Dorong Kajian Ontologi Pendidikan, Menag: Menentukan Arah Masa Depan Pesantren
Sabtu, 22 November 2025 - 16:21 WIB
loading...
A
A
A
"Saya berharap halaqah menjadi ruang konsolidasi nasional untuk menenun masa depan pesantren sekaligus menjaga ketahanan tradisi keilmuan di tengah dinamika zaman," ujarnya.
Baca juga: Darunnajah di Pleno 'Ketahanan Pangan': Pesantren Sebagai Aktor Ekonomi Produktif
Selain membuka halaqah, Nasaruddin juga meluncurkan Sentra Analisis dan Riset Pesantren Indonesia (Santi) sebagai pusat kajian strategis untuk memperkuat riset dan pemikiran seputar pendidikan pesantren.
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim menambahkan halaqah ini menjadi ruang terbuka bagi para kiai, ajengan, pengelola pesantren, alumni pesantren, akademisi, dan pemerintah untuk menyampaikan pandangan dan masukan berharga.
“Halaqah ini memberikan ruang bagi kita semua untuk memberikan masukan-masukan yang berharga bagi kemajuan pesantren. Sehingga menghadirkan gagasan yang lebih konkret dan inovatif tentang bagaimana membentuk arah penguatan pesantren,” ujarnya.
Hadir dalam halaqah ini tokoh-tokoh nasional, salah satunya mantan Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj yang menegaskan penguatan pesantren tidak boleh hanya berhenti pada aspek administratif, tetapi harus berdiri di atas bangunan epistemologi yang kokoh.
Menurut Kiai Said, pemahaman agama perlu berlandaskan tiga pendekatan klasik yang telah menjadi tradisi besar dalam keilmuan Islam yaitu Bayan berupa pendekatan tekstual berbasis wahyu dan hadis; Burhan yakni pendekatan rasional yang menguatkan teks melalui logika dan penalaran dan Irfan yakni pendekatan spiritual yang memberikan kedalaman makna melalui pengalaman batin.
Baca juga: Darunnajah di Pleno 'Ketahanan Pangan': Pesantren Sebagai Aktor Ekonomi Produktif
Selain membuka halaqah, Nasaruddin juga meluncurkan Sentra Analisis dan Riset Pesantren Indonesia (Santi) sebagai pusat kajian strategis untuk memperkuat riset dan pemikiran seputar pendidikan pesantren.
Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim menambahkan halaqah ini menjadi ruang terbuka bagi para kiai, ajengan, pengelola pesantren, alumni pesantren, akademisi, dan pemerintah untuk menyampaikan pandangan dan masukan berharga.
“Halaqah ini memberikan ruang bagi kita semua untuk memberikan masukan-masukan yang berharga bagi kemajuan pesantren. Sehingga menghadirkan gagasan yang lebih konkret dan inovatif tentang bagaimana membentuk arah penguatan pesantren,” ujarnya.
Hadir dalam halaqah ini tokoh-tokoh nasional, salah satunya mantan Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj yang menegaskan penguatan pesantren tidak boleh hanya berhenti pada aspek administratif, tetapi harus berdiri di atas bangunan epistemologi yang kokoh.
Menurut Kiai Said, pemahaman agama perlu berlandaskan tiga pendekatan klasik yang telah menjadi tradisi besar dalam keilmuan Islam yaitu Bayan berupa pendekatan tekstual berbasis wahyu dan hadis; Burhan yakni pendekatan rasional yang menguatkan teks melalui logika dan penalaran dan Irfan yakni pendekatan spiritual yang memberikan kedalaman makna melalui pengalaman batin.
Lihat Juga :