Mengapa Anak dan Remaja Bunuh Diri?

Rabu, 04 Februari 2026 - 19:39 WIB
loading...
A A A
Bunuh diri pada anak dan remaja merupakan masalah kesehatan mental yang krusial dan memerlukan perhatian profesional. Meskipun secara epidemiologis kasus bunuh diri pada usia sekolah dasar relatif lebih jarang dibandingkan remaja dan dewasa, bukti ilmiah menunjukkan bahwa perilaku ini tetap dapat terjadi pada usia dini sebagai hasil interaksi faktor risiko yang kuat (Becker et al., 2020).

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan kesehatan mental—khususnya depresi, kecemasan, dan disregulasi emosi—merupakan faktor risiko psikologis utama yang berkaitan dengan munculnya ide dan perilaku bunuh diri pada anak dan remaja (Febrianti & Husniawati, 2021).

Pada masa kanak-kanak dan awal remaja, kemampuan regulasi emosi masih berada dalam proses pematangan. Struktur saraf yang berperan dalam kontrol emosi, terutama korteks prefrontal, berkembang secara bertahap hingga usia dewasa muda (Casey et al., 2019).

Akibatnya, anak belum sepenuhnya mampu mengelola emosi intens seperti kecewa, frustrasi, malu, atau kesepian secara adaptif. Ketika tekanan psikososial melebihi kapasitas perkembangan ini, anak menjadi lebih rentan terhadap respons maladaptif.

Faktor sosial dan lingkungan memainkan peran penting dalam meningkatkan risiko bunuh diri pada anak dan remaja. Studi di Hong Kong terhadap 2.004 remaja dan dewasa muda menunjukkan bahwa individu yang terlibat dalam bullying baik sebagai pelaku, korban, maupun keduanya memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami ide dan perilaku bunuh diri dibandingkan mereka yang tidak terlibat dalam bullying (Zakia, 2025).

Selain bullying, trauma dan pengalaman masa kecil yang merugikan, seperti kekerasan, penyalahgunaan, atau pengabaian, terbukti berdampak jangka panjang terhadap kerentanan individu terhadap perilaku bunuh diri. Studi longitudinal menunjukkan bahwa pengalaman kekerasan pada masa kanak-kanak memiliki hubungan signifikan dengan ide dan percobaan bunuh diri di kemudian hari (Duprey et al., 2022).

Kurangnya dukungan keluarga, relasi yang tidak aman dengan pengasuh, serta keterasingan sosial juga secara konsisten diidentifikasi sebagai determinan penting dalam literatur internasional mengenai risiko bunuh diri pada anak dan remaja (Ajluni, 2024; Kılınç et al., 2025).

Perkembangan teknologi informasi dan meningkatnya penggunaan media sosial oleh anak dan remaja turut memperbesar kerentanan psikologis. Paparan konten yang tidak sesuai usia—termasuk konten emosional, sugestif, atau yang mengglorifikasi perilaku ekstrem—dapat meningkatkan risiko ide dan perilaku menyakiti diri (O’Reilly et al., 2018).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kekerasan Fisik dan...
Kekerasan Fisik dan Seksual Masih Ada, Menag: Pesantren Harus Jadi Ruang Paling Aman bagi Anak
Menteri Arifah: PP Tunas...
Menteri Arifah: PP Tunas Lindungi Anak dari Ancaman Ruang Digital
KLB Campak Meningkat,...
KLB Campak Meningkat, Vita DPR: Negara Tak Boleh Abai Lindungi Anak
Pemerintah Batasi TikTok...
Pemerintah Batasi TikTok hingga Roblox untuk Anak-anak, Orang Tua: Kita Dukung!
Sinergi Sekolah-Densus...
Sinergi Sekolah-Densus 88: Perkuat Guru sebagai Lini Terdepan Pelindung Remaja dari Radikalisme
Seskab Teddy Dorong...
Seskab Teddy Dorong Orang Tua Batasi Akses Media Sosial bagi Anak
Ruben Onsu Tak Lagi...
Ruben Onsu Tak Lagi Harapkan Permintaan Maaf Sarwendah, Hanya Ingin Bertemu Anak
Dilarang Sering Gendong...
Dilarang Sering Gendong Baby Soleil, Alyssa Daguise Bantah Mitos Bayi Bau Tangan
Viral Mitos Lemak Berbahaya...
Viral Mitos Lemak Berbahaya untuk MPASI Anak, Ini Penjelasan Dokter!
Rekomendasi
Suka Takut Minum Vitamin...
Suka Takut Minum Vitamin C Karena Bikin Lambung Perih? Ini Penjelasannya
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Asal-usul Puasa Asyura...
Asal-usul Puasa Asyura dan Tasua, Benarkah Berasal dari Tradisi Yahudi?
Berita Terkini
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditahan, Din Syamsuddin Siap Jadi Penjamin
Kuliah Umum di IPDN,...
Kuliah Umum di IPDN, Menko AHY Ajak Praja Taklukkan Tantangan Geografis Indonesia
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang,...
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang, Golkar: Entah Apa yang Diseimbangkan, Nanti Rakyat yang Menilai
4 Prajurit TNI Penyiram...
4 Prajurit TNI Penyiram Air Keras ke Andrie Yunus Ajukan Banding
Ubedilah Badrun Bongkar...
Ubedilah Badrun Bongkar Upaya Pembelahan Gerakan Mahasiswa
Masalah Hukum Penggunaan...
Masalah Hukum Penggunaan Artificial Intelligence
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved