Rahmah El Yunusiyyah sang Pahlawan Nasional

Jum'at, 14 November 2025 - 15:54 WIB
loading...
A A A
Selain bergabung di ADI, Kak Amah tercatat bergabung dengan Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang berkedudukan di Bukittinggi. Ia menjadi Ketua Haha No Kai di Padang Panjang, guna membantu calon perwira barisan Giyugun - yang diinisasi Chatib Sulaiman. Seiring memuncaknya konflik di Padang Panjang, Rahmah membawa sekitar 100 orang muridnya mengungsi untuk menyelamatkan mereka dari serbuan tentara Jepang. Selama pengungsian, ia menanggung sendiri semua keperluan murid-muridnya.

Ketika terjadi kecelakaan kereta api pada 25 Desember 1944 dan 23 Maret 1945 di Padang Panjang, Kak Amah menjadikan bangunan Diniyah Puteri sebagai tempat perawatan korban kecelakaan. Peristiwa ini diganjar dengan piagam penghargaan dari pemerintah Dai Nippon untuk sekolah yang didirikannya. Menjelang berakhirnya masa Dai Nippon, Jepang membentuk Cuo Sangi In yang diketuai oleh Muhammad Sjafei. Rahmah duduk sebagai salah seorang anggota peninjau Cuo Sangi In (Sufyan, 2020).

Setelah dibacakannya pernyataan dukungan terhadap proklamasi kemerdekaan oleh Ketua Cuo Sangi In Muhammad Sjafei, Kak Amah segera mengerek bendera Merah Putih di halaman perguruan Diniyah Puteri. Ia tercatat sebagai perempuan dan orang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat. Berita berkibarnya sang Saka Merah Putih di Diniyah Puteri, segera menyebar ke seluruh pelosok kota dan daerah Batipuh X Koto.

Beberapa bulan berikutnya, tepatnya 5 Oktober 1945, Bung Karno mengeluarkan dekrit pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada 12 Oktober 1945, Kak Amah memelopori berdirinya unit perbekalan TKR untuk Padang Panjang dan sekitarnya. Ia pun menyediakan logistik dan pembelian beberapa kebutuhan alat senjata dari hartanya. Bersama anggota Haha No Kai, Rahmah mengatur dapur umum di perguruan Diniyah Puteri untuk kebutuhan TKR. Anggota-anggota TKR ini menjadi tentara inti dari Batalyon Merapi di bawah pimpinan Anas Karim (Peringatan 55 Tahun Diniyah Putri Padang Panjang, 1978).



Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II, Belanda menangkap sejumlah pemimpin-pemimpin Indonesia di Padang Panjang. Kak Amah pun meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang. Namun, ia ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 dan dijebloskan ke tahanan perempuan di Padang Panjang. Setelah tujuh hari ditawan, ia dibawa ke Padang dan ditahan di satu ruangan bekas SPG Negeri Putri Padang. Ia melewatkan tiga bulan di Padang sebagai huis arrest atau tahanan rumah.

Kak Amah meninggalkan Kota Padang untuk memenuhi undangan Kongres Pendidikan II Indonesia di Yogyakarta pada 15-20 Oktober 1949. Di kota yang sama, ia hadir dalam Kongres Muslimin Indonesia yang diselenggarakan pada 20–25 Desember 1949. Dari rentetan kesibukannya sebagai seorang pencerah di Diniyah Puteri, Rahmah sudah menunjukkan kapasitasnya sebagai perempuan yang mencintai republik ini, sebelum ia hadir dan mempertahankannya sejak 1945-1950.

Puncak karier politik dari Kak Amah adalah ketika ia diganjar sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mewakili Sumatra Tengah. Melalui DPR, Rahmah membawa aspirasinya tentang pendidikan dan pelajaran Islam. Pada tahun yang sama, tepatnya 15 Agustus 1955, Imam Besar Al-Azhar Abdurrahman Taj berkunjung ke Indonesia atas undangan Muhammad Natsir.
Abdurrahman Taj mengungkapkan kekagumannya pada Diniyah Puteri, sementara Al-Azhar sendiri saat itu belum memiliki bagian khusus perempuan. Hamka mencatat, Diniyah Puteri memengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka Kulliyatul Banat, bagian Universitas Al-Azhar yang dikhususkan untuk putri pada 1962

Pada Juni 1957, Rahmah berangkat ke Timur Tengah. Seusai menunaikan ibadah haji, ia mengunjungi Mesir dan melakukan kunjungan balasan ke Universitas Al-Azhar. Dalam satu Sidang Senat Luar Biasa, ia mendapat gelar kehormatan Syekhah - kali pertama Al-Azhar memberikan gelar kehormatan syekh pada perempuan karena kapasitas keilmuan dan keulamaannya.

Perempuan pencerah dan penggerak kaumnya itu meninggal dalam usia 68 tahun sebelum melaksanakan salat Magrib pada 26 Februari 1969. Pemerintah Indonesia menganugerahkannya tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana secara anumerta pada 13 Agustus 2013 dan gelar pahlawan nasional pada 10 November 2025.

Senarai kisah Rahmah El Yunussiah ini tentunya berujung, namanya tidak sekadar hadir sebagai pahlawan nasional semata. Goresan tinta sejarawan juga memunculkan nama dan kiprahnya di panggung sejarah nasional Indonesia.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Besok, Prabowo Resmikan...
Besok, Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk
GMNI Desak Pemerintah...
GMNI Desak Pemerintah Tetapkan Inggit Garnasih sebagai Pahlawan Nasional
Peringati 80 Tahun Peristiwa...
Peringati 80 Tahun Peristiwa Merah Putih, GPPMP Kenang Perjuangan Pahlawan
Kapolri Ziarah ke Makam...
Kapolri Ziarah ke Makam Marsinah: Mengenang Pahlawan Nasional Buruh!
Ziarah Makam Kotagede...
Ziarah Makam Kotagede dan Jejak Perjuangan Sultan HB II Menuju Pahlawan Nasional
Bahlil Soal Masih Ada...
Bahlil Soal Masih Ada Penolakan Gelar Pahlawan Soeharto: Mudah-mudahan Mereka Bisa Ikhlaskan
Pangeran Sambernyawa...
Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Bikin Belanda Kocar-kacir
Selamat Jalan Pahlawan!...
Selamat Jalan Pahlawan! Pemakaman Mayor Anumerta Zulmi Diiringi Isak Tangis
Di Depan Pusara Pahlawan...
Di Depan Pusara Pahlawan M.H. Thamrin, Pramono Serukan Persatuan Orang Betawi
Rekomendasi
Keanu Agl Diperiksa...
Keanu Agl Diperiksa Terkait Kasus Hanania Group, Bantah Terima Uang Miliaran Rupiah
Doa Memasuki Tahun Baru...
Doa Memasuki Tahun Baru Islam, Jangan Lupa Diamalkan!
Dipersulit Sarwendah...
Dipersulit Sarwendah Ketemu Anak, Ruben Onsu Banjir Dukungan dari Teman Artis
Berita Terkini
KPK Tahan 2 Tersangka...
KPK Tahan 2 Tersangka Kasus Kuota Haji
HUT ke-80, SPS: Fondasi...
HUT ke-80, SPS: Fondasi Pers Nasional Terletak pada Integritas, Profesionalisme, dan Kepentingan Publik
Delegasi Indonesia Soroti...
Delegasi Indonesia Soroti Kerja Paksa Myanmar dan Krisis Rohingya di Sidang ILO Jenewa
Demi Framing, Pengamat...
Demi Framing, Pengamat Menilai Jusuf Hamka Catut Nama Mbak Tutut dan TPI ke Polemik CMNP dengan MNC Asia
Panja RUU Polri Sepakati...
Panja RUU Polri Sepakati Usia Pensiun Polisi, Jenderal Bintang 4 Bisa 61 Tahun
Eks Waka BGN Sony Sonjaya...
Eks Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan JC, Sebut 20 Nama Besar Diduga Terlibat Korupsi
Infografis
Profil 10 Pahlawan Nasional...
Profil 10 Pahlawan Nasional Tahun 2025 dan Jasanya bagi Negara
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved