Kebijakan Fiskal atau Moneter ?

Senin, 08 Desember 2025 - 08:54 WIB
loading...
A A A
Model IS–LM menunjukkan bahwa interaksi antara pasar barang sebagai ranah kebijakan fiskal dan pasar uang sebagai ranah kebijakan moneter menentukan tingkat pendapatan nasional dan suku bunga, sehingga ketidaksinkronan antara keduanya dapat memicu ketidakseimbangan seperti inflasi tinggi atau tekanan pada stabilitas pasar keuangan.

Artinya, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak dapat dicapai melalui pendekatan kebijakan yang terfragmentasi, melainkan melalui sinergi strategis antara kebijakan fiskal dan moneter yang dirancang dalam kerangka policy mix yang terkoordinasi. Integrasi kedua instrumen tersebut menjadi kunci untuk menjaga stabilitas makroekonomi, menurunkan kemiskinan, serta memastikan efektivitas subsidi dan stabilitas harga dalam jangka panjang.

Temuan empiris di berbagai negara, termasuk Indonesia, membuktikan bahwa koordinasi fiskal dan moneter menghasilkan kinerja ekonomi yang lebih optimal dibandingkan pelaksanaan kebijakan secara independen, serta memainkan peran penting dalam mengatasi kegagalan pasar dalam mendistribusikan kesejahteraan secara merata.

Karena itu, penguatan integrasi kebijakan menjadi agenda prioritas untuk mendukung ketahanan ekonomi dan mewujudkan tujuan konstitusional berupa kesejahteraan umum dan keadilan sosial.

Dilema Kebijakan Moneter


Dalam perumusan kebijakan moneter, pemerintah dan bank sentral kerap menghadapi dilema mendasar yang mencerminkan prinsip trade-off sebagaimana tergambar dalam segitiga Time–Cost–Quality pada manajemen proyek.

Dalam kajian ekonomi internasional, dilema ini dikenal sebagai The Impossible Trinity atau Policy Trilemma, konsep yang dikembangkan oleh Robert Mundell dan Marcus Fleming, yang menegaskan bahwa suatu negara tidak dapat mencapai secara simultan tiga tujuan kebijakan, yaitu independent monetary policy, fixed exchange rate, dan free capital movement.

Keterbatasan untuk meraih ketiganya sekaligus menunjukkan bahwa setiap alternatif kebijakan mengandung konsekuensi dan pengorbanan yang memerlukan pertimbangan strategis dan prioritas yang jelas.

Trilemma tersebut mengharuskan pembuat kebijakan memilih dua tujuan yang dianggap paling penting, sehingga satu aspek harus dikorbankan. Apabila negara memilih mempertahankan fixed exchange rate dan free capital movement, maka kemandirian kebijakan moneter harus dilepaskan, karena suku bunga domestik harus mengikuti negara mitra kurs demi menjaga kestabilan nilai tukar, sebagaimana diterapkan Uni Eropa melalui mata uang Euro.

Sebaliknya, bila dipilih kombinasi independent monetary policy dan free capital movement, maka negara harus mengorbankan stabilitas nilai tukar dan menerapkan floating exchange rate, seperti yang dilakukan Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.

Alternatif ketiga adalah mempertahankan fixed exchange rate dan independent monetary policy dengan konsekuensi mengorbankan free capital movement melalui kontrol modal yang ketat, sebagaimana pernah diterapkan China serta dalam sistem Bretton Woods pasca Perang Dunia II.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Fiscal Dominance dan...
'Fiscal Dominance' dan Depresiasi Rupiah
Pakar: Penempatan Dana...
Pakar: Penempatan Dana SAL Sesuai UU APBN 2026, Kebijakan Purbaya Dinilai Tepat
Prabowo Panggil Luhut...
Prabowo Panggil Luhut hingga Chatib Basri di Hambalang, Bahas Apa?
Mengelola Anggaran Daerah...
Mengelola Anggaran Daerah di Era Efisiensi
Ungkap Asal Usul Ide...
Ungkap Asal Usul Ide KDMP, Prabowo: Agar Rakyat Tak Terjerat Lintah Darat
Membaca Arah Baru Fleksibilitas...
Membaca Arah Baru Fleksibilitas Fiskal Indonesia
Gejolak Global Meningkat,...
Gejolak Global Meningkat, Gubernur BI Prediksi Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 4,9-5,7%
Dukung Penguatan Ekonomi...
Dukung Penguatan Ekonomi Kerakyatan, Danantara Tinjau Pemberdayaan Nasabah PNM di Mojokerto
RUU PFII Lompatan Strategis...
RUU PFII Lompatan Strategis Kejar Ekonomi RI 8%, Purbaya Ungkap 3 Pilar Penopangnya
Rekomendasi
Perjalanan KRL Bogor-Jakarta...
Perjalanan KRL Bogor-Jakarta Terganggu Imbas Vandalisme Alat Sinyal di Bojong Gede-Citayam
Populer di Bulan Safar...
Populer di Bulan Safar : Mengapa Ada Tradisi Rebo Wekasan di Indonesia?
Bangun Harapan dari...
Bangun Harapan dari Wilayah 3T, PNM Peduli Tingkatkan Fasilitas SD Inpres Wae Moto
Berita Terkini
Hari Ini Kortas Tipikor...
Hari Ini Kortas Tipikor Polri Panggil Eks Wakapolri Oegroseno untuk Klarifikasi Lahan Sepolwan
Gantikan Febrie Adriansyah,...
Gantikan Febrie Adriansyah, Kuntadi Diharapkan Pulihkan Kepercayaan Publik
Kejagung Terbitkan Sprindik...
Kejagung Terbitkan Sprindik Baru Dugaan TPPU 74 Kg Emas dan Uang di Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Bos FBI Temui Prabowo,...
Bos FBI Temui Prabowo, Artefak Papua yang Diselundupkan ke AS Kembali ke Indonesia
Pengamat Soroti Rumor...
Pengamat Soroti Rumor Privat di Kasus Febrie: Jangan Geser Fokus dari Substansi Hukum
Hangat dan Haru, Prabowo...
Hangat dan Haru, Prabowo Jamu Perwira TNI-Polri dan Orang Tua di Istana Usai Praspa 2026
Infografis
Cilia Flores, Istri...
Cilia Flores, Istri Maduro yang Disebut Otak di Balik Kebijakan Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved