Medan Perang AS-Israel vs Iran di Ruang Asimetris Tak Kasat Mata

Rabu, 04 Maret 2026 - 17:18 WIB
loading...
A A A
Pertama, jebakan teknologi militer (military trap). Membombardir Teheran dan meretas ruang sakral mungkin melumpuhkan fungsi komando sesaat, tetapi penghinaan kultural dapat menjadi inkubator radikalisme baru. Secara kuantitatif, Iran memang tidak memiliki kemampuan serang ke daratan AS. Opsi realistis Teheran adalah menekan target regional. Strategi ini memaksa AS bermain pada pertahanan yang mahal dan menguras pencegat (interceptor), sementara Iran beroperasi dekat teaternya sendiri.

Kedua, jebakan legitimasi kognitif (legitimacy trap). Ketika warga sipil dan arsitektur digital dikategorikan sebagai "medan perang", aspek jus in bello dalam Hukum Internasional ikut tergerus yang mengakibatkan privasi melemah, pembenaran pengawasan massal menguat, dan negara berpotensi makin represif atas nama keamanan.

Ketiga, jebakan legitimasi domestic (domestic legitimacy trap). Serangan ke Iran berpotensi membelah basis politik Presiden Trump; sebagian suara dalam spektrum MAGA menilai keterlibatan konflik luar negeri bertentangan dengan janji kampanye "tidak terjerat perang asing". Pada titik ini, perang informasi tidak hanya menyerang musuh, tetapi memukul kohesi politik domestik penyerang.

Lonceng Peringatan bagi Indonesia

Apa yang menimpa Iran adalah peringatan eksistensial bagi Indonesia. Sebagai negara dengan pengguna internet dan media sosial yang masif, serta keragaman sosial yang tinggi, lanskap kognitif masyarakat kita sangatlah rentan untuk dieksploitasi oleh operasi informasi asing.

Perang masa depan tidak selalu membutuhkan invasi armada kapal induk di perairan Indonesia. Musuh dapat mengeksploitasi celah identitas, menyusupi aplikasi keseharian warga, menyebarkan disinformasi yang merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara, lalu membiarkan masyarakat saling menghancurkan dari dalam. Ini adalah perang kognitif yang sejati: menjajah pikiran sebelum menaklukkan daratan.

Indonesia perlu meredefinisi Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) untuk mengintegrasikan domain kognitif sebagai palagan utama yang harus dipertahankan. Kebijakan pertahanan perlu menjalankan secara beriringan aspek modernisasi alpalhankam fisik dengan ketahanan digital, literasi informasi masyarakat dan kedaulatan atas teknologi sipil yang bersinggungan langsung dengan persepsi ratusan juta warga.

Indonesia, dengan segala kerentanan dan potensinya, harus menjadikan konflik ini sebagai cermin: pertahanan negara di abad ke-21 bukan hanya soal alpalhankam yang canggih, tetapi juga soal ketahanan pikiran bangsa.

Note: Pandangan dalam opini ini adalah pribadi
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Yusril Bicara Kedekatan...
Yusril Bicara Kedekatan Prabowo-Trump, Sebut Hubungan RI-AS Tak Sekadar Urusan Pemerintah
Perang Iran 2026: Ketika...
Perang Iran 2026: Ketika Diplomasi Berbicara dengan Bahasa Rudal
Prabowo Terima Menlu...
Prabowo Terima Menlu Turki di Hambalang, Bahas Palestina hingga Timur Tengah
Hari ke-83 Perang Iran:...
Hari ke-83 Perang Iran: Ketika Diplomasi Menjadi Jeda Kematian
Fenomena Rupiah Melemah...
Fenomena Rupiah Melemah dan Dilema Impossible Trinity: Membaca Kepanikan Investor di Tengah Ketidakpastian Global
Manuver Dua Kaki China...
Manuver Dua Kaki China di Panggung Global
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Rekomendasi
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
UBAYA Tantang SCU di...
UBAYA Tantang SCU di Final Putri, Perbanas Hadapi UKSW pada Puncak Campus League 2026
Instagram Down Massal,...
Instagram Down Massal, Benarkah Sengaja Diblokir karena Demo Mahasiswa?
Berita Terkini
Pengamat Kebijakan Publik...
Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Arah Baru BGN, Transparansi dan Refocusing MBG
Waka BGN Sony Sonjaya...
Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Kejagung Bakal Periksa Pekan Depan
Penampakan Andri Mulyono...
Penampakan Andri Mulyono Pakai Rompi Tahanan usai Jadi Tersangka Baru Pengadaan Motor Listrik BGN
Kejagung: Tersangka...
Kejagung: Tersangka Andri Mulyono Mark up Pengadaan Motor Listrik BGN
Tepis Isu Menguntungkan...
Tepis Isu Menguntungkan Kapolri, Pakar: UU Polri Baru Berpihak pada Kepentingan Publik
Refly Harun Pertanyakan...
Refly Harun Pertanyakan Nasib Kasus Roy Suryo Cs: Sudah 30 Kali Wajib Lapor, Kasus Belum Jelas
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved