Ekstremisme Kekerasan di Asia Tenggara

Jum'at, 13 Februari 2026 - 10:25 WIB
loading...
Ekstremisme Kekerasan...
Ridwan al-Makassary, Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII. Foto/Dok.SindoNews
A A A
Ridwan al-Makassary
Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII

PADA 12 Februari 2026 ini, dunia kembali merayakan Hari Pencegahan Ekstremisme Kekerasan (The International Day for the Prevention of Violent Extremism) dengan nada getir: ekstremisme kekerasan masih acap terjadi pada tingkat global, regional, nasional. Ekstremisme sendiri tidak terbit dari ruang hampa sejarah.

Ia acap tumbuh di mana ketidakadilan tetap ada, di mana suara-suara dibungkam, dan di mana individu, terutama generasi muda, merasa dikucilkan dari kesempatan, identitas, dan kepemilikan. Namun, ia terbit dari luka sosial, ketidakadilan yang dibiarkan, identitas yang diperalat, dan tafsir agama maupun ideologi yang dimanipulasi.

Karenanya, ekstremisme kekerasan tetap menjadi salah satu tantangan paling rumit di planet bumi, yang mempengaruhi komunitas lintas wilayah, budaya, dan agama. Di Asia Tenggara, kita memiliki sejarah panjang dalam menghadapi ekstremisme kekerasan, sejak dari jaringan terorisme transnasional, termasuk Jemaah Islamiyah dan ISIS, hingga radikalisasi berbasis identitas etno-religius.

Indonesia pernah diguncang bom Bali; Filipina berhadapan dengan konflik bersenjata di Mindanao; Thailand Selatan mengalami siklus kekerasan yang berkepanjangan akibat pengabaian budaya; sementara Myanmar menunjukkan bagaimana nasionalisme eksklusif dapat bersalin rupa menjadi tragedi kemanusiaan. Negara selalu merespons dengan pendekatan kemanan.

Padahal pendekatan keamanan semata tidak pernah cukup, lantaran ekstremisme kekerasan bukan hanya soal senjata dan bom, tetapi juga berkenaan dengan krisis makna. Terlepas dari itu. Asia Tenggara sesungguhnya memiliki modal sosial yang kuat.

Tradisi Islam Nusantara, Buddhist compassion, kearifan lokal Filipina, dan budaya gotong royong di berbagai komunitas adalah sumber daya moral yang luar biasa. Murungnya, modal ini acap takluk di hadapan politik identitas yang sempit.

Agama, ketika direduksi menjadi alat mobilisasi politik, mudah terjebak dalam dikotomi “kami” versus “mereka.” Namun, agama yang berakar pada spiritualitas dan kemanusiaan justru menjadi vaksin terhadap ekstremisme. Konsep rahmatan lil ‘alamin dan nilai-nilai persaudaraan manusia seharusnya menjadi fondasi kebijakan publik, bukan sekadar retorika seremonial.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ferdinand: Pernyataan...
Ferdinand: Pernyataan Tiyo Soal Teror Alat Penyadap Masuk Kategori Penyebaran Hoaks
Dikuntit OTK, Islah...
Dikuntit OTK, Islah Bahrawi Sebut Polanya Mirip Kasus Andrie Yunus
Islah Bahrawi Mengaku...
Islah Bahrawi Mengaku Dapat Intimidasi dari OTK, Rumah Diintai hingga Aktivitasnya Dibuntuti
KJRI Penang: Konektivitas...
KJRI Penang: Konektivitas BNCT Perkuat Rantai Pasok bagi Negara-negara Asean dan Asia
Prabowo Terbitkan Perpres...
Prabowo Terbitkan Perpres Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Mengarah Terorisme
Hadapi Dominasi China...
Hadapi Dominasi China Tanpa Pihak Luar, ASEAN Diimbau Perkuat Persatuan
Yordania Gantung 6 Orang...
Yordania Gantung 6 Orang atas Tuduhan Terorisme
Perkuat Kolaborasi Kampus,...
Perkuat Kolaborasi Kampus, MNC University Inisiasi Konsorsium Perguruan Tinggi ASEAN
Dosen UIN Sunan Ampel:...
Dosen UIN Sunan Ampel: Dana Asing Tak Dilarang tapi Negara Wajib Mengawasi
Rekomendasi
Melihat Langsung Dapur...
Melihat Langsung Dapur Perakitan Baterai Wuling di Liuzhou China!
Meriah! Pengwil INI...
Meriah! Pengwil INI Jateng Gelar Peringatan HUT ke-118 Ikatan Notaris Indonesia di Solo dan Karanganyar
Evaluasi Sukses, Perpindahan...
Evaluasi Sukses, Perpindahan Layanan Umrah ke Terminal 2F Dipercepat Jadi 10 Juli!
Berita Terkini
Menangkan Praperadilan...
Menangkan Praperadilan soal Penangkapan, Roy Suryo Kian Pede Jalani Sidang Praperadilan Kedua
Menhut Raja Antoni:...
Menhut Raja Antoni: Hutan Jadi New Engine of Green Growth, Pembangunan-Kelestarian Harus Berjalan Seiring
Hakim Kabulkan Sebagian...
Hakim Kabulkan Sebagian Gugatan Praperadilannya, Roy Suryo: Babak Baru Hukum Indonesia
Dari Sosialisme Islam...
Dari Sosialisme Islam menuju Negara Kesejahteraan: Agenda Kerakyatan SEMMI untuk Indonesia
Rencana Kejagung Jerat...
Rencana Kejagung Jerat Nadiem Makarim dengan TPPU Diapresiasi Pakar Hukum
Indonesia-India Sepakati...
Indonesia-India Sepakati 15 Kerja Sama, Restorasi Candi Prambanan hingga Rudal BrahMos
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved