Trump dan Venezuela: Cermin Ketidakadilan Global

Minggu, 04 Januari 2026 - 09:58 WIB
loading...
A A A
Trump, sejatinya, tidak berupaya membangun demokrasi di Venezuela. Ia hanya melanjutkan tradisi lama Amerika Serikat di Amerika Latin: tradisi intervensi, pendisiplinan, dan kontrol. Yang membedakan dengan pendahulunya hanyalah gaya, yang dalam aksi Trump berwujud lebih kasar, lebih vulgar, dan lebih terbuka menyingkirkan etika dan hukum internasional.

Dalam logika Trump, dunia dibagi hitam putih, yaitu menjadi sekutu yang patuh dan musuh yang harus ditekan. Venezuela, dengan kekayaan minyaknya dan sikap politiknya yang membangkang, jelas berada di kategori kedua, dalam pandangan Trump.

Di bawah narasi “menyelamatkan demokrasi”, sanksi ekonomi telah diberlakukan secara sistematis. Namun, kita perlu bertanya secara jujur: demokrasi versi siapa yang sedang diselamatkan, dan dengan biaya siapa? Fakta yang sering disembunyikan adalah bahwa sanksi ekonomi dan politik tidak pernah netral.

Ia adalah bentuk hukuman kolektif. Ia tidak jatuh pertama-tama pada elite politik, tetapi pada rakyat biasa yang menanggung, yaitu mereka yang mengantre obat, frustasi kehilangan pekerjaan, dan dipaksa meninggalkan tanah airnya yang dicintai.

Di sinilah kebohongan moral itu menjadi terang benderang. Ketika Trump berbicara lantang tentang penderitaan rakyat Venezuela, kebijakannya justru memperdalam penderitaan tersebut. Ketika ia mengklaim berdiri di sisi kemanusiaan, tindakannya menutup ruang hidup jutaan manusia. Ini bukan paradoks; ini adalah kemunafikan politik yang telanjang.

Yang lebih berbahaya adalah normalisasi ancaman militer, di mana Trump dengan ringan melontarkan opsi “all options are on the table”, seolah perang adalah variabel teknis, bukan tragedi kemanusiaan. Ini seirama dengan pemikiran Hannah Arendt, yang membedakan power dan violence. Bagi Arendt, ketika kekuasaan kehilangan legitimasi, ia bergantung pada kekerasan.

Ancaman militer Trump menunjukkan lemahnya legitimasi moral, bukan kekuatan politik. Padahal sejarah Amerika Latin dipenuhi oleh bukti bahwa intervensi militer tidak pernah menyelesaikan krisis politik. Dari Chili hingga Panama, dari Guatemala hingga Nikaragua, yang tersisa adalah luka, darah dan kematian, seperti lantunan nyanyian Lamentatio.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Yusril Bicara Kedekatan...
Yusril Bicara Kedekatan Prabowo-Trump, Sebut Hubungan RI-AS Tak Sekadar Urusan Pemerintah
AS Rayakan 250 Tahun...
AS Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan, Soroti Masa Depan Kemitraan Strategis dengan Indonesia
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Thucydides Trap: Antinomi...
Thucydides Trap: Antinomi China dan Amerika
Menhan Ungkap Asal Muasal...
Menhan Ungkap Asal Muasal Amerika Serikat Ajukan Overflight Access ke Indonesia
Manuver Dua Kaki China...
Manuver Dua Kaki China di Panggung Global
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Toyota dan Nissan Sebut...
Toyota dan Nissan Sebut Mobil yang Diproduksi di AS Berkualitas Lebih Rendah dari Jepang
Rekomendasi
Awkarin Dicecar 33 Pertanyaan...
Awkarin Dicecar 33 Pertanyaan soal Kerja Sama dengan Hanania Group
Polisi Ungkap Alasan...
Polisi Ungkap Alasan Pelaku Sekap 3 Karyawan Percetakan, Tuduh Korban Curi Pelat Rp230 Juta
Kawal Kedaulatan Energi...
Kawal Kedaulatan Energi di Jatim, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Cek Kesiapan SAF hingga B50
Berita Terkini
Rakor dengan Pimpinan...
Rakor dengan Pimpinan BGN, Dasco Tegaskan DPR Awasi Ketat Program MBG agar Tepat Sasaran
Besok Komisi I DPR Tetapkan...
Besok Komisi I DPR Tetapkan 7 Anggota KIP 2026-2030
5 Calon Manajer Kopdes...
5 Calon Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal, Kemhan Ganti Nama Latsarmil
Politikus PDIP Ungkap...
Politikus PDIP Ungkap Anggaran Pelatihan SPPI Lebih Besar untuk Latsarmil ketimbang Substansi Koperasi
Implementasi B50 Perkuat...
Implementasi B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Tingkatkan Nilai Tambah Sawit
Wamensesneg: Presiden...
Wamensesneg: Presiden Sangat Paham dan Menghargai Kebebasan Akademik di Kampus
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved