Menjaga Martabat Manusia di Tengah Ancaman Otoritarianisme

Rabu, 10 Desember 2025 - 14:06 WIB
loading...
Menjaga Martabat Manusia...
Puspita Ayu Hapsari, Mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional President University. Foto/Dok. SindoNews
A A A
Puspita Ayu Hapsari
Mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional
President University

SETIAP10 Desember, dunia merayakan hari Hak Asasi Manusia (HAM). Namun, saban tahun dunia masih menyaksikan pelanggaran HAM di berbagai penjuru dunia. Misalnya, perang yang menghancurkan martabat manusia, kekerasan atas minoritas dan kaum perempuan, otoritarianisme yang merajalela memberangus hak-hak sipil dan kebebasan masyarakat terjadi di banyak negara.

Dalam perayaan tahun ini, tulisan singkat ini memproblematisasi bagaimana pelaksanaan HAM di Asia Tenggara? Apa tantangan pelaksanaan dan bagaimana meningkatkan kesadaran untuk perlindungan HAM?

Di Asia Tenggara, HAM, sejatinya, acap berada dalam tarik-menarik antara komitmen moral dan realitas politik yang keras. Di satu sisi, kawasan ini telah menandatangani pelbagai instrumen internasional; di sisi lain, rezim politik di sejumlah negara acap memanfaatkan bahasa stabilitas dan budaya lokal untuk menunda, membatasi, atau menghindar dari kewajiban menghormati martabat manusia yang adiluhung.

Itulah paradoks Asia Tenggara, satu kawasan yang penuh vitalitas sosial, diversitas agama, dan energi ekonomi, namun masih bergumul dengan luka-luka lama otoritarianisme yang belum sepenuhnya sembuh.
Bahkan, belakangan mengalami pengerasan.

Karenanya, membaca kondisi HAM di Asia Tenggara mengandung arti kita tidak bisa sekadar menelaah laporan tahunan organisasi internasional di bidang HAM. Kita perlu menengok dinamika batin masyarakatnya, dalam hal bagaimana warga memahami martabat, bagaimana negara memaknai kekuasaan, dan bagaimana agama digunakan sebagai ruang perlindungan moral atau sebaliknya dimanipulasi sebagai legitimasi kekerasan. Pendekatan ini penting, sebab HAM bukanlah konsep legal yang berdiri sendiri, namun, ia adalah bagian dari ekologi sosial yang membentuk cara kita memperlakukan sesama.

Semenjak didirikan, ASEAN menempatkan prinsip non-interference sebagai fondasi kerjasama Kawasan dalam menjaga stabilitas dan perdamaian. Prinsip ini, sejatinya, bertujuan menjaga stabilitas dan mencegah eskalasi konflik antarnegara. Namun, dalam konteks HAM, prinsip itu acap menjadi persoalan, karena ia membatasi kemampuan ASEAN untuk bersuara atas pelanggaran serius yang terjadi di negeri tetangga. Sebagi suatu akibat, kekerasan politik acap dibiarkan menjadi urusan domestik, meskipun dampaknya melintasi batas negara.

Misalnya, krisis Rohingya dan kekerasan pasca-kudeta militer Myanmar. Ratusan ribu warga terusir, dibunuh, atau mengungsi ke Bangladesh dan negara lain, termasuk Malaysia dan Indonesia.

Dalam hal ini, negara-negara anggota ASEAN tampak canggung untuk mengeluarkan tekanan nyata. Mereka memilih bahasa yang hati-hati: “keprihatinan”, “dialog inklusif”, “normalisasi bertahap”. Bahasa diplomatik ini nyaman bagi elite politik, tetapi sejatinya mengkhianati mereka yang kehilangan hak paling mendasar, yaitu hak hidup, hak aman, hak bermartabat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apakah Pengadilan Tengah...
Apakah Pengadilan Tengah Mengadili Metode Berpikir dr Tifa dan Roy Suryo?
Perubahan UU Pemilu:...
Perubahan UU Pemilu: Membangun Sistem Pemilu yang Demokratis, Berkeadilan, dan Berintegritas
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Dokter Tifa dan Roy...
Dokter Tifa dan Roy Suryo: Ujian bagi Kebangkitan Intelektual Publik?
Ekonomi Piala Dunia...
Ekonomi Piala Dunia dan Problem Institusi di Indonesia
Transformasi Polri di...
Transformasi Polri di Tengah Era Disrupsi Digital
Rekrutmen Penggerak...
Rekrutmen Penggerak HAM 2026 Resmi Diperpanjang, Daftar di Link Ini
Perlindungan Warga Sipil...
Perlindungan Warga Sipil Jadi Kunci Keberlanjutan Pembangunan Papua
Dari Jimmy Lai hingga...
Dari Jimmy Lai hingga Xinjiang, Isu HAM Tak Lagi Jadi Fokus Utama AS-China
Rekomendasi
Iran Berterima Kasih...
Iran Berterima Kasih pada Warga Yordania karena Bantu Menargetkan Pasukan AS
Nantikan Teaser Poster...
Nantikan Teaser Poster Serial My Chef In Crime, Ada Misteri yang Siap Bikin Penasaran di VISION+
Nonton Microdrama China...
Nonton Microdrama China 'Rising Before Fate' di V+Short, Simak Sinopsisnya
Berita Terkini
Sangkal Isu Reshuffle,...
Sangkal Isu Reshuffle, Mensesneg: Evaluasi Tak Selalu Berujung Pergantian Menteri
Dukungan Publik Jadi...
Dukungan Publik Jadi Kunci Kejagung Tuntaskan Kasus Febrie Adriansyah
Mensesneg Ungkap Anggaran...
Mensesneg Ungkap Anggaran MBG Berpotensi Turun usai Validasi Data
Kejagung Terbitkan Sprindik...
Kejagung Terbitkan Sprindik Baru, Imigrasi Pastikan Pencekalan Febrie Adriansyah Tetap Berlaku
Penampakan Bupati Lombok...
Penampakan Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Pakai Rompi Oranye KPK
Wamenaker Aplikasi Dermaga...
Wamenaker Aplikasi Dermaga Tingkatkan Efisiensi dan Transparansi Koperasi TKBM
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved