Qiyam Ramadan dan Organisme Pesantren

Selasa, 24 Februari 2026 - 15:50 WIB
loading...
A A A
"Barang siapa shalat Isya berjamaah, maka seolah-olah dia telah shalat separuh malam. Dan barang siapa shalat Subuh berjamaah, maka seolah-olah dia shalat semalaman penuh." (HR. Muslim no. 656)

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Tirmidzi dengan redaksi yang mirip. Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan ini menunjukkan betapa besar nilai kebersamaan dalam ibadah.

"Subhanallah, Nak. Cuma Isya dan Subuh berjamaah, Allah hitung seperti qiyam separuh malam, bahkan semalam penuh. Ini yang namanya keberkahan jamaah."

Dalam hidup pesantren, kita juga merasakan hal yang sama. Hidup sendiri, belajar sendiri, ya bisa saja. Tapi kenapa kita milih mondok? Karena kita percaya, di kebersamaan itu ada barokah yang nggak kita dapat kalau sendiri-sendiri.

KH. Ahmad Suharto, salah satu guru kita di Gontor, dalam bukunya Senarai Kearifan Gontory menulis, "Kebersamaan adalah kekuatan. Sendiri cepat, bersama jauh." Persis kayak shalat berjamaah: kalau sendiri, kita bisa cepat selesai. Tapi kalau bersama, kita jadi kuat, langgeng, dan nilainya lebih di mata Allah.

11 atau 23? Menelusuri Jejak Sejarah


"Nah, Nak, balik ke pertanyaanmu tadi. 11 atau 23?"

Saya ambil napas sebentar. Ini jawabannya memang nggak sesederhana hitungan rakaat. Ada sejarah panjang di baliknya.

"Gini lho, Nak. Dulu, Nabi Muhammad ﷺ sendiri itu shalat malam nggak lebih dari 11 rakaat. Kadang 13. Ini berdasarkan hadis shahih dari Aisyah RA. Tapi, bacaan beliau panjang banget. Saking panjangnya, sampai-sampai shalatnya bisa makan waktu separuh malam. Jadi, 11 rakaat Nabi itu kualitasnya lain."

"Terus, setelah Nabi wafat, di masa Sayyidina Umar bin Khattab, beliau lihat orang-orang shalat tarawih sendiri-sendiri, nggak teratur. Ada yang di pojok masjid, ada yang di rumah. Akhirnya, Sayyidina Umar kumpulin mereka di belakang satu imam, Ubay bin Ka'ab."

"Nah, di sinilah letak perbedaan. Ada riwayat yang menyebutkan 11 rakaat, ada yang 20, ada yang 23. Imam Malik dalam Muwaththa'-nya meriwayatkan dua versi: satu riwayat dari Yazid bin Ruman menyebutkan 23 rakaat, riwayat lain dari Muhammad bin Yusuf menyebutkan 11 rakaat dengan bacaan panjang."

"Para ulama kemudian berbeda pendapat. Imam Syafi'i, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad memilih 20 rakaat di luar witir. Sementara Imam Malik di Madinah melihat penduduknya melaksanakan 36 rakaat, karena mereka ingin menyamakan lamanya ibadah dengan penduduk Makkah yang di sela-sela tarawih melakukan thawaf. Imam Malik membolehkan semua itu, karena ini masalah ijtihad, bukan aqidah."

"Yang jadi ijma' (konsensus) para sahabat sebenarnya bukan pada jumlah rakaatnya, tapi pada disunnahkannya tarawih berjamaah. Kebijakan Umar untuk mengumpulkan jamaah disepakati para sahabat, dan nggak ada yang mengingkari. Ini yang kemudian disebut ijma' sukuti, dan menjadi dasar bahwa tarawih berjamaah itu sunnah muakkadah."

"Jadi, Nak, jangan sampai kita sibuk berdebat soal jumlah, sampai lupa sama iman dan ihtisab tadi. Yang 11 atau 23, kalau nggak ada iman dan ihtisab, ya sama saja. Ini masalah furu'iyyah (cabang), bukan ushuliyyah (pokok). Masing-masing punya dalil dan ulama yang mengikutinya."

Di sini, saya jadi mikir, pesantren juga begitu. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang 1000 santri, ada yang cuma 50. Tapi yang bikin pesantren itu "hidup" bukan jumlah santri atau rakaat shalatnya. Tapi iman dan ihtisab yang menggerakkan.

Fleksibel, Tapi Tetap Jaga Jati Diri

"Di zaman Imam Malik, penduduk Madinah itu shalat tarawih sampai 36 rakaat. Sementara penduduk Makkah, karena waktunya kebanyakan buat thawaf, cukup 20 rakaat. Imam Malik—beliau pendiri Mazhab Maliki—membolehkan dua-duanya. Beliau bilang, 'Ini masalah ijtihad, masing-masing punya tradisi yang diwariskan dari ulama mereka.'"

"Nah, ini yang namanya fleksibilitas dalam Islam. Kita bisa beda-beda, asal masih dalam koridor yang benar. Yang penting, jangan sampai beda-beda itu bikin kita pecah."

Pesantren juga harus fleksibel. Darunnajah di Jakarta ini, lingkungannya beda sama pesantren di desa. Harus adaptasi. Ada program komputer, ada bahasa asing, ada kurikulum nasional. Tapi DNA-nya tetap: Ahlussunnah wal Jama'ah, ngaji kitab kuning, dan yang paling penting, iman dan ihtisab.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menag Sebut Pesantren...
Menag Sebut Pesantren Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat
Pesantren dan AI, Cucun...
Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
PBNU: Segelintir Kasus...
PBNU: Segelintir Kasus Kekerasan Seksual Tak Mewakili Wajah Pesantren
Mengenal Gareth Morgan:...
Mengenal Gareth Morgan: di Balik Metafora Organisme Pesantren
Rakernas Inkopotren...
Rakernas Inkopotren 2026 Fokus Dorong UMKM Pesantren Go Internasional
Komdigi Siapkan Roadmap...
Komdigi Siapkan Roadmap AI, Pesantren Didorong Jadi Jangkar Moral Sosial
KH Hasanuddin Kriyani...
KH Hasanuddin Kriyani Resmi Menjadi Sesepuh Pondok Buntet Pesantren
Tangis Celine Evangelista...
Tangis Celine Evangelista saat Antar Jemima Guri ke Pesantren
Kang Cucun Ajak Pesantren...
Kang Cucun Ajak Pesantren Cetak Santri Unggul Berjiwa Wirausaha dan Literasi Digital
Rekomendasi
Tak Hanya Sehat, Olahraga...
Tak Hanya Sehat, Olahraga Calon Ayah Berpotensi Perbaiki DNA Anak
DBL Indonesia Lepas...
DBL Indonesia Lepas Tim ke Amerika Serikat, Musim 2026-2027 Digelar di 31 Kota
Gavi Akhirnya Buka Mulut...
Gavi Akhirnya Buka Mulut setelah Dibanting Paredes di Final Piala Dunia 2026
Berita Terkini
TNI-Polri Harus Profesional,...
TNI-Polri Harus Profesional, Prabowo: Jangan Ada Loyalitas Korps yang Sempit
Pakar Hukum Didit Wijayanto...
Pakar Hukum Didit Wijayanto Sebut Dian Sandi Harusnya Terkena Pasal 32 UU ITE, Bukan Roy Suryo
Lantik 1.177 Perwira...
Lantik 1.177 Perwira TNI-Polri, Prabowo: Pangkat adalah Amanah dan Kepercayaan Rakyat
Prabowo Lantik 1.177...
Prabowo Lantik 1.177 Perwira TNI-Polri, Anugerahkan Adhi Makayasa ke Lulusan Terbaik
Akademisi UI: Indonesia...
Akademisi UI: Indonesia Perlu Regulasi Atasi Ancaman Spionase dan Siber
Belum Genap 2 Bulan...
Belum Genap 2 Bulan Jabat Kepala BGN, Nanik Mundur untuk Pengobatan Jantung
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved