Great Institute: Fondasi Ekonomi Nasional Kuat, Indonesia Siap Melangkah Lebih Jauh
Sabtu, 10 Januari 2026 - 19:31 WIB
loading...
A
A
A
Peneliti Desk Ekonomi Great Institute Adrian Nalendra menilai stabilitas konsumsi agregat saat ini cenderung menutupi persoalan struktural pada kelas menengah. “Basis konsumen kelas menengah yang selama ini menjadi motor belanja justru menyusut, sementara kelompok rentan dan kelas menengah rentan membesar. Mobilitas sosial cenderung macet,” kata Adrian.
Adrian menilai tantangan 2026 adalah mengubah konsumsi rumah tangga dari sekadar penyangga pertumbuhan menjadi mesin akselerasi, tanpa mengorbankan stabilitas harga.
Peneliti Great Institute Adamasky Pangeran menyoroti pentingnya kepastian eksekusi kebijakan dalam mendorong investasi di tengah ketidakpastian global. “Investasi sangat sensitif terhadap kepastian kebijakan. Tanpa kepastian eksekusi, investasi akan terus bergerak dengan pola stop and go,” katanya.
Peneliti Great Institute lainnya Yossie Martino mengatakan bahwa 2026 sebagai tahun penentu arah pembangunan ekonomi Indonesia. Menurutnya, stabilitas makro yang relatif terjaga harus dimanfaatkan sebagai pijakan transformasi struktural yang lebih produktif dan berkeadilan.
Great Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,3–5,6 persen. Proyeksi tersebut mencerminkan optimisme yang terukur, dengan catatan sinergi kebijakan fiskal–moneter terjaga dan implementasi program prioritas berjalan efektif.
Menutup konferensi pers, Sudarto kembali menegaskan bahwa ketidakpastian global tidak boleh dijadikan alasan untuk bersikap pasif. “Justru di tengah ketidakpastian inilah Indonesia harus terus melangkah maju, dengan kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang presisi, dan keberpihakan nyata pada ekonomi rakyat,” pungkasnya.
Adrian menilai tantangan 2026 adalah mengubah konsumsi rumah tangga dari sekadar penyangga pertumbuhan menjadi mesin akselerasi, tanpa mengorbankan stabilitas harga.
Peneliti Great Institute Adamasky Pangeran menyoroti pentingnya kepastian eksekusi kebijakan dalam mendorong investasi di tengah ketidakpastian global. “Investasi sangat sensitif terhadap kepastian kebijakan. Tanpa kepastian eksekusi, investasi akan terus bergerak dengan pola stop and go,” katanya.
Peneliti Great Institute lainnya Yossie Martino mengatakan bahwa 2026 sebagai tahun penentu arah pembangunan ekonomi Indonesia. Menurutnya, stabilitas makro yang relatif terjaga harus dimanfaatkan sebagai pijakan transformasi struktural yang lebih produktif dan berkeadilan.
Great Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,3–5,6 persen. Proyeksi tersebut mencerminkan optimisme yang terukur, dengan catatan sinergi kebijakan fiskal–moneter terjaga dan implementasi program prioritas berjalan efektif.
Menutup konferensi pers, Sudarto kembali menegaskan bahwa ketidakpastian global tidak boleh dijadikan alasan untuk bersikap pasif. “Justru di tengah ketidakpastian inilah Indonesia harus terus melangkah maju, dengan kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang presisi, dan keberpihakan nyata pada ekonomi rakyat,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :