Garis Depan Tak Terlihat: Perang Algoritmik dan Kehancuran Atas Kemanusiaan

Minggu, 29 Maret 2026 - 19:34 WIB
loading...
A A A
Negara yang menguasai ekosistem teknologi: semikonduktor, komputasi awan, model kecerdasan buatan mutakhir, infrastruktur satelit secara otomatis mendominasi negara yang tidak memilikinya. Ini bukan lagi soal keberanian atau strategi; ini soal siapa yang memiliki GPU (Graphics Processing Unit) lebih banyak dan siapa yang tidak.

Implikasinya terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia dan bangsa-bangsa Global South lainnya, sangat serius untuk diabaikan. Ketimpangan teknologi tidak lagi hanya berarti ketimpangan ekonomi - ia berarti ketimpangan kedaulatan.

Dalam tatanan global di mana supremasi militer ditentukan oleh supremasi komputasi, negara yang tertinggal dalam transisi digital secara struktural berada dalam posisi yang lebih rentan, bukan hanya secara ekonomi, tetapi secara geopolitik dan keamanan nasional.

Dan siapa yang menentukan standar, protokol, bahkan etika dari sistem senjata otonom ini? Bukan badan PBB. Bukan komunitas internasional secara kolektif. Jawaban yang paling jujur adalah perusahaan teknologi pertahanan di negara-negara yang sama yang menggunakannya. Konflik kepentingan dalam titik ini menjadi sulit untuk dinalar.

Yang Kita Normalkan Tanpa Sadar


Yang paling mengkhawatirkan bukanlah teknologinya sendiri. Teknologi adalah artefak netral yang nilai etisnya ditentukan oleh konteks penggunaannya. Yang mengkhawatirkan adalah kecepatan kita dalam menormalisasi logika di baliknya.

Kita sudah terbiasa dengan bahasa militer yang mensterilkan kematian: "target dinetralisir," "operasi presisi," "kerusakan kolateral yang minimal." Kini kita bergerak lebih jauh: kita menerima kerangka berpikir di mana keputusan untuk menyerang dihasilkan oleh sistem yang tidak memiliki hati nurani, dieksekusi oleh operator yang tidak merasakan akibatnya, dan dilaporkan dalam bahasa yang tidak menyisakan ruang untuk duka.

Dalam perspektif komunikasi, ini adalah kekerasan epistemik sebelum kekerasan fisik, penghapusan makna, penghapusan kemanusiaan dari narasi, sehingga ketika kekerasan fisik terjadi, ia sudah kehilangan bobot moralnya di mata publik yang menyaksikan.

Kita tidak sedang menyaksikan revolusi militer semata. Kita sedang menyaksikan pergeseran diam-diam dalam batas moral kolektif kita yaitu seberapa jauh kita bersedia membiarkan kekerasan terjadi tanpa menamakannya sebagai apa yang sesungguhnya.

Menolak Menjadi Penonton yang Diam


Indonesia bukan pihak dalam konflik ini. Tapi diam adalah posisi yang kita tidak mampu pertahankan secara moral.
Sebagai bangsa yang menempatkan kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai sila kedua, sebagai masyarakat yang membangun deliberasi di atas nilai gotong royong dan musyawarah, kita memiliki tanggung jawab epistemik dan moral untuk terus mempertanyakan: ke mana arah perkembangan ini membawa peradaban? Siapa yang diuntungkan dari perang yang tidak terlihat?

Garis depan memang tidak terlihat. Tapi ketidaktampakan itu bukan fakta alam. Ia adalah produk rekayasa. Rekayasa teknologi. Rekayasa narasi dan rekayasa ketidakpedulian. Tugas kita adalah menolak untuk direkayasa.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran 2026: Akhir...
Perang Iran 2026: Akhir Pertempuran, Awal Perebutan Kemenangan
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Belajar dari Iran: Tiga...
Belajar dari Iran: Tiga Pelajaran Strategis bagi Indonesia
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Harga BBM Non-Subsidi Pascaanjloknya Harga Minyak Dunia
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Denny JA Sebut Algoritma...
Denny JA Sebut Algoritma Lahirkan Kelas Baru Pekerja Digital yang Rentan
AS Menguji Pertempuran...
AS Menguji Pertempuran Udara Jarak Jauh dengan Dukungan AI F-16
Eks Jenderal Zionis:...
Eks Jenderal Zionis: Netanyahu Mengarang Iran Miliki Bom Nuklir untuk Menakuti Publik Israel
AS Pertimbangkan Tarik...
AS Pertimbangkan Tarik Pasukan dari Arab Saudi, Berseteru Gara-gara Perang Iran
Rekomendasi
Larangan dan Sanksi...
Larangan dan Sanksi MPLS 2026, Atribut Tidak Relevan hingga Pungutan Biaya Dilarang
Rusia Balas Dendam!...
Rusia Balas Dendam! Rudal dan Drone Gempur Ukraina, 11 Orang Tewas
ICDX dan Bursa Komoditas...
ICDX dan Bursa Komoditas Belarus Jalin Kerja Sama Perdagangan Internasional
Berita Terkini
Menekraf Ajak Generasi...
Menekraf Ajak Generasi Muda Berperan Aktif dalam Kebangkitan Ekonomi Kreatif Indonesia
Breaking News! Kejagung...
Breaking News! Kejagung Tetapkan Brigjen Pol LMI Jadi Tersangka Korupsi Pengadaan Ompreng MBG
Sahroni Minta Siber...
Sahroni Minta Siber Polri Kejar Dalang Spam Judi Online di Medsos: Bukan Hal Sulit bagi Polisi
Pasar Global Meluas,...
Pasar Global Meluas, UMKM Wajib Perluas Jangkauan dan Kompetitif
Prabowo: Indonesia-Belarus...
Prabowo: Indonesia-Belarus Sepakat Mendukung Perdamaian dan Stabilitas Dunia
Dokter Tifa Tolak Berdamai...
Dokter Tifa Tolak Berdamai dengan Jokowi, Pilih Lanjutkan Persidangan
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved