Mengapa Anak dan Remaja Bunuh Diri?

Rabu, 04 Februari 2026 - 19:39 WIB
loading...
A A A
Penelitian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi dengan peningkatan gejala kecemasan, depresi, dan ide bunuh diri, terutama ketika anak dan remaja membandingkan diri mereka dengan standar sosial yang dibangun melalui konten digital (Keles et al., 2020; Twenge et al., 2018). Ketidakseimbangan antara pengalaman emosional yang kompleks dan kemampuan regulasi emosi yang belum matang membuat anak lebih rentan terhadap dampak negatif paparan media sosial.

1. Upaya Preventif

Upaya pencegahan bunuh diri pada anak perlu difokuskan pada penguatan regulasi emosi sejak dini. Anak usia sekolah dasar perlu dibantu untuk mengenali emosi, memberi label pada pengalaman emosional, serta mengekspresikan emosi secara aman dan adaptif (Denham et al., 2015). Program social–emotional learning (SEL) terbukti efektif dalam menurunkan distress emosional dan meningkatkan keterampilan koping anak (Taylor et al., 2017).

Selain itu, pendampingan paparan media digital menjadi krusial. Anak belajar melalui observational learning, sehingga keterlibatan aktif orang tua dan guru dalam membantu anak memahami konten digital (co-viewing dan co-regulation) lebih efektif dibandingkan pembatasan layar semata (Bandura, 1986; Livingstone et al., 2018).

Relasi emosional yang aman dengan pengasuh juga merupakan faktor protektif utama. Anak yang merasa didengar dan divalidasi emosinya memiliki risiko lebih rendah terhadap distress psikologis dan ide bunuh diri (Thompson & Goodman, 2010).

2. Upaya Kuratif

Upaya kuratif perlu dimulai dengan deteksi dini distress emosional. Pada anak, distress sering kali muncul dalam bentuk tidak langsung, seperti perubahan perilaku, penarikan diri, regresi perkembangan, atau keluhan somatik. Guru dan tenaga kesehatan perlu dibekali keterampilan literasi kesehatan mental untuk mengenali tanda peringatan dini risiko bunuh diri (Bridge et al., 2012).

Pendekatan intervensi psikologis pada anak tidak dapat disamakan dengan terapi orang dewasa. Intervensi berbasis usia, seperti play therapy, emotion-focused therapy, dan trauma-informed care, lebih sesuai karena menekankan rasa aman, relasi terapeutik, dan pemrosesan emosi secara simbolik (Landreth, 2012).

Literatur juga menunjukkan bahwa intervensi individual pada anak akan kurang efektif tanpa keterlibatan keluarga. Family-based intervention terbukti mampu menurunkan risiko perilaku bunuh diri melalui perbaikan pola komunikasi, peningkatan kehangatan emosional, dan pengurangan pola pengasuhan yang invalidatif (Diamond et al., 2016).

Kesimpulan

Bunuh diri pada anak usia sekolah dasar tidak dapat dipahami sebagai keputusan rasional, melainkan sebagai ekspresi kegagalan regulasi emosi dalam menghadapi tekanan psikososial yang melampaui kapasitas perkembangan anak. Oleh karena itu, setiap kasus bunuh diri pada anak harus dipahami sebagai alarm kegagalan sistem perlindungan psikososial. Pendekatan preventif dan kuratif yang empatik, relasional, dan berbasis perkembangan menjadi kunci utama dalam mencegah tragedi serupa di masa mendatang.

Beban ekonomi keluarga dalam kasus ini patut diduga menjadi pemicu utama sehingga sistem perlindungan dan jaminan sosial serta pendidikan bagi masyarakat miskin perlu mendapatkan perhatian.
(jon)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kekerasan Fisik dan...
Kekerasan Fisik dan Seksual Masih Ada, Menag: Pesantren Harus Jadi Ruang Paling Aman bagi Anak
Menteri Arifah: PP Tunas...
Menteri Arifah: PP Tunas Lindungi Anak dari Ancaman Ruang Digital
KLB Campak Meningkat,...
KLB Campak Meningkat, Vita DPR: Negara Tak Boleh Abai Lindungi Anak
Pemerintah Batasi TikTok...
Pemerintah Batasi TikTok hingga Roblox untuk Anak-anak, Orang Tua: Kita Dukung!
Sinergi Sekolah-Densus...
Sinergi Sekolah-Densus 88: Perkuat Guru sebagai Lini Terdepan Pelindung Remaja dari Radikalisme
Seskab Teddy Dorong...
Seskab Teddy Dorong Orang Tua Batasi Akses Media Sosial bagi Anak
Ruben Onsu Tak Lagi...
Ruben Onsu Tak Lagi Harapkan Permintaan Maaf Sarwendah, Hanya Ingin Bertemu Anak
Dilarang Sering Gendong...
Dilarang Sering Gendong Baby Soleil, Alyssa Daguise Bantah Mitos Bayi Bau Tangan
Viral Mitos Lemak Berbahaya...
Viral Mitos Lemak Berbahaya untuk MPASI Anak, Ini Penjelasan Dokter!
Rekomendasi
Pulisic Absen, Amerika...
Pulisic Absen, Amerika Serikat Bungkam Australia 2-0 di Piala Dunia 2026
Kisah Nabi Daud Bertobat...
Kisah Nabi Daud Bertobat 40 Hari 40 Malam, Diampuni Allah pada 10 Muharram
Asal-usul Puasa Asyura...
Asal-usul Puasa Asyura dan Tasua, Benarkah Berasal dari Tradisi Yahudi?
Berita Terkini
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditahan, Din Syamsuddin Siap Jadi Penjamin
Kuliah Umum di IPDN,...
Kuliah Umum di IPDN, Menko AHY Ajak Praja Taklukkan Tantangan Geografis Indonesia
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang,...
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang, Golkar: Entah Apa yang Diseimbangkan, Nanti Rakyat yang Menilai
4 Prajurit TNI Penyiram...
4 Prajurit TNI Penyiram Air Keras ke Andrie Yunus Ajukan Banding
Ubedilah Badrun Bongkar...
Ubedilah Badrun Bongkar Upaya Pembelahan Gerakan Mahasiswa
Masalah Hukum Penggunaan...
Masalah Hukum Penggunaan Artificial Intelligence
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved