Pembangunan Nilai Patriotik, Empati dan Gigih pada Pemuda
Minggu, 14 Desember 2025 - 21:28 WIB
loading...
A
A
A
Keenam, penggunaan platform digital secara konstruktif antara lain dimanfaatkan untuk kampanye sejarah, dialog lintas komunitas, dan pengembangan proyek. Pendekatan ini dapat menjadi medium pembinaan patriotik yang relevan dan latihan empati. Namun perlu juga diedukasi tentang literasi digital agar tidak menyebabkan terjadinya penyalahgunaan informasi atau disinformasi.
Sinergi Berbagai Pihak
Tentu saja Kementerian Pemuda dan Olahraga tidak dapat mengembangkan nilai patriotik, empati, dan kegigihan apabila bergerak secara ego-sektoral. Sudah terbukti selama ini bahwa program yang dirancang dengan baik ternyata gagal ketika diimplementasikan. Faktor penyebab nya adalah belum atau tidak adanya sinergi lintar sektor kementerian/lembaga karena merasa bahwa program tertentu adalah milik atau kewenangan sendiri.
Tidak mengherankan bahwa masalah yang dihadapi pada saat ini sebenarnya bukan merupakan masalah baru tetapi sudah berakar sejak dahulu karena keinginan untuk bekerja bersama hanya sebagai narasi di atas kertas. Sebagai narasi di atas kertas karena pada saat implementasi masing-masing bergerak sendiri dengan anggaran yang teralokasikan.
Apabila terwujud sinergitas antar kementerian/lembaga maka pembangunan pemuda yang berintegritas, inklusif, dan tangguh bukan hanya Impian semata. Juga, penguatan ketiga nilai karakter tersebut memerlukan pendekatan terpadu secara kurikuler, pengalaman langsung, pengembangan kapasitas keluarga dan guru, serta kebijakan yang mendukung.
Yang juga perlu dipertimbangkan adalah tingkat konsistensi implementasi. Implementasi yang konsisten pada akhirnya akan dapat memperkuat kohesi sosial, menumbuhkan kepemimpinan inklusif, dan meningkatkan kapasitas pemuda untuk berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dan ketahanan nasional.
Sinergi Berbagai Pihak
Tentu saja Kementerian Pemuda dan Olahraga tidak dapat mengembangkan nilai patriotik, empati, dan kegigihan apabila bergerak secara ego-sektoral. Sudah terbukti selama ini bahwa program yang dirancang dengan baik ternyata gagal ketika diimplementasikan. Faktor penyebab nya adalah belum atau tidak adanya sinergi lintar sektor kementerian/lembaga karena merasa bahwa program tertentu adalah milik atau kewenangan sendiri.
Tidak mengherankan bahwa masalah yang dihadapi pada saat ini sebenarnya bukan merupakan masalah baru tetapi sudah berakar sejak dahulu karena keinginan untuk bekerja bersama hanya sebagai narasi di atas kertas. Sebagai narasi di atas kertas karena pada saat implementasi masing-masing bergerak sendiri dengan anggaran yang teralokasikan.
Apabila terwujud sinergitas antar kementerian/lembaga maka pembangunan pemuda yang berintegritas, inklusif, dan tangguh bukan hanya Impian semata. Juga, penguatan ketiga nilai karakter tersebut memerlukan pendekatan terpadu secara kurikuler, pengalaman langsung, pengembangan kapasitas keluarga dan guru, serta kebijakan yang mendukung.
Yang juga perlu dipertimbangkan adalah tingkat konsistensi implementasi. Implementasi yang konsisten pada akhirnya akan dapat memperkuat kohesi sosial, menumbuhkan kepemimpinan inklusif, dan meningkatkan kapasitas pemuda untuk berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dan ketahanan nasional.
(wur)
Lihat Juga :