Prof Gun Gun Heryanto Sebut Komunikasi Politik Digital Masuk Era Konvergensi Simbolik
Rabu, 14 Januari 2026 - 17:36 WIB
loading...
A
A
A
Contoh nyata dari fenomena ini diantaranya, kasus Arab Spring di Timur Tengah hingga Umbrella Movement di Hong Kong. Media sosial menjadi artikulator gerakan ekstraparlementer.
Bahkan, kata dia, di Indonesia sendiri fenomena ini semakin nyata. Gerakan digital tidak lagi sekadar stimulan, melainkan telah mewujud menjadi tindakan komunikatif mayarakat.
"Contohnya seperti dalam kasus Affan Kurniawan, kasus Peringatan Darurat waktu merespons revisi Undang-Undang Pilkada, kemudian saat menolak kenaikan PPN menjadi 12%, bahkan 17+8. Ini contoh-contoh dari gerakan di media sosial, itu sekarang tidak bisa diabaikan," ujarnya.
Meski begitu, ia juga memberikan catatan kritis bahwa ruang digital memiliki sisi gelap yang perlu diwaspadai, seperti lahirnya bubble politik (gelembung informasi), hoaks, ujaran kebencian, hingga praktik doxing.
Menghadapi tantangan tersebut, Gun Gun memandang bahwa diperlukan dialog rasional yang berkelanjutan berbasis literasi. Ia menyoroti pentingnya peran diseminator, publicist, hingga hacktivist untuk mengarahkan energi digital guna memperkuat peradaban demokrasi, bukan justru merusaknya.
Bahkan, kata dia, di Indonesia sendiri fenomena ini semakin nyata. Gerakan digital tidak lagi sekadar stimulan, melainkan telah mewujud menjadi tindakan komunikatif mayarakat.
"Contohnya seperti dalam kasus Affan Kurniawan, kasus Peringatan Darurat waktu merespons revisi Undang-Undang Pilkada, kemudian saat menolak kenaikan PPN menjadi 12%, bahkan 17+8. Ini contoh-contoh dari gerakan di media sosial, itu sekarang tidak bisa diabaikan," ujarnya.
Meski begitu, ia juga memberikan catatan kritis bahwa ruang digital memiliki sisi gelap yang perlu diwaspadai, seperti lahirnya bubble politik (gelembung informasi), hoaks, ujaran kebencian, hingga praktik doxing.
Menghadapi tantangan tersebut, Gun Gun memandang bahwa diperlukan dialog rasional yang berkelanjutan berbasis literasi. Ia menyoroti pentingnya peran diseminator, publicist, hingga hacktivist untuk mengarahkan energi digital guna memperkuat peradaban demokrasi, bukan justru merusaknya.
Lihat Juga :