Korea Selatan dan Indonesia: Mitra Strategis Khusus untuk Masa Depan Berkelanjutan
Senin, 30 Maret 2026 - 10:38 WIB
loading...
A
A
A
Dalam lima tahun terakhir, Korsel secara khusus memprioritaskan bantuan di sektor transportasi, administrasi publik, perlindungan lingkungan, serta WASH (air, sanitasi, dan kebersihan) guna menghasilkan dampak pembangunan yang lebih optimal.
Namun demikian, kemitraan kerja sama pembangunan antara Korsel dan Indonesia tidak seharusnya terbatas pada hubungan tradisional donor-penerima. Kedua negara perlu mengeksplorasi cara-cara inovatif untuk membangun kemakmuran berkelanjutan di kawasan. Hal ini semakin relevan mengingat meningkatnya peran Indonesia dalam kerja sama pembangunan internasional, termasuk sebagai negara donor.
Misalnya, Indonesia mulai melaksanakan proyek kerja sama teknis sejak tahun 1981, mengadopsi Jakarta Commitment: Aid for Development Effectiveness – Indonesia Roadmap to 2014 pada tahun 2009, serta mendirikan lembaga bantuan bilateral Indonesian AID pada tahun 2019. Dengan dukungan kelembagaan tersebut, Indonesia kini menjadi salah satu penggerak utama kerja sama Selatan-Selatan dan kerja sama trilateral.
Selain itu, Indonesia secara aktif mendorong agenda pembangunan di berbagai forum internasional. Khususnya saat memegang Presidensi G20 pada tahun 2022, Indonesia menekankan pentingnya kemitraan global yang efektif guna memastikan “tidak ada satu pun yang tertinggal”.
Dokumen hasil presidensi mencakup berbagai isu mulai dari ketahanan pangan, iklim, kesehatan, hingga transformasi digital, serta menegaskan komitmen kuat terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Indonesia juga memimpin adopsi Prinsip G20 untuk Meningkatkan Pembiayaan Campuran (Blended Finance) serta Roadmap G20 untuk Pemulihan dan Ketahanan yang Lebih Kuat bagi negara berkembang, termasuk negara kurang berkembang dan negara kepulauan kecil.
Komitmen kuat terhadap masa depan berkelanjutan tersebut membuka ruang besar bagi kemitraan Korsel dan Indonesia dalam kerja sama pembangunan internasional. Korsel perlu semakin memperkuat kemitraan di berbagai tingkat dan sektor bersama Indonesia menjelang KTT yang akan datang pada April 2026.
Namun demikian, kemitraan kerja sama pembangunan antara Korsel dan Indonesia tidak seharusnya terbatas pada hubungan tradisional donor-penerima. Kedua negara perlu mengeksplorasi cara-cara inovatif untuk membangun kemakmuran berkelanjutan di kawasan. Hal ini semakin relevan mengingat meningkatnya peran Indonesia dalam kerja sama pembangunan internasional, termasuk sebagai negara donor.
Misalnya, Indonesia mulai melaksanakan proyek kerja sama teknis sejak tahun 1981, mengadopsi Jakarta Commitment: Aid for Development Effectiveness – Indonesia Roadmap to 2014 pada tahun 2009, serta mendirikan lembaga bantuan bilateral Indonesian AID pada tahun 2019. Dengan dukungan kelembagaan tersebut, Indonesia kini menjadi salah satu penggerak utama kerja sama Selatan-Selatan dan kerja sama trilateral.
Selain itu, Indonesia secara aktif mendorong agenda pembangunan di berbagai forum internasional. Khususnya saat memegang Presidensi G20 pada tahun 2022, Indonesia menekankan pentingnya kemitraan global yang efektif guna memastikan “tidak ada satu pun yang tertinggal”.
Dokumen hasil presidensi mencakup berbagai isu mulai dari ketahanan pangan, iklim, kesehatan, hingga transformasi digital, serta menegaskan komitmen kuat terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Indonesia juga memimpin adopsi Prinsip G20 untuk Meningkatkan Pembiayaan Campuran (Blended Finance) serta Roadmap G20 untuk Pemulihan dan Ketahanan yang Lebih Kuat bagi negara berkembang, termasuk negara kurang berkembang dan negara kepulauan kecil.
Komitmen kuat terhadap masa depan berkelanjutan tersebut membuka ruang besar bagi kemitraan Korsel dan Indonesia dalam kerja sama pembangunan internasional. Korsel perlu semakin memperkuat kemitraan di berbagai tingkat dan sektor bersama Indonesia menjelang KTT yang akan datang pada April 2026.
Lihat Juga :