Ramadan dan Pembersihan Jiwa Bangsa

Sabtu, 07 Maret 2026 - 13:24 WIB
loading...
A A A
Apabila ketiga kebajikan di atas hadir dan berada pada kondisi yang seimbang, maka terbitlah kesadaran baru untuk senantiasa mendahulukan keadilan (al-‘adalah) sebagai pijakan hidup bersama atau dalam ungkapan Miskawayh, “orang yang adil menghindarkan dirinya untuk mencari keuntungan dengan cara mengurangi hak orang lain.” Dalam kehidupan bernegara, empat kebajikan (kebijaksanaan, kesanggupan untuk mengendalikan diri, keberanian untuk mengambil keputusan terbaik dan sudah teruji, serta menomorsatukan prinsip keadilan sosial) yang lahir dari proses penggemblengan jiwa ini amat diperlukan.

Ramadan adalah ruang untuk menengok jiwa bangsa. Dalam keheningan Ramadan, kejernihan untuk menalar pelbagai tantangan kehidupan bernegara seyogianya bisa dihadirkan. Penalaran yang baik lahir dari proses dialog yang terbuka. Melalui dialog, beragam sudut pandang dibincangkan untuk menggali pilihan solusi dan memetakan berbagai resiko yang muncul sebelum diputuskan mengambil yang terbaik. Kebijaksanaan ini terasa langka di republik kita belakangan ini, tak terkecuali di dalam polemik yang muncul akibat adanya rencana impor 105.000-unit mobil pikap dan truk dari India. Inilah buah dari minusnya kearifan di dalam pengambilan kebijakan publik.

Di tengah kehidupan masyarakat yang belum pulih dari dampak bencana katastrofik yang terjadi di Sumatera dan pelbagai wilayah lainnya di Indonesia pada akhir tahun 2025 dan awal 2026, pengalokasian anggaran negara sebesar Rp24,66 triliun atau setara dengan USD1,5 miliar-USD1,6 miliar merupakan bentuk kebangkrutan jiwa dalam pengambilan kebijakan publik yang berpotensi besar menjauhkan rakyat dari cita-cita hidup adil-makmur dan terperangkap ke dalam apa yang disebut oleh Aristoteles di dalam Nicomachean Ethics (2009) sebagai Cyclops-fashion atau Kuklopikos nomos, yakni cara hidup tanpa rasa empati, pengabaian hukum, dan menomorduakan pentingnya rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. Hal ini bertolak belakang dengan spirit Ramadan.

Di bulan suci Ramadan, seperti ditulis oleh Cak Nur (1999), setiap mukmin dilatih untuk menemukan kembali harkat kemanusiaannya sebagai makhluk hidup atau ciptaan Tuhan YME yang terbaik. Dengan anugerah akal budi yang dimilikinya, mereka dituntut untuk berikhtiar sekuat tenaga guna melepaskan diri dari belenggu penyembahan selain-Nya yang dapat memalingkan manusia dari esensi penciptaannya, yakni menebar kemaslahatan kepada sesama dan lingkungannya.

Kemaslahatan publik (bonum commune) tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dan berkembang di dalam ruang-ruang kolaborasi dan kesediaan untuk mengemban tanggung jawab bersama. Dalam ungkapan Miskawayh, manusia, pada dasarnya, adalah makhluk sosial. Ia tak bisa hidup sendiri dan menghendaki gotong-royong. Empat kebajikan yang bersumber dari penggemblengan jiwa sebagaimana telah diulas di atas akan muncul apabila kesediaan untuk mengemban tanggung jawab bersama tercermin di dalam kebijakan publik yang diambil. Di sinilah kearifan seorang pemimpin dibutuhkan.

Dalam konteks kebijakan pengadaan truk dan pikap, salah satu cerminan kearifan jiwa seorang pemimpin adalah keberaniannya untuk mengoreksi keputusan yang keliru dan merealokasi anggaran negara senilai Rp24,66 triliun untuk merevitalisasi 71.000 satuan pendidikan dan memberikan remunerasi yang layak kepada tenaga pendidik di dalam negeri (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2026) yang berkorelasi positif terhadap upaya mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa.

Upaya mencerdaskan anak-anak bangsa adalah prasyarat utama yang diperlukan untuk pembersihan jiwa bangsa. Kenapa hal ini sedemikian pentingnya? Dalam tradisi filsafat Aristotelian, kemampuan berpikir rasional adalah penanda kemuliaan manusia. Dengan pendidikan dan pelatihan penalaran yang logis, diharapkan bermunculan calon-calon pemimpin baru yang berkarakter, tidak mudah terombang-ambing oleh informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, dan senantiasa memihak kepentingan publik. Lebih dari itu, mereka juga diharapkan mampu berasosiasi dengan masyarakat luas dan mengambil peran untuk bergotong-royong dalam pemenuhan hak-hak konstitusional warga di pelbagai lapangan keterlibatan sosial-kemasyarakatan. Inilah prasyarat kedua yang dibutuhkan untuk kemajuan bangsa ini.

Seperti disampaikan oleh Bung Hatta bahwa, “Indonesia merdeka tidak ada gunanya bagi kita, apabila kita tidak sanggup untuk mempergunakannya memenuhi cita-cita rakyat kita: hidup bahagia dan makmur dalam pengertian jasmani dan rohani”.

Ramadan adalah momentum para pemimpin untuk berbenah. Dengan spirit Ramadan, pembenahan harus dimulai dari kesadaran bahwa setiap warga negara menginginkan kebahagiaannya masing-masing. Dalam pandangan Miskawayh, ada tiga tangga kebahagiaan yang khas pada diri manusia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
BNPP Catat 5.436 Pelintas...
BNPP Catat 5.436 Pelintas di 15 PLBN, Entikong Paling Padat
Prabowo Bakal Takbiran...
Prabowo Bakal Takbiran di Sumut dan Salat Idulfitri 1447 H di Aceh
Persiapan Salat Idulfitri...
Persiapan Salat Idulfitri 1447 H Kenegaraan di Masjid Istiqlal Dimatangkan, Dihadiri Presiden dan Wapres?
Kemenag Bakal Gelar...
Kemenag Bakal Gelar Pemantauan Hilal Awal Syawal 1447 H di 117 Titik, Ini Lokasinya
Di Nuzullul Quran Kosgoro...
Di Nuzullul Qur'an Kosgoro 1957, Dave: Pengabdian kepada Masyarakat Harus Terus Dilakukan
Kemenag Kawal Penyaluran...
Kemenag Kawal Penyaluran Rp473 Miliar Dana Zakat selama Ramadan
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Mentadaburi Al Quran...
Mentadaburi Al Quran Lebih Utama dari Berdoa, Begini Penjelasannya
Ramadan Penuh Makna:...
Ramadan Penuh Makna: Berbagi dan Menjaga Kepedulian Sosial di Bulan Suci
Rekomendasi
Drawing Campus League...
Drawing Campus League Basketball The Nationals 2026: Berebut Predikat Kampus Terbaik Indonesia
Timnas Indonesia dan...
Timnas Indonesia dan Oman Tiba, Lautan Suporter Padati Stadion GBK
Mayoritas Penduduk di...
Mayoritas Penduduk di 36 Negara Anggap Israel Tidak Baik
Berita Terkini
Dua Truk Towing Masuk...
Dua Truk Towing Masuk Rumah Silmy Karim saat KPK Lakukan Penggeledahan
Panitia Mubes Kosgoro...
Panitia Mubes Kosgoro 1957 Terima Dokumen Lengkap Caketum La Ode Safiul Akbar
Islah Bahrawi Mengaku...
Islah Bahrawi Mengaku Dapat Intimidasi dari OTK, Rumah Diintai hingga Aktivitasnya Dibuntuti
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
Penunjukan Kepala BGN...
Penunjukan Kepala BGN Baru Dinilai Tepat untuk Membenahi MBG
KPK Lelang 106 Lot Barang...
KPK Lelang 106 Lot Barang Rampasan Korupsi dari 26 Perkara, Ada Handphone hingga Bidang Tanah
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved