Trump dan Venezuela: Cermin Ketidakadilan Global

Minggu, 04 Januari 2026 - 09:58 WIB
loading...
Trump dan Venezuela:...
Ridwan al-Makassary, Dosen Fakultas Ilmu Sosial UIII dan Direktur COMPOSE UIII. Foto/Dok. SindoNews
A A A
Ridwan al-Makassary
Dosen di UIII dan Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE UIII)

PADA tiga Januari 2026, dunia terguncang, ketika Amerika Serikat, melalui Presiden Donald Trump mengklaim telah menangkap Presiden Venuzuela, Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada sebuah operasi militer berskala besar di Caracas, Venezuela. Kabar terakhir Maduro dan Flores telah diterbangkan dan mendarat di New York untuk menghadapi proses hukum di Amerika Serikat.

Sejak tahun 2020, Amerika Serikat telah mendakwa Maduro dengan tuduhan konspirasi narkoterorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senjata mesin dan alat perusak, serta konspirasi kepemilikan senjata berat. Lebih jauh, Amerika Serikat menuduh Maduro menyalahgunakan kekuasaan guna melindungi penyelundupan narkotika dan jaringan perdagangan narkoba.

Washington juga pernah menawarkan hadiah hingga 15 juta dolar Amerika Serikat, yang kemudian dinaikkan menjadi 50 juta dolar AS, terhadap pihak yang memberikan informasi menuju penangkapannya.

Bagaimana kita melihat serangan ke Venezuela dan penangkapan presiden Maduro? Apakah memang serangan dan penangkapan tersebut sebagai bagian dari penegakan demokrasi dan hak asasi Manusia (HAM) atau ada tujuan kekuasaan dan kepentingan politik ekonomi lainnya? Tulisan ini ingin mengulas pertanyaan di opini singkat ini.

Penulis berpandangan bahwa serangan politik Donald Trump terhadap Venezuela melalui operasi militer yang menewaskan empat puluh orang dan penangkapan presiden Maduro tidak dapat dibaca sekadar sebagai sahutan terhadap krisis demokrasi di Caracas. Ia harus dipahami sebagai ekspresi telanjang dari politik kekuasaan global yang sinis: ketika demokrasi dijadikan slogan, bukan komitmen; ketika hak asasi manusia dipakai sebagai bahasa, bukan tujuan.

Ini mencerminkan tesis Samuel Moyn, bahwa bahasa HAM dan demokrasi kerap dipakai sebagai moral vocabulary untuk membungkus kebijakan koersif. Dalam konteks Trump dan Venezuela, demokrasi tidak dipahami sebagai proses sosial-politik jangka panjang, tetapi sebagai justifikasi tindakan sepihak.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Yusril Bicara Kedekatan...
Yusril Bicara Kedekatan Prabowo-Trump, Sebut Hubungan RI-AS Tak Sekadar Urusan Pemerintah
AS Rayakan 250 Tahun...
AS Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan, Soroti Masa Depan Kemitraan Strategis dengan Indonesia
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Thucydides Trap: Antinomi...
Thucydides Trap: Antinomi China dan Amerika
Menhan Ungkap Asal Muasal...
Menhan Ungkap Asal Muasal Amerika Serikat Ajukan Overflight Access ke Indonesia
Manuver Dua Kaki China...
Manuver Dua Kaki China di Panggung Global
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Toyota dan Nissan Sebut...
Toyota dan Nissan Sebut Mobil yang Diproduksi di AS Berkualitas Lebih Rendah dari Jepang
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Rekomendasi
Pramono Bakal Bangun...
Pramono Bakal Bangun 11 Rusun Baru Pakai APBD, Ini Lokasinya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Mantan Karyawan Apple...
Mantan Karyawan Apple dan Audi Kembangkan Kendaraan Listrik Terinspirasi dari Armada Bulan
Berita Terkini
Rakor dengan Pimpinan...
Rakor dengan Pimpinan BGN, Dasco Tegaskan DPR Awasi Ketat Program MBG agar Tepat Sasaran
Besok Komisi I DPR Tetapkan...
Besok Komisi I DPR Tetapkan 7 Anggota KIP 2026-2030
5 Calon Manajer Kopdes...
5 Calon Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal, Kemhan Ganti Nama Latsarmil
Politikus PDIP Ungkap...
Politikus PDIP Ungkap Anggaran Pelatihan SPPI Lebih Besar untuk Latsarmil ketimbang Substansi Koperasi
Implementasi B50 Perkuat...
Implementasi B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Tingkatkan Nilai Tambah Sawit
Wamensesneg: Presiden...
Wamensesneg: Presiden Sangat Paham dan Menghargai Kebebasan Akademik di Kampus
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved