Kemendagri: Pentingnya Feasibility Study Pengembangan Layanan Kedaruratan 112
Senin, 02 Februari 2026 - 20:37 WIB
loading...
A
A
A
Welly sebagai tokoh perintis Layanan 112 juga mengajak peserta merenungkan kembali urgensi kehadiran nomor tunggal 112 yang terinspirasi dari kejadian Erupsi Gunung Merapi dan Tsunami Yogyakarta 2006. Dia juga memaparkan tentang Emergency Service Platform Roadmap yang bisa menjadi salah satu referensi pengembangan Layanan 112 ke depannya.
Pakar Pelatihan Contact Center Lusi yang mewakili Grace Heny menyoroti aspek SDM sebagai ujung tombak layanan. Dia mengusulkan kerangka kompetensi khusus dan perlunya perhatian terhadap kesehatan mental petugas yang rentan stres, serta pentingnya sertifikasi profesi untuk menjaga standar kualitas layanan.
Kegiatan FGD berlanjut pada sesi kedua dengan menghadirkan diskusi tentang alur eksisting dan pengembangan serta berbagai KPI/SLA Panggilan darurat yang dikemas mengalir melalui Simulasi Sistem.
Mengetengahkan empat skenario kejadian darurat termasuk peristiwa Banjir di Aceh, simulasi yang difasilitasi Ahli Komunikasi Bencana Bachtiar Hakim dan Bagian Perencanaan Ditjen Bina Adwil ini membedah alur penanganan panggilan sesuai kondisi eksisting dan membandingkannya dengan beberapa model pengembangan.
Beberapa isu strategis yang berhasil diidentifikasi dan didapatkan solusinya antara lain standardisasi berbagai SLA panggilan, mekanisme penanganan kejadian di wilayah perbatasan antarkota/kabupaten melalui integrasi sistem atau conference call.
Peran Pemerintah Provinsi dan Pusat dalam hal ini Kemendagri sebagai pusat pemantauan dan call taker serta dispatcher jika eskalasi kejadian meluas dan berdampak pada lintas kabupaten/kota.
Hasil dari FGD Tahap I ini, termasuk temuan dari sesi simulasi akan menjadi bahan vital dalam penyusunan dokumen Feasibility Study yang akan divalidasi pada tahap selanjutnya.
Pakar Pelatihan Contact Center Lusi yang mewakili Grace Heny menyoroti aspek SDM sebagai ujung tombak layanan. Dia mengusulkan kerangka kompetensi khusus dan perlunya perhatian terhadap kesehatan mental petugas yang rentan stres, serta pentingnya sertifikasi profesi untuk menjaga standar kualitas layanan.
Kegiatan FGD berlanjut pada sesi kedua dengan menghadirkan diskusi tentang alur eksisting dan pengembangan serta berbagai KPI/SLA Panggilan darurat yang dikemas mengalir melalui Simulasi Sistem.
Mengetengahkan empat skenario kejadian darurat termasuk peristiwa Banjir di Aceh, simulasi yang difasilitasi Ahli Komunikasi Bencana Bachtiar Hakim dan Bagian Perencanaan Ditjen Bina Adwil ini membedah alur penanganan panggilan sesuai kondisi eksisting dan membandingkannya dengan beberapa model pengembangan.
Beberapa isu strategis yang berhasil diidentifikasi dan didapatkan solusinya antara lain standardisasi berbagai SLA panggilan, mekanisme penanganan kejadian di wilayah perbatasan antarkota/kabupaten melalui integrasi sistem atau conference call.
Peran Pemerintah Provinsi dan Pusat dalam hal ini Kemendagri sebagai pusat pemantauan dan call taker serta dispatcher jika eskalasi kejadian meluas dan berdampak pada lintas kabupaten/kota.
Hasil dari FGD Tahap I ini, termasuk temuan dari sesi simulasi akan menjadi bahan vital dalam penyusunan dokumen Feasibility Study yang akan divalidasi pada tahap selanjutnya.
(jon)
Lihat Juga :