Risiko Perekonomian Global dalam Penangkapan Maduro
Kamis, 08 Januari 2026 - 06:36 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, harga saham di Emerging Market Economies (EMEs) mengalami kenaikan karena penguasaan cadangan minyak bumi terbesar dunia oleh AS dan adanya potensi peningkatan produksi minyak dunia. Hal ini membuat ekspektasi harga minyak dunia mengalami penurunan yang menguntungkan negara-negara importir minyak dunia.
Bahkan beberapa asset yang dianggap sebagai safe haven asset (asset yang dianggap aman karena harganya yang stabil, trennya naik), seperti mata uang dollar AS yang tercermin pada kenaikan US dollar index (DXY) sebesar 0,2 persen, harga emas dan perak juga mengalami peningkatan berdasarkan data Trading Economics pada Senin, 5 Januari 2026.
Ekspektasi risiko yang besar terhadap perekonomian global dan EMEs, termasuk Indonesia dapat terjadi dalam jangka menengah, tergantung pada respon pemerintahan baru Venezuela terhadap ultimatum Presiden Trump untuk koperatif atau tetap memilih sikap berseberangan dengan pemerintah AS.
Artinya, jika pemerintah Venezuela yang baru di bawah presiden interim, Delcy Rodriguez bersikap berseberangan dengan kepentingan pemerintah AS, maka risiko terbesarnya adalah mengganggu ekspor minyak Venezuela ke sejumlah negara.
Berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa ekspor minyak Venezuela yang terbesar ke China sekitar 68 persen dari total ekspor minyak mentah Venezuela. Hanya 23 persen ke AS, 4,0 persen ke Spanyol, 4,0 persen ke Cuba, dan hanya 1,0 persen ke negara lainnya.
Jika Presiden interim Venezuela bersikap tidak koperatif, maka akan mengganggu pasokan minyak ke China yang berpotensi mengganggu pasokan energi China. Hal ini dapat berdampak pada kenaikan harga minyak dunia secara signifikan mengingat China akan mencari sumber pasokan minyak dari negara ketiga (permintaan naik) pada harga yang lebih tinggi.
Hal itu sejalan dengan ekonom, John Bernie dkk dari Asian Development Bank Institute (ADBI) dalam riset berjudul “When the United State and the People’s Republic of China Sneeze: Monetary Policy Spillovers to Asian Economies” menunjukkan bahwa respons otoritas China terhadap tekanan eksternal sangat berdampak pada perekonomian EMEs di Asia, termasuk Indonesia.
Sebagai contoh, jika Delcy Rodriguez memilih sikap tidak koperatif terhadap Presiden Trump maka serangan militer kedua akan dilancarkan yang akan mengganggu pasokan minyak ke China dan berpotensi mendongrak harga minyak dunia.
Kenaikan harga minyak dunia berdampak lanjutan dalam jangka menengah terhadap inflasi di negara-negara EMEs, termasuk China. Sehingga, respons kebijakan moneter EMEs adalah menaikkan policy rate (suku bunga acuan) yang akan mengurangi likuiditas perekonomian dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Bahkan beberapa asset yang dianggap sebagai safe haven asset (asset yang dianggap aman karena harganya yang stabil, trennya naik), seperti mata uang dollar AS yang tercermin pada kenaikan US dollar index (DXY) sebesar 0,2 persen, harga emas dan perak juga mengalami peningkatan berdasarkan data Trading Economics pada Senin, 5 Januari 2026.
Ekspektasi risiko yang besar terhadap perekonomian global dan EMEs, termasuk Indonesia dapat terjadi dalam jangka menengah, tergantung pada respon pemerintahan baru Venezuela terhadap ultimatum Presiden Trump untuk koperatif atau tetap memilih sikap berseberangan dengan pemerintah AS.
Artinya, jika pemerintah Venezuela yang baru di bawah presiden interim, Delcy Rodriguez bersikap berseberangan dengan kepentingan pemerintah AS, maka risiko terbesarnya adalah mengganggu ekspor minyak Venezuela ke sejumlah negara.
Berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa ekspor minyak Venezuela yang terbesar ke China sekitar 68 persen dari total ekspor minyak mentah Venezuela. Hanya 23 persen ke AS, 4,0 persen ke Spanyol, 4,0 persen ke Cuba, dan hanya 1,0 persen ke negara lainnya.
Jika Presiden interim Venezuela bersikap tidak koperatif, maka akan mengganggu pasokan minyak ke China yang berpotensi mengganggu pasokan energi China. Hal ini dapat berdampak pada kenaikan harga minyak dunia secara signifikan mengingat China akan mencari sumber pasokan minyak dari negara ketiga (permintaan naik) pada harga yang lebih tinggi.
Hal itu sejalan dengan ekonom, John Bernie dkk dari Asian Development Bank Institute (ADBI) dalam riset berjudul “When the United State and the People’s Republic of China Sneeze: Monetary Policy Spillovers to Asian Economies” menunjukkan bahwa respons otoritas China terhadap tekanan eksternal sangat berdampak pada perekonomian EMEs di Asia, termasuk Indonesia.
Sebagai contoh, jika Delcy Rodriguez memilih sikap tidak koperatif terhadap Presiden Trump maka serangan militer kedua akan dilancarkan yang akan mengganggu pasokan minyak ke China dan berpotensi mendongrak harga minyak dunia.
Kenaikan harga minyak dunia berdampak lanjutan dalam jangka menengah terhadap inflasi di negara-negara EMEs, termasuk China. Sehingga, respons kebijakan moneter EMEs adalah menaikkan policy rate (suku bunga acuan) yang akan mengurangi likuiditas perekonomian dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
Lihat Juga :