Habermas dan Kenangan Ruang Diskusi Mahasiswa

Senin, 16 Maret 2026 - 08:00 WIB
loading...
A A A
Gagasan ini dirumuskan secara sistematis dalam karya klasiknya The Structural Transformation of the Public Sphere, di mana ia menjelaskan bagaimana ruang publik menjadi arena penting bagi warga untuk membahas kepentingan bersama, membentuk opini publik, dan menegakkan legitimasi sosial. Ruang publik, bagi Habermas, adalah fondasi demokrasi modern—legitimasi lahir dari partisipasi dan diskusi yang rasional, bukan dari paksaan atau propaganda.

Karya monumentalnya, The Theory of Communicative Action, memperkenalkan konsep tindakan komunikatif. Ia menekankan bahwa masyarakat dapat mencapai konsensus melalui dialog rasional: argumen yang lebih baik, bukan kekuasaan, yang seharusnya menang. Ungkapan terkenalnya, the force of the better argument, menegaskan bahwa demokrasi hidup melalui kualitas percakapan publik, bukan sekadar prosedur formal. Sementara buku Between Facts and Norms menekankan legitimasi hukum dan norma sosial, yang sangat relevan bagi generasi mahasiswa yang aktif mempertanyakan kebijakan otoriter.

Bagi mahasiswa Indonesia pada dekade 1990-an, gagasan Habermas terasa hidup. Di tengah gejolak sosial menuju Reformasi 1998, mahasiswa menggunakan ruang publik kampus untuk memprotes korupsi, kolusi, dan nepotisme, menuntut reformasi, dan menegakkan aspirasi demokratis. Dalam forum diskusi, Habermas seolah hadir—membisikkan bahwa legitimasi lahir dari dialog, bukan dari intimidasi atau tekanan kekuasaan. Tulisan-tulisannya beredar dalam bentuk fotokopi, dibahas di kelas, sekretariat organisasi, dan kelompok studi mahasiswa. Banyak yang mengingat malam-malam panjang berdiskusi hingga larut, ketika gagasan tentang demokrasi deliberatif dan ruang publik diuji dengan realitas politik yang menegangkan. Ruang diskusi menjadi arena di mana teori Habermas diuji dengan praktik nyata perjuangan sosial dan politik, dan di sinilah gagasannya menjadi hidup, bukan sekadar teori abstrak.

Kenangan tentang Habermas bukan hanya soal teori, tetapi pengalaman intelektual yang nyata. Mahasiswa mengingatnya sebagai suara yang menenangkan sekaligus menantang: mengingatkan bahwa demokrasi dibangun dari kesediaan untuk mendengar, mempertanyakan, dan berargumen secara rasional. Dalam perdebatan malam di sekretariat mahasiswa atau kamar kos yang dipenuhi buku dan fotokopi artikel, Habermas terasa begitu dekat—guru jarak jauh yang hadir melalui ide-idenya. Banyak yang mengatakan bahwa fotokopi artikelnya layaknya “peta navigasi intelektual” yang menuntun mereka memahami kekuasaan, hukum, dan partisipasi publik.

Sepanjang hidupnya, Habermas dikenal pula sebagai intelektual publik yang aktif menulis kritik terhadap kebijakan politik di Eropa, integrasi Eropa, demokrasi konstitusional, dan tantangan moral masyarakat modern. Ia menunjukkan bahwa tugas filsuf tidak berhenti di ruang akademik, tetapi harus ikut membentuk percakapan publik. Warisan pemikirannya kini menjadi fondasi penting dalam ilmu sosial kontemporer. Teori demokrasi deliberatif yang ia kembangkan digunakan dalam studi politik modern, media, dan komunikasi, sementara konsep ruang publiknya tetap relevan di era digital yang dipenuhi polarisasi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Akui Program Pemerintah...
Akui Program Pemerintah Banyak Kekurangan, Wapres Gibran: Kita Perbaiki Bersama
Istana Wapres Sebut...
Istana Wapres Sebut Tidak Ada Kesepakatan soal Tenggat Waktu Realisasikan Tuntutan Mahasiswa
Temui Gibran, Mahasiswa...
Temui Gibran, Mahasiswa Beri Tenggat Waktu 5 Hari ke Pemerintah untuk Realisasikan Tuntutan
Budiman Sudjatmiko Tepis...
Budiman Sudjatmiko Tepis Usir Mahasiswa dari Forum Diskusi di Semarang
Menjaga Kampus Tetap...
Menjaga Kampus Tetap Relevan Tanpa Menjadi 'Pabrik'
Tiyo Ardianto Tolak...
Tiyo Ardianto Tolak Tawaran Bertemu Petinggi Lembaga Berbintang yang akan Berikan Apa pun yang Dia Mau
Sempat Memanas, Mahasiswa...
Sempat Memanas, Mahasiswa yang Demo di Jalan Jenderal Sudirman Akhirnya Membubarkan Diri
Mahasiswa BEM SI Kerakyatan...
Mahasiswa BEM SI Kerakyatan Bubarkan Diri, Polisi Bersihkan Sampah di Depan Gedung DPR
Demo Mahasiswa Belum...
Demo Mahasiswa Belum Kelar, Arus Lalu Lintas di Jalan Jenderal Sudirman Tersendat
Rekomendasi
Permainan Lincah Pakistan...
Permainan Lincah Pakistan dalam Mendamaikan AS dan Iran, Ini 4 Rahasianya
Kisah Vozinha: Kiper...
Kisah Vozinha: Kiper Cape Verde yang Menulis Sejarah di Piala Dunia 2026
Zionis Israel Ratapi...
Zionis Israel Ratapi Kesepakatan Damai AS-Iran: Kami Ditinggalkan Sendirian!
Berita Terkini
Presiden Prabowo: Selamat...
Presiden Prabowo: Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H
Indonesia Tunjukkan...
Indonesia Tunjukkan Kerukunan Antaragama ke Presiden Jerman di Istiqlal dan Katedral
Gelombang I Berakhir,...
Gelombang I Berakhir, 245 Kloter Jemaah Haji Telah Diberangkatkan ke Tanah Air
Kolonel Inf Achmad Fikri...
Kolonel Inf Achmad Fikri Dalimunthe, Prajurit TNI Pertama yang Lulus National Defence College Yordania
Jamu Presiden Steinmeier,...
Jamu Presiden Steinmeier, Prabowo Sebut Jerman Jadi Inspirasi Inovasi Teknologi
Telusuri Aset Tersangka...
Telusuri Aset Tersangka Kasus Kuota Haji, KPK Periksa Pengelola Apartemen
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved