Great Institute: Fondasi Ekonomi Nasional Kuat, Indonesia Siap Melangkah Lebih Jauh
Sabtu, 10 Januari 2026 - 19:31 WIB
loading...
A
A
A
Dalam kondisi dunia yang dipenuhi ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, peran kepemimpinan nasional menjadi faktor penentu bagi ketahanan ekonomi sebuah negara. “Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, kepemimpinan nasional menjadi faktor kunci. Presiden Prabowo berperan sebagai nakhoda yang mampu menjaga arah, stabilitas, dan keberlanjutan kebijakan, sehingga ekonomi nasional tidak terombang-ambing dan justru tetap bergerak maju,” kata Sudarto.
Dia berpendapat, konsistensi kebijakan, keberanian mengambil keputusan strategis, serta fokus pada penguatan ekonomi rakyat menjadi penopang utama ketahanan ekonomi Indonesia dalam satu tahun terakhir. Dia menyampaikan bahwa optimisme Great Institute terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan juga bertumpu pada mulai berjalannya sejumlah program prioritas pemerintah yang menimbulkan dampak nyata bagi perekonomian.
Salah satu program yang disoroti adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga awal 2026, cakupan penerima MBG disebut telah mencapai sekitar 53,4 juta orang. Program ini dinilai tidak hanya berdampak pada perbaikan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memiliki efek pengganda terhadap perekonomian melalui penguatan rantai pasok pangan dan penciptaan lapangan kerja.
Selain itu, penguatan ekonomi kerakyatan juga didorong melalui Koperasi Desa Merah Putih. Pada 2026, jumlah koperasi ini ditargetkan mencapai sekitar 82.000 unit yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. “Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi penggerak ekonomi rakyat dari desa. Ini akan memberikan kontribusi penting, tidak hanya bagi ekonomi lokal, tetapi juga bagi perekonomian nasional,” ujarnya.
Sudarto menegaskan bahwa penguatan ekonomi desa, perlindungan sosial, dan keberlanjutan program prioritas merupakan bagian dari strategi pemerataan yang lebih luas. “Kami optimistis, tahun ini pemerintah akan kian mampu meningkatkan pemerataan, yang secara langsung menegaskan bahwa ekonomi kerakyatan yang diusung pemerintah semakin nyata,” imbuhnya.
Dalam pemaparannya, Great Institute menilai dunia pada 2026 masih berada dalam rezim ketidakpastian tinggi. Ketegangan geopolitik, fragmentasi rantai pasok, serta kebijakan moneter ketat di negara-negara maju mendorong dunia usaha global bersikap wait and see.
Namun, Indonesia dinilai tetap menjadi salah satu “titik terang” stabilitas di tengah badai global. Sejumlah lembaga internasional masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5 persen pada 2026, dengan inflasi yang relatif terkendali.
Di dalam negeri, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sepanjang 2025, konsumsi tumbuh relatif stabil dan memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski demikian, Great Institute mengingatkan adanya tantangan struktural yang perlu segera direspons secara serius.
Dia berpendapat, konsistensi kebijakan, keberanian mengambil keputusan strategis, serta fokus pada penguatan ekonomi rakyat menjadi penopang utama ketahanan ekonomi Indonesia dalam satu tahun terakhir. Dia menyampaikan bahwa optimisme Great Institute terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan juga bertumpu pada mulai berjalannya sejumlah program prioritas pemerintah yang menimbulkan dampak nyata bagi perekonomian.
Salah satu program yang disoroti adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga awal 2026, cakupan penerima MBG disebut telah mencapai sekitar 53,4 juta orang. Program ini dinilai tidak hanya berdampak pada perbaikan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memiliki efek pengganda terhadap perekonomian melalui penguatan rantai pasok pangan dan penciptaan lapangan kerja.
Selain itu, penguatan ekonomi kerakyatan juga didorong melalui Koperasi Desa Merah Putih. Pada 2026, jumlah koperasi ini ditargetkan mencapai sekitar 82.000 unit yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. “Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi penggerak ekonomi rakyat dari desa. Ini akan memberikan kontribusi penting, tidak hanya bagi ekonomi lokal, tetapi juga bagi perekonomian nasional,” ujarnya.
Sudarto menegaskan bahwa penguatan ekonomi desa, perlindungan sosial, dan keberlanjutan program prioritas merupakan bagian dari strategi pemerataan yang lebih luas. “Kami optimistis, tahun ini pemerintah akan kian mampu meningkatkan pemerataan, yang secara langsung menegaskan bahwa ekonomi kerakyatan yang diusung pemerintah semakin nyata,” imbuhnya.
Dalam pemaparannya, Great Institute menilai dunia pada 2026 masih berada dalam rezim ketidakpastian tinggi. Ketegangan geopolitik, fragmentasi rantai pasok, serta kebijakan moneter ketat di negara-negara maju mendorong dunia usaha global bersikap wait and see.
Namun, Indonesia dinilai tetap menjadi salah satu “titik terang” stabilitas di tengah badai global. Sejumlah lembaga internasional masih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5 persen pada 2026, dengan inflasi yang relatif terkendali.
Di dalam negeri, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sepanjang 2025, konsumsi tumbuh relatif stabil dan memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Meski demikian, Great Institute mengingatkan adanya tantangan struktural yang perlu segera direspons secara serius.
Lihat Juga :