Qiyam Ramadan dan Organisme Pesantren

Selasa, 24 Februari 2026 - 15:50 WIB
loading...
A A A
Kalau adaptasi ini nggak dijaga, kita bisa kehilangan jati diri. Kayak orang shalat, kalau jumlah rakaatnya benar tapi nggak ada niat, ya nggak sah.

Tingkatan Pengabdian, Tingkatan Kehidupan

Setelah ngobrol panjang, santri itu mulai paham. Saya bilang ke dia, "Nak, dalam ibadah itu ada tingkatan. Ada yang baru bisa shalat Isya dan Subuh berjamaah, itu sudah dapat pahala qiyam separuh malam. Ada yang tambah shalat sunnah, lebih tinggi lagi. Ada yang shalat panjang kayak Nabi, itu tingkat tertinggi."

"Di pesantren juga begitu. Ada santri yang baru ikut ngaji, itu tahap awal. Ada yang aktif di organisasi, itu tahap berikutnya. Ada yang jadi ustadz, itu lebih tinggi. Ada yang jadi kiai, itu levelnya beda lagi. Tapi semua, dari level terendah sampai tertinggi, harus tetap pakai dua kunci tadi: iman dan ihtisab."

"Yang penting, nggak usah membandingkan diri sama orang lain. Jalanin aja terus. Seperti pohon pisang, dia nggak iri sama pohon lain. Dia jalani fungsinya, dia berbuah, lalu dia mati dan tinggalin tunas."

Ramadan Mengajarkan Energi Batin


Makin larut, suara dari mushala mulai sepi. Santri itu pamit, mau sahur katanya. Saya masih duduk, menikmati sisa malam.

Pertanyaan santri tadi, tentang 11 atau 23, sebenarnya nggak penting. Yang penting, apakah kita shalat malam ini dengan iman dan ihtisab? Apakah kita hadir di masjid ini karena iman, atau karena kebiasaan? Apakah kita ikut tarawih karena ihtisab, atau karena ikut-ikutan?

KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, salah satu pengasuh Gontor yang sangat saya hormati, punya pesan yang sering diulang: "Lambat terbabat, malas tergilas, berhenti mati, mundur hancur. Maka bergerak dan majulah lillah."

Tapi beliau juga mengingatkan, semua gerak itu harus lillah. Karena Allah, bukan karena yang lain.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "imanan" dalam hadis tarawih adalah membenarkan janji Allah tentang pahala, dan "ihtisaban" adalah melakukannya karena Allah, bukan karena ingin dilihat manusia. Dua syarat ini yang membedakan antara ibadah dan kebiasaan kosong.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga pernah mengatakan bahwa perbedaan jumlah rakaat tarawih adalah kelapangan dari Allah untuk umat ini. Yang penting bukan banyaknya rakaat, tapi kekhusyu'an dan keikhlasan.

Ramadan ini mengajarkan kita tentang energi batin. Energi yang nggak kelihatan, tapi menggerakkan kita buat bangun malam, buat shalat, buat ngaji, buat jaga lisan. Energi yang sama yang menggerakkan pesantren-pesantren kita: iman dan ihtisab.

KH. Ahmad Suharto, dalam buku Menggali Mutiara Perjuangan Gontor, menulis, "Yang membuat pesantren abadi bukanlah gedung megah atau jumlah santri yang banyak. Tapi nilai-nilai yang terus dirawat, dan energi batin yang tak pernah padam."

Qiyam Ramadan mengajarkan kita tentang energi batin itu. Bahwa menghidupkan malam bukan cuma hanya tentang rakaat, tapi soal mengistiqomahkan hati.

Dan pesantren, apapun modelnya, pada akhirnya adalah tentang menghidupkan hati-hati yang akan terus berdetak, jauh setelah kita tiada.

Seperti pohon pisang, yang mati setelah berbuah. Tapi sebelum mati, ia meninggalkan tunas-tunas baru. Dan tunas-tunas itu akan tumbuh, berbuah, lalu meninggalkan tunas lagi. Begitu seterusnya, sampai akhir zaman.

*) Muhammad Irfanudin Kurniawan, peneliti organisme pesantren. Dosen di Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta. Santri Gontor angkatan 2004, pengurus komisi Pesantren MUI Pusar. Masih terus belajar dari pesantren-pesantren di Nusantara.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pesantren dan AI, Cucun...
Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
PBNU: Segelintir Kasus...
PBNU: Segelintir Kasus Kekerasan Seksual Tak Mewakili Wajah Pesantren
Mengenal Gareth Morgan:...
Mengenal Gareth Morgan: di Balik Metafora Organisme Pesantren
Rakernas Inkopotren...
Rakernas Inkopotren 2026 Fokus Dorong UMKM Pesantren Go Internasional
Komdigi Siapkan Roadmap...
Komdigi Siapkan Roadmap AI, Pesantren Didorong Jadi Jangkar Moral Sosial
Badan Hukum: Sistem...
Badan Hukum: Sistem Imun yang Sering Terlupakan
Kang Cucun Ajak Pesantren...
Kang Cucun Ajak Pesantren Cetak Santri Unggul Berjiwa Wirausaha dan Literasi Digital
IPB University dan Pesantren...
IPB University dan Pesantren Darunnajah 14 Gelar Pelatihan Produk Unggulan Pesantren
Mengapa Zulhijjah Termasuk...
Mengapa Zulhijjah Termasuk Bulan Haram? Begini Penjelasannya
Rekomendasi
Kronologi ART Angel...
Kronologi ART Angel Lelga Ketahuan Mencuri, Berawal dari Cari Barang yang Mau Dipakai
Jaring Bibit Unggul...
Jaring Bibit Unggul Olahraga, Program Pengembangan Atlet Sasar Kaum Muda
Badan Intelijen AS Kehilangan...
Badan Intelijen AS Kehilangan Akses ke Alat AI Mythos 5, Apa Pemicunya?
Berita Terkini
5 Pangdam Lulusan Akmil...
5 Pangdam Lulusan Akmil 1997 Teman Satu Angkatan Danpaspampres Mayjen Edwin Adrian Sumantha
Ketua BEM FH UBK Akui...
Ketua BEM FH UBK Akui Terima Rp20 Juta, DPR: Polri Harus Investigasi
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Jalani Sidang Pembacaan Dakwaan Hari Ini
Program Binawan Eropa...
Program Binawan Eropa Antarkan 36 Perawat Indonesia Berkarier di Eropa
Roy Suryo Tegaskan Jokowi...
Roy Suryo Tegaskan Jokowi Harus Hadir di Pengadilan: Nggak Boleh Mengakali dengan Zoom
Jalur Medan-Berastagi...
Jalur Medan-Berastagi Tak Lagi Memadai
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved