Mengukur Kerentanan Akibat Penutupan Selat Hormuz dan Kapasitas Mitigasi

Selasa, 17 Maret 2026 - 16:39 WIB
loading...
Mengukur Kerentanan...
Broto Wardoyo, Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia dan Principal Nenggala Research. Foto/Dok.SindoNews
A A A
Broto Wardoyo
Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia
Principal Nenggala Research


BAGI pelaku usaha, krisis di Selat Hormuz bukan sekadar isu geopolitik yang mengguncang Timur Tengah. Krisis tersebut adalah risiko ekonomi yang sangat konkret. Sekitar seperlima minyak yang dikonsumsi dunia melewati selat sempit ini sehingga setiap gangguan di sana hampir selalu diterjemahkan pasar sebagai lonjakan harga energi global.

Bagi dunia usaha, dari manufaktur hingga logistik, hal ini artinya sederhana: biaya produksi naik, rantai pasok terganggu, dan tekanan terhadap harga domestik meningkat. Selat Hormuz merupakan salah satu titik cekik (chokepoint) energi paling kritis dalam sistem ekonomi global. Sekitar 20–21 juta barel minyak per hari, atau hampir 20% konsumsi minyak dunia, melewati jalur ini (EIA, 2024). Sekitar 85% aliran minyak tersebut menuju pasar Asia dan menjadikan kawasan ini tujuan utama ekspor energi dari Teluk Persia (EIA, 2024).

Empat ekonomi besar Asia, China, India, Jepang, dan Korea Selatan, menyerap sekitar 70–75% dari total minyak yang melewati Selat Hormuz (EIA, 2024). Dengan konfigurasi seperti ini, setiap gangguan serius di jalur tersebut akan berfungsi sebagai goncangan (shock) energi bagi ekonomi Asia.

Kerentanan negara-negara Asia terhadap gangguan di Selat Hormuz tidak seragam. Jepang dan Korea Selatan berada pada kategori paling rentan karena ketergantungan impor minyak dari Timur Tengah sangat tinggi. Sekitar 90–95% impor minyak Jepang berasal dari kawasan tersebut, dengan sekitar 70% pasokan, sekitar 1.9–2.1 juta barel per hari, melewati Selat Hormuz (EIA, 2024).

Korea Selatan memiliki struktur yang hampir serupa, dimana sekitar 70% impor minyaknya berasal dari Timur Tengah, dengan sebagian besar pasokan juga melalui jalur yang sama (EIA, 2024). China dan India menghadapi kerentanan dari dimensi yang berbeda, yaitu skala konsumsi energi industri yang sangat besar.

China menyerap sekitar 37–38% dari total aliran minyak yang melewati Hormuz, sementara India sekitar 14–15% (EIA, 2024). Kombinasi antara ketergantungan impor yang tinggi dan struktur ekonomi yang sangat energi-intensif membuat empat ekonomi Asia ini sangat sensitif terhadap gangguan pasokan di jalur energi paling strategis di dunia.

Kerentanan tersebut tidak hanya ditentukan oleh ketergantungan impor, tetapi juga oleh kapasitas mitigasi energi, terutama melalui strategic petroleum reserves (SPR). Jepang, Korea Selatan, dan China memiliki cadangan strategis yang relatif besar, di atas 200 hari konsumsi minyak, sementara India sekitar 70an hari (Khan, 2026).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
DPR Minta Pemerintah...
DPR Minta Pemerintah Evaluasi Harga BBM Non-Subsidi Pascaanjloknya Harga Minyak Dunia
Perang Iran: Dari Bertahan...
Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo Terima Menlu...
Prabowo Terima Menlu Turki di Hambalang, Bahas Palestina hingga Timur Tengah
Hari ke-83 Perang Iran:...
Hari ke-83 Perang Iran: Ketika Diplomasi Menjadi Jeda Kematian
Fenomena Rupiah Melemah...
Fenomena Rupiah Melemah dan Dilema Impossible Trinity: Membaca Kepanikan Investor di Tengah Ketidakpastian Global
Tanpa Bantuan AS, Trump:...
Tanpa Bantuan AS, Trump: Israel Akan Hancur
PM Meloni Kecam Trump...
PM Meloni Kecam Trump soal Minta Foto: Italia Tidak Pernah Mengemis
PM Australia Ungkap...
PM Australia Ungkap Pengiriman BBM Baru, Ancaman di Selat Hormuz Masih Moderat
Rekomendasi
Tanpa Bantuan AS, Trump:...
Tanpa Bantuan AS, Trump: Israel Akan Hancur
Miss Indonesia 2026...
Miss Indonesia 2026 Cari 38 Finalis Terbaik, Audisi Terakhir Digelar di Jakarta
AI Impact Challenge,...
AI Impact Challenge, Microsoft, Komdigi, dan Dicoding Tampilkan Karya AI Terbaik Lulusan METC
Berita Terkini
Mantan Petinggi OJK...
Mantan Petinggi OJK Ditahan Bareskrim terkait Kasus Dana Syariah Indonesia
Boni Hargens Minta Hilangkan...
Boni Hargens Minta Hilangkan Prasangka Buruk terhadap Polri
Sony Sonjaya Ungkap...
Sony Sonjaya Ungkap 41 Nama Diduga Minta Titik SPPG, Sahroni Khawatir untuk Mengelabui Penyidik
Din Syamsuddin Sebut...
Din Syamsuddin Sebut Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Dipaksakan: Kezaliman yang Nyata
Periksa Silmy Karim,...
Periksa Silmy Karim, KPK Telusuri Asal-usul Aset
Ziarah ke Makam Soekarno...
Ziarah ke Makam Soekarno di Blitar, Kapolri: Menyerap Nilai Pemimpin Bangsa
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved