Trump dan Venezuela: Cermin Ketidakadilan Global

Minggu, 04 Januari 2026 - 09:58 WIB
loading...
A A A
Venezuela, tentu saja, secara internal bukan tanpa masalah. Krisis politik, kegagalan tata kelola, dan otoritarianisme domestik adalah realitas yang tidak boleh disangkal. Namun, mengakui kegagalan internal tidak berarti membenarkan hukuman eksternal.

Kritik terhadap Maduro tidak otomatis menghalalkan cara cowboy dan intervensi Trump. Di sinilah banyak diskursus global tergelincir: seolah dunia hanya diberi dua pilihan, yaitu mendukung rezim bermasalah atau membenarkan kekerasan geopolitik.

Bagi negara-negara di Selatan Global (Global South), logika biner ini berbahaya. Ia menutup kemungkinan jalan ketiga: dialog, mediasi, dan transformasi damai yang berangkat dari konteks lokal. Ketika krisis internal langsung diterjemahkan sebagai ancaman keamanan global, maka kedaulatan menjadi rapuh, dan nasib suatu bangsa dapat ditentukan dari luar meja perundingannya sendiri.

Dalam hal ini, Trump tidak sekadar menyerang Venezuela; ia menyerang prinsip dasar tata dunia pasca-kolonial: bahwa bangsa-bangsa, betapapun rapuhnya, memiliki hak untuk menentukan masa depannya sendiri. Ketika prinsip ini runtuh, maka tidak ada negara di Selatan Global yang benar-benar aman, termasuk Indonesia.

Diamnya banyak negara terhadap kebijakan Trump menunjukkan krisis kepemimpinan moral global. Dunia tampak lebih sibuk menghitung kepentingan strategis masing-masing daripada menimbang konsekuensi kemanusiaan. Padahal, politik luar negeri yang etis bukanlah politik tanpa kepentingan, melainkan politik yang membatasi kepentingan dengan nurani.

Venezuela hari ini adalah cermin benggala. Ia memantulkan wajah dunia yang semakin toleran menggunakan penderitaan orang lain sebagai alat tawar-menawar. Pertanyaannya bukan lagi apakah Trump benar atau salah secara strategis, melainkan apakah kita bersedia menerima dunia di mana lembing kekuasaan bebas berbicara dan dilontarkan atas nama demokrasi dan HAM sambil menghancurkannya secara pongah. Jika demokrasi hanya hidup ketika didukung oleh kekuatan militer dan sanksi ekonomi, maka yang mati bukan Venezuela, melainkan menggali kubur bagi makna demokrasi itu sendiri.
(rca)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perang Iran Menjadi...
Perang Iran Menjadi Warisan Buruk Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Yusril Bicara Kedekatan...
Yusril Bicara Kedekatan Prabowo-Trump, Sebut Hubungan RI-AS Tak Sekadar Urusan Pemerintah
AS Rayakan 250 Tahun...
AS Rayakan 250 Tahun Kemerdekaan, Soroti Masa Depan Kemitraan Strategis dengan Indonesia
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
Thucydides Trap: Antinomi...
Thucydides Trap: Antinomi China dan Amerika
Menhan Ungkap Asal Muasal...
Menhan Ungkap Asal Muasal Amerika Serikat Ajukan Overflight Access ke Indonesia
4 Fakta Gunung Pickaxe,...
4 Fakta Gunung Pickaxe, Fasilitas Rahasia Nuklir Iran yang Jadi Target Serangan AS
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
Anggaran Perang AS Membengkak,...
Anggaran Perang AS Membengkak, Pakar Militer Ini Sebut Pentagon Kurang Transparan
Rekomendasi
Apa Itu Kokushobi? Cuaca...
Apa Itu Kokushobi? Cuaca Ekstrem yang Terjadi Pertama Kalinya di Jepang
Siapa Khalil al-Hayya?...
Siapa Khalil al-Hayya? Pemimpin Baru Hamas yang Dikenal sebagai Tangan Kanan Iran di Gaza
Riau Bhayangkara Run...
Riau Bhayangkara Run 2026 Ciptakan Efek Ekonomi Rp58,9 Miliar
Berita Terkini
3 Tersangka Kasus Suap...
3 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Pokmas Jatim Beri Rp6,9 M agar Dapat Jatah
Penjelasan Menteri PU...
Penjelasan Menteri PU Dody Hanggodo tentang Isu Tak Mau Salaman dengan Bawahan dan Pakai Private Jet
Kuntadi Jadi Jampidsus,...
Kuntadi Jadi Jampidsus, Yusril: Tugas Pokoknya Selesaikan Kasus Febrie Adriansyah
Celoteh Hotman Paris,...
Celoteh Hotman Paris, Pakar: Penghinaan Wartawan Bisa Diproses Hukum
Jaksa Agung Mutasi 8...
Jaksa Agung Mutasi 8 Kepala Kejaksaan Tinggi, Ada Kajati Aceh hingga Sulsel
Ditjen Imigrasi Siapkan...
Ditjen Imigrasi Siapkan Satu Jenis Paspor Nasional, Nomor Tak Berubah Seumur Hidup
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved