Pesantren dan Eton: DNA Pendidikan yang Terlupakan

Rabu, 28 Januari 2026 - 18:02 WIB
loading...
Pesantren dan Eton:...
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Pengurus Komisi Pesantren MUI Pusat dan Dosen Kepemimpinan Pendidikan Pesantren UDN Jakarta.
A A A
Muhammad Irfanudin Kurniawan, Pengurus Komisi Pesantren MUI Pusat dan Dosen Kepemimpinan Pendidikan Pesantren Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta

“Guru-guru muda harus percaya diri: pesantren bukan masa lalu, pesantren adalah masa depan,” seru KH. Hadiyanto Arief di acara Silaturahim Nasional Pesantren Muadalah Muallimin & Musyawarah Nasional Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG). Pernyataan itu bukan motivasi kosong, melainkan kesimpulan dari sebuah pembacaan ulang yang mengejutkan.

Ayah Dedy panggilan akrab para santri kepada kiai muda ini menyampaikan pertanyaan, apa jadinya jika sistem pendidikan tertua di Nusantara yaitu Pesantren menyimpan DNA yang sama dengan sekolah elite seperti Eton College di Inggris atau Exeter Academy di Amerika? Lalu, mengapa kita lama tak menyadarinya?

Pemikiran kiai Dedy, salah satu pimpinan Pesantren Darunnajah Jakarta, bukanlah romantisme. Ia adalah klaim intelektual yang menantang cara pandang usang tentang pesantren. Dalam hiruk-pikuk wacana pendidikan internasional dengan segala istilah seperti liberal arts, character building, hingga leadership school, ia mengajak kita mereviu ke dalam tradisi kita sendiri, bahwa pesantren adalah pelopor pendidikan holistik Nusantara.

Dalam pemikiran kiai Dedy, gugusan liberal arts klasik Barat bermula dari keinginan membebaskan pikiran (artes liberales). Metodenya adalah dialektika ala Socrates; hasilnya adalah manusia merdeka yang berpikir luas. Pesantren, dengan basis nilai yang berbeda, ternyata berjalan pada rel yang sama.

Di pesantren, "pembebasan pikiran" terjadi melalui Bahtsul Masail (diskusi masalah) dan Munadzarah (debat ilmiah) yang tak kalah ketat dengan metode Sokratik. Konsep boarding school atau sistem asrama yang diagungkan pendidikan Barat sebagai ruang immersi total, telah menjadi denyut nadi pesantren selama berabad-abad. Yang di Barat disebut multi-disciplinary approach, di pesantren terwujud dalam penguasaan sains alat (Nahwu, Sharaf) untuk membedah teks, ditambah fikih, tauhid, tasawuf, dan akhlak dalam satu kesatuan utuh berlandaskan cara pandang tauhid.

Dan inilah titik terpenting, saat sekolah elite global berbangga mencetak pemimpin (leaders), pesantren sejak awal telah memiliki visi kaderisasi pemimpin umat (zu'ama). Visi ini melampaui sekadar pencetakan profesi. Inilah "DNA" yang terlupakan yang coba diingatkan kembali oleh Kiai. Dedy.

Pemikiran ini lahir bukan dari lamunan, melainkan dari pengalamannya memimpin pesantren di jantung metropolitan. Darunnajah Jakarta, yang diasuhnya, adalah sebuah laboratorium kehidupan. Di sana, kurikulum nasional berdialektika dengan kitab kuning; bahasa Inggris dan sains berdampingan dengan akhlak dan filsafat hidup. Kepemimpinan bukan sekadar teori, tetapi praktik 24 jam dalam organisasi santri dan kehidupan asrama.

Inilah yang disebut Kiai Dedy sebagai "menyegarkan cara membaca". Ruhnya atau jiwa pesantren tetap, tetapi caranya dibaca dengan kacamata kekinian. Tantangannya kini adalah kesenjangan narasi. Pesantren sering terjebak dalam dikotomi seperti tradisional versus modern, agama versus umum. Padahal, ia justru menawarkan sintesis dari semua itu.

Saat ini kita dihadapkan dengan krisis karakter dan pendidikan yang semakin tersekat-sekat dalam model-model keahlian atau hard Skill, model pesantren justru menawarkan jawaban yang tak terduga. Saat dunia Barat baru kembali menggalakkan Social-Emotional Learning (SEL), pesantren telah mempraktikkannya dalam ekosistem utuh selama berabad-abad.

Maka, tugas kita sekarang bukan lagi mengimpor wacana pendidikan global secara mentah-mentah. Melainkan, seperti diajarkan oleh KH. Hadiyanto Arief, dengan percaya diri menerjemahkan dan mempresentasikan khazanah pendidikan holistik kita sendiri kepada dunia. Dengan begitu, pesantren tidak lagi sekadar dianggap sebagai penjaga tradisi, tetapi sebagai pioneer masa depan pendidikan Indonesia yang berani berkata: kami telah memulainya sejak lama. Dan inilah saatnya dunia mengikuti.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pesantren dan AI, Cucun...
Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
Darunnajah Gelar 4th...
Darunnajah Gelar 4th ICOP Bersama Menteri ATR/BPN, Siap Optimalisasi Wakaf Nasional
PBNU: Segelintir Kasus...
PBNU: Segelintir Kasus Kekerasan Seksual Tak Mewakili Wajah Pesantren
Mengenal Gareth Morgan:...
Mengenal Gareth Morgan: di Balik Metafora Organisme Pesantren
PBNU: Iduladha 2026...
PBNU: Iduladha 2026 Jadi Pengingat Kemanusiaan di Tengah Dunia yang Terluka
Rakernas Inkopotren...
Rakernas Inkopotren 2026 Fokus Dorong UMKM Pesantren Go Internasional
Bertemu PWNU dan PCNU...
Bertemu PWNU dan PCNU se-Bengkulu, Gus Salam: Soliditasnya Bisa Jadi Teladan PBNU
Teladani KH. Wahab Hasbullah,...
Teladani KH. Wahab Hasbullah, Menag Dorong Pesantren Cetak Generasi Unggul
Workshop Pengasuh Bahas...
Workshop Pengasuh Bahas Strategi Pesantren Tetap Berkembang di Era Disrupsi
Rekomendasi
Silmy Karim Dicopot...
Silmy Karim Dicopot dari Komisaris Telkom usai Tersangka KPK
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Tak Ingin Kerusakan...
Tak Ingin Kerusakan Akibat Serangan Iran Diketahui Dunia, Israel Berlakukan Sensor Militer
Berita Terkini
Hery Susanto Diberhentikan...
Hery Susanto Diberhentikan Tidak Hormat dari Ketua Ombudsman, Mensesneg: Nanti Kita Tindak Lanjuti
Jadi Penasihat Presiden,...
Jadi Penasihat Presiden, Said Iqbal Siap Perjuangkan Kepastian Kerja dan Upah Layak
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang
Usia Pensiun Personel...
Usia Pensiun Personel Polri Tidak Sama, Ini Penjelasan Pemerintah
Perjuangkan Nasib Dokter...
Perjuangkan Nasib Dokter Muda, PDMI Minta Pemerintah Buka Kembali Akses Ujian Kompetensi
OTT di Muara Enim dan...
OTT di Muara Enim dan Jakarta, KPK Sita Uang Ratusan Juta
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved