Garis Depan Tak Terlihat: Perang Algoritmik dan Kehancuran Atas Kemanusiaan

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:34 WIB
loading...
Garis Depan Tak Terlihat:...
Ressa Uli Patrissia, Dosen Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Pemerhati Komunikasi dan Teknologi, dan Peneliti Komunikasi Algoritmik. Foto/Dok.Pribadi
A A A
Ressa Uli Patrissia
Dosen Universitas Muhammadiyah Palangka Raya
Pemerhati Komunikasi dan Teknologi, dan Peneliti Komunikasi Algoritmik

ADA yang berubah secara mendasar dalam cara manusia menewaskan sesamanya dan kita hampir tidak menyadarinya. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran hari ini bukan lagi perang dalam pengertian yang kita warisi dari buku sejarah: pasukan berhadapan, batas wilayah dilanggar, deklarasi diumumkan.

Namun yang terjadi saat ini adalah sesuatu yang jauh lebih licin, jauh lebih tersembunyi, dan justru karena itulah jauh lebih berbahaya. Ini adalah perang yang dirancang agar tidak terlihat sebagai perang, agar tidak memicu kecaman publik, tidak menuntut pertanggungjawaban, dan tidak meninggalkan jejak yang cukup jelas untuk disidangkan di Mahkamah Internasional mana pun.

Kita menyebutnya transformasi teknologi militer. Saya lebih cenderung menyebutnya: normalisasi kekerasan yang difasilitasi algoritma.

Ketika Mesin Memutuskan Siapa yang Harus Tewas


Salah satu perkembangan paling menggelisahkan dalam arsitektur perang modern adalah apa yang dikenal sebagai automated target prioritization, suatu sistem yang secara otomatis mengidentifikasi, meranking, dan merekomendasikan target serangan berdasarkan pemrosesan data masif.

Sistem ini bekerja sebelum keputusan manusia diambil. Ia menyusun daftar. Ia menentukan urutan. Ia menawarkan pilihan kepada komandan militer dalam bentuk antarmuka yang terlihat seperti dashboard manajemen, bukan surat perintah kematian.

Pertanyaannya bukan lagi "siapa yang menarik pelatuk?" Pertanyaannya adalah: siapa yang bertanggung jawab ketika algoritmanya salah?

Sejauh ini, tidak ada jawaban yang memuaskan. Industri pertahanan menyebutnya "human in the loop" - manusia tetap ada dalam rantai keputusan. Namun dalam praktiknya, ketika seorang operator militer disuguhi rekomendasi sistem yang diklaim memiliki akurasi tinggi, dalam tekanan operasional, dengan waktu respons yang terbatas seberapa "manusiawi" sesungguhnya keputusan itu?

Manusia menjadi penanda tangan, bukan pemikir. Akuntabilitas moral diencerkan ke titik yang hampir tidak ada.
Ini bukan hanya masalah teknis. Ini adalah krisis etika yang sistemik, dan kita sedang membiarkannya terjadi dalam senyap.

Drone: Senjata yang Memisahkan Kekerasan dari Konsekuensinya


Argumen paling lazim yang digunakan untuk membenarkan penggunaan drone militer adalah reduced human risk, pengurangan risiko terhadap nyawa tentara pihak yang menyerang. Secara retorika, ini terdengar humanis, bahkan progresif. Namun mari kita bongkar argumen itu lebih jujur.

Pengurangan risiko bagi satu pihak tidak pernah berarti pengurangan risiko secara absolut. Ia hanya berarti transfer risiko; dari tubuh tentara di negara penyerang kepada tubuh-tubuh lain di wilayah yang diserang, termasuk tubuh sipil yang tidak memiliki drone untuk membalas.

Yang berubah bukan tingkat kematian; yang berubah adalah jarak psikologis antara yang berniat menewaskan dan yang akan ditewaskan.Dan jarak psikologis inilah yang paling merusak secara moral.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo Terima Menlu...
Prabowo Terima Menlu Turki di Hambalang, Bahas Palestina hingga Timur Tengah
Hari ke-83 Perang Iran:...
Hari ke-83 Perang Iran: Ketika Diplomasi Menjadi Jeda Kematian
Fenomena Rupiah Melemah...
Fenomena Rupiah Melemah dan Dilema Impossible Trinity: Membaca Kepanikan Investor di Tengah Ketidakpastian Global
Imbas Selat Hormuz Ditutup,...
Imbas Selat Hormuz Ditutup, Prabowo Ungkap Banyak Negara Minta Pupuk dari Indonesia
Pakar Hubungan Internasional:...
Pakar Hubungan Internasional: China Punya Kepentingan Redam Konflik AS-Iran
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Siaga di Selat Hormuz,...
Siaga di Selat Hormuz, AS Gunakan Perahu Canggih Tanpa Awak
Citra Satelit Tunjukkan...
Citra Satelit Tunjukkan Kehancuran di Pangkalan Udara Israel Akibat Serangan Iran
Rekomendasi
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Dorong Literasi Finansial...
Dorong Literasi Finansial dan AI, IPOT Jawab Tantangan Makro Gen Z
DPRD Kota Tangerang...
DPRD Kota Tangerang Matangkan Raperda Penyelenggaraan Transportasi
Berita Terkini
Ketum All Cipayung Nusantara...
Ketum All Cipayung Nusantara Berharap Sidang Kasus Ijazah Jokowi Digelar Terbuka
Tersangka Kasus Ijazah...
Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Desak Polisi Buat Kepastian Hukum
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Polisi dan Jaksa Ragu-ragu di Kasus Ijazah Jokowi
Kecam Ketimpangan Layanan...
Kecam Ketimpangan Layanan Dialisis, KPCDI Desak Pemerintah Benahi Sistem
Pengacara Jokowi: Ada...
Pengacara Jokowi: Ada Dugaan Manipulasi Bukti Elektronik dalam Kasus Ijazah Jokowi
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved