Selat Hormuz Pasca Ali Khamenei dan Implikasinya ke Energi Migas Indonesia

Minggu, 01 Maret 2026 - 21:03 WIB
loading...
A A A
Negara-negara industri Asia Timur seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan menyerap hampir 67% dari seluruh minyak dan kondensat yang melintasi Hormuz. Ketergantungan ini menjadikan selat sebagai faktor penentu keberlangsungan industri mereka, karena energi adalah fondasi utama bagi produktivitas manufaktur, transportasi, dan daya saing ekonomi. Setiap gangguan di Hormuz bukan sekadar isu regional, melainkan ancaman langsung terhadap rantai pasok global.

Selain itu, Irak sebagai raksasa tua pemilik sumber daya migas juga memiliki kepentingan besar. Wilayah utara Irak, yang didominasi etnis Kurdi, menyimpan lapangan minyak utama dan sering menjadi proxy konflik. Sejarah kejayaan Sultan Salahuddin Ayubi dari Kurdistan abad 12, masih menjadi simbol kebanggaan, dan aspirasi Kurdistan yang tercerai-berai di enam negara saat ini, menambah kompleksitas geopolitik kawasan.

Jika Irak Utara mampu memperkuat posisinya, maka akan muncul kekuatan tawar luar biasa, baik terhadap pemerintah pusat maupun negara-negara sekitar, yang pada akhirnya turut memengaruhi dinamika energi di Selat Hormuz.

Dimensi Geoekonomi: Dampak bagi Indonesia
Bagi Indonesia, stabilitas Selat Hormuz sangat menentukan. Pasokan minyak mentah Arab Light Crude ke kilang Cilacap dan kilang lain di Indonesia bergantung pada jalur ini. Demikian juga minyak mentah atau produk melalui tanker tanker yang disewa Pertamina, juga mayoritas melewati selat Hormuz.

- Impor BBM: Tahun 2022, Indonesia mengimpor 166 juta barel BBM, dengan komposisi 79% bensin dan 19% solar.
- Kapasitas kilang: Total kapasitas kilang nasional 1.151 MBSD, dengan Cilacap sebagai yang terbesar (348 MBSD).
- Konsumsi BBM: 78 juta KL pada 2022, 90% di sektor transportasi.
- Impor LPG: 7 juta ton per tahun, sekitar 90% dari kebutuhan nasional. Tanpa LPG, dapur masyarakat akan lumpuh, termasuk program makan bergizi gratis pemerintah.

Ketergantungan ini membuat Indonesia sangat rentan. Jika Selat Hormuz terganggu, biaya asuransi tanker melonjak, atau jalur harus dialihkan melalui Afrika Selatan yang jauh lebih mahal.

Indeks Ketahanan Energi Indonesia 2024 menunjukkan skor 6,64 (resilient). Namun, untuk impor energi skornya hanya 3,89 (vulnerable), dan untuk gas bumi serta LPG 5,36 (less resilience). Artinya, ketahanan energi Indonesia masih rapuh terhadap guncangan eksternal.

Disrupsi Logistic Supply Chain


Disrupsi rantai pasok energi global melalui Selat Hormuz bukan sekadar ancaman teknis, melainkan risiko strategis bagi Indonesia. Jalur ini menjadi nadi impor crude oil, BBM, dan LPG, baik langsung maupun melalui Singapura dan Korea Selatan.

Solusi yang diusulkan bukanlah pembangunan cadangan penyangga strategis yang mahal, melainkan kerja sama internasional berbasis fasilitas penyimpanan bersama. Model ini sudah dipraktikkan Jepang: Arab Saudi membangun fasilitas penyimpanan besar di wilayah selatan Jepang (sekitar Okinawa). Dalam perjanjian bilateral, sebagian kapasitas tangki tersebut dapat digunakan Jepang untuk menjaga kestabilan pasokan energi nasional.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Masalah Perampasan Aset...
Masalah Perampasan Aset Tindak Pidana
Mahalnya Harga Stabilitas
Mahalnya Harga Stabilitas
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perang Berkepanjangan...
Perang Berkepanjangan AS Vs Iran, Indonesia Wajib Perkuat Ketahanan Nasional dan Diplomasi Strategis
Apakah Strategi Panas...
Apakah Strategi Panas dan Dingin yang dilakukan Trump untuk Menekan Iran Bisa Sukses?
Pasukan Khusus AS Siapkan...
Pasukan Khusus AS Siapkan Operasi Perebutan Bom Nuklir Iran, Ini 7 Strateginya
Biaya Logistik Global...
Biaya Logistik Global Menggila, Ancaman Inflasi Tak Hanya dari Harga Minyak
Rekomendasi
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
Yusril Imbau Dedi Mulyadi...
Yusril Imbau Dedi Mulyadi Tak Bikin Sayembara Tangkap Begal: Khawatir Masyarakat Jadi Main Hakim Sendiri
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
Berita Terkini
Robikin Emhas: Marwah...
Robikin Emhas: Marwah NU Tercabik-cabik Hanya karena Konflik Elite PBNU
Polemik Londo Ireng,...
Polemik Londo Ireng, IJTI Minta Presiden Hindari Diksi yang Bisa Beri Label Negatif bagi Profesi Jurnalis
Febrie Adriansyah Tak...
Febrie Adriansyah Tak Pakai Rompi Tahanan, Eks Penyidik KPK: Persepsi Publik Ada Keistimewaan Tidak Bisa Dicegah
Apresiasi Pelaksanaan...
Apresiasi Pelaksanaan PTT BSPS di Bandung, Mendagri: Tender Rakyat Perkuat Transparansi
Mantan Ketua MK Sebut...
Mantan Ketua MK Sebut Kondisi Indonesia Suram: Hukum Sangat Tajam ke Bawah, tapi Tumpul ke Atas
Dugaan Keterkaitan Eks...
Dugaan Keterkaitan Eks Jampidsus dengan Sejumlah Kasus Korupsi Disorot
Infografis
Spesifikasi dan Daya...
Spesifikasi dan Daya Tempur Kapal Induk Pertama Indonesia Giuseppe Garibaldi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved