadi penerima bantuan terbesar kedua dari Korsel, sementara Korsel menjadi donor terbesar kelima bagi Indonesia pada tahun 2023.

Selain peningkatan jumlah, kualitas bantuan juga menjadi semakin maju dari waktu ke waktu. Berdasarkan prinsip kerja sama pembangunan yang efektif, proyek-proyek ODA disesuaikan dengan prioritas Indonesia sebagaimana tercantum dalam rencana pembangunan nasional jangka panjang dan menengah sekaligus mempertimbangkan keunggulan komparatif Korsel.

Dalam lima tahun terakhir, Korsel secara khusus memprioritaskan bantuan di sektor transportasi, administrasi publik, perlindungan lingkungan, serta WASH (air, sanitasi, dan kebersihan) guna menghasilkan dampak pembangunan yang lebih optimal.

Namun demikian, kemitraan kerja sama pembangunan antara Korsel dan Indonesia tidak seharusnya terbatas pada hubungan tradisional donor-penerima. Kedua negara perlu mengeksplorasi cara-cara inovatif untuk membangun kemakmuran berkelanjutan di kawasan. Hal ini semakin relevan mengingat meningkatnya peran Indonesia dalam kerja sama pembangunan internasional, termasuk sebagai negara donor.

Misalnya, Indonesia mulai melaksanakan proyek kerja sama teknis sejak tahun 1981, mengadopsi Jakarta Commitment: Aid for Development Effectiveness – Indonesia Roadmap to 2014 pada tahun 2009, serta mendirikan lembaga bantuan bilateral Indonesian AID pada tahun 2019. Dengan dukungan kelembagaan tersebut, Indonesia kini menjadi salah satu penggerak utama kerja sama Selatan-Selatan dan kerja sama trilateral.

Selain itu, Indonesia secara aktif mendorong agenda pembangunan di berbagai forum internasional. Khususnya saat memegang Presidensi G20 pada tahun 2022, Indonesia menekankan pentingnya kemitraan global yang efektif guna memastikan “tidak ada satu pun yang tertinggal”.

Dokumen hasil presidensi mencakup berbagai isu mulai dari ketahanan pangan, iklim, kesehatan, hingga transformasi digital, serta menegaskan komitmen kuat terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Indonesia juga memimpin adopsi Prinsip G20 untuk Meningkatkan Pembiayaan Campuran (Blended Finance) serta Roadmap G20 untuk Pemulihan dan Ketahanan yang Lebih Kuat bagi negara berkembang, termasuk negara kurang berkembang dan negara kepulauan kecil.

Komitmen kuat terhadap masa depan berkelanjutan tersebut membuka ruang besar bagi kemitraan Korsel dan Indonesia dalam kerja sama pembangunan internasional. Korsel perlu semakin memperkuat kemitraan di berbagai tingkat dan sektor bersama Indonesia menjelang KTT yang akan datang pada April 2026.

Pertama, Korsel perlu melanjutkan, meningkatkan skala, dan merancang proyek bantuan luar negeri yang mampu menjawab kebutuhan pembangunan Indonesia saat ini maupun di masa depan. Pada saat yang sama, kedua negara dapat menjajaki proyek baru di bidang kecerdasan buatan dan budaya, yang menjadi sektor prioritas baru dalam strategi ODA Korea periode 2026–2030.

Kedua, kedua negara perlu membahas proyek kerja sama trilateral untuk mengatasi tantangan regional dan global. Korsel dan Indonesia sama-sama memiliki kepentingan untuk memperkuat peran sebagai donor serta berkomitmen memperluas kerja sama trilateral. Kementerian luar negeri kedua negara bahkan telah menandatangani nota kesepahaman mengenai kerja sama trilateral pada tahun 2021.

Pada tingkat proyek, Korea International Cooperation Agency (KOICA) telah melaksanakan dua proyek kerja sama trilateral bersama Indonesia di bidang administrasi publik dan energi terbarukan untuk Timor-Leste. Dengan memanfaatkan mekanisme kelembagaan dan pengalaman tersebut, kerja sama trilateral Korsel–Indonesia dapat mempercepat pencapaian SDGs pada tahun 2030.

Terakhir, Korsel dan Indonesia perlu memperkuat kerja sama untuk mendorong agenda pembangunan di forum mini-lateral maupun multilateral yang sama-sama mereka ikuti. Kedua negara merupakan anggota penting G20 dan MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korsel, Türkiye, dan Australia).

Dengan Korsel yang akan memegang Presidensi G20 pada tahun 2028, kedua negara diharapkan dapat bersama-sama mendorong aksi nyata terhadap berbagai isu pembangunan melalui G20 dan Development Working Group (DWG). Melalui MIKTA, kedua negara juga dapat terus memimpin diskusi serta menemukan titik temu kerja sama dalam berbagai isu pembangunan.

Selain melalui PBB, Korea dan Indonesia juga perlu mencari bentuk kemitraan pembangunan baru di OECD, seiring harapan Indonesia untuk menjadi anggota organisasi tersebut pada tahun 2027.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Narkoba, Masa Depan...
Narkoba, Masa Depan Bangsa, dan Kerja Sama Internasional
Dari Cinta Menjadi Luka:...
Dari Cinta Menjadi Luka: Kekerasan Berpacaran Perspektif Psikologi
Indonesia Butuh Koalisi...
Indonesia Butuh Koalisi Advokasi untuk Percepat Adopsi Inovasi Kesehatan
Pilihan Praperadilan...
Pilihan Praperadilan untuk Roy Suryo dan Sidang untuk dr Tifa dalam Polemik Ijazah Jokowi
PP 20 Tahun 2026: Langkah...
PP 20 Tahun 2026: Langkah Besar Menuju Keadilan Pajak bagi UMKM Orang Pribadi
Perang Iran 2026: Akhir...
Perang Iran 2026: Akhir Pertempuran, Awal Perebutan Kemenangan
Presiden Korea Selatan...
Presiden Korea Selatan Bingung Taegeuk Warriors Tersingkir di Piala Dunia 2026
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Rekomendasi
JKF Fun Padel Competition...
JKF Fun Padel Competition 2026 Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Instansi di Jakarta
Korea Selatan Izinkan...
Korea Selatan Izinkan Robot AI Otonom untuk Memeriksa Pesawat Terbang
IHSG Berakhir Jatuh...
IHSG Berakhir Jatuh Makin Dalam Sentuh 5.820, Transaksi Cetak Rp8,7 Triliun
Berita Terkini
MK Tolak Gugatan Dharma...
MK Tolak Gugatan Dharma Pongrekun Atas UU Kesehatan: Kepatuhan Warga adalah Konsekuensi Logis
Refly Harun Desak PN...
Refly Harun Desak PN Jakarta Timur Bolehkan Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa
Latsarmil Manajer Kopdes...
Latsarmil Manajer Kopdes Dievaluasi, Istana: Insyaaallah, Tidak Terjadi Korban Lagi
LPI Minta Program Prioritas...
LPI Minta Program Prioritas Nasional Dievaluasi Agar Sesuai Arahan Presiden
Pigai Sebut Masyarakat...
Pigai Sebut Masyarakat Indonesia Belum Siap Terima LGBT
Ini Makna Logo HUT ke-81...
Ini Makna Logo HUT ke-81 RI yang Telah Resmi Diluncurkan
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved