Rahmah El Yunusiyyah sang Pahlawan Nasional

Jum'at, 14 November 2025 - 15:54 WIB
loading...
A A A
Ia mengatur kegiatan belajar mengajar di masjid yang berseberangan dengan rumah kediamannya di Jalan Lubuk Mata Kucing (kini, Jalan Abdul Hamid Hakim). Rasuna Said, Sitti Nansiah, dan Djawana Basyir, termasuk guru terawal, sementara Rahmah merangkap sebagai guru dan pimpinan.

Mulanya terdapat 71 orang murid perempuan yang kebanyakan adalah ibu-ibu muda. Pelajaran diberikan selama 2,5 jam meliputi dasar pengetahuan agama, gramatika bahasa Arab, dan ilmu alat. Proses pembelajaran masih memakai sistem halaqah. Para guru memakai buku-buku berbahasa Arab dan menerangkannya dengan bahasa Melayu. Dengan hadirnya bagian putri, Diniyahschool peninggalan Zainuddin berangsur-angsur hanya dihadiri oleh murid-murid putra. Madrasah Diniyah Li al-Banat yang didirikan Rahmah menjadi populer dengan nama Diniyah Putri (Rasjad, 1991).

Grafik murid Diniyah Puteri pun makin melejit tinggi. Pada 1928 tercatat 200 murid, dua tahun kemudian naik menjadi 350 orang, dan 400 orang murid pada 1935. Catatan ini menandai awal mercusuar lembaga pendidikan khusus perempuan di Indonesia. Murid-murid Kak Amah tidak saja berasal dari Minangkabau, juga berdatangan dari Benkoelen, Tapanuli, Deli, Aceh, hingga ke tanah Malaya di Selangor (Deliar Noer, 1991).

Tujuh tahun membina Diniyah Puteri, Majalah Aboean Goeroe-Goeroe (AGG) milik perkumpulan para guru di Sumatera Barat menorehkan tinta emas untuk Kak Amah. Pada Mei 1930 majalah AGG menulis, Rahmah adalah orang pertama yang berkiprah untuk kemajuan anak-anak perempuan di Minangkabau. Rahmah dipuji sebagai sosok yang sedikit bicara dan tertawa, tetapi banyak bekerja.

Apakah Kak Amah Alergi Politik?

Pertanyaan ini tentu menggelitik. Banyak yang menegarai sejak melarang murid sekaligus kolega gurunya berpolitik praktis di Diniyah Puteri menandakan Kak Amah alergi dengan persoalan politik. Namun apakan benar, ia benar-benar alergi dengan persoalan politik di masa pergerakan? Beberapa catatan ini akan membantahnya.

Sejak membangun Madrasah Diniyah Li al-Banat, menolak bekerja sama dengan Asisten Residen Padang Panjang. Bahkan, ketika pemerintah kolonial Belanda melalui Van Straten, controleur Padang Panjang menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri mau menerima subsidi dari pemerintah, ia pun dengan tegas menolaknya.

Baca Juga: Rahmah El Yunusiyyah Pahlawan Nasional, Keluarga Ucapkan Terima Kasih ke Prabowo

Kedua, di jantung Persatuan Murid Diniyah School berdiri gerakan kepanduan yang dinamakan Kepanduan Indonesia Muslim. Kepanduan ini unik dari namanya. Mengusung dua aliran yang berbeda di masa pergerakan, tetapi dilebur menjadi satu, yakni Indonesia yang mewakili kata nasionalisme dan Islam. Kepanduan ini resmi berdiri pada Juli 1931 dan menjadi saingan dari kepanduan El-Hilaal yang menjadi bagian dari organisasi pergerakan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI).

Ketiga, tidak hanya sekadar sebagai organisasi padvinders, Kepanduan Indonesia Muslim menjadi pengusung utama organisasi pergerakan yang didirikan oleh Bung Hatta dan Sutan Sjahrir, yakni Pendidikan Nasional Indonesia atau yang dikenal dalam narasi sejarah nasional sebagai PNI-Baru.

Pada Desember 1932, berdirilah PNI Baru Cabang Padang Panjang, Bukittinggi, Maninjau, Pariaman, dan Padang. Masing-masing cabang, diketuai oleh Leon Salim, Rahimi, Darwis Thaib, S. Thaib, dan M. Nur Arif (Salim, 1980: 24). Sejak cabang berdiri di Padang Panjang, plang nama PMDS diturunkan, berganti dengan PNI Baru. Peristiwa ini menjadi torehan sejarah yang menandai di kota kecil bernama Padang Panjang, dua sekoleh partikelir mengusung warna pergerakan. Sumatra Thawalib dengan PERMI dan Diniyahschool dengan PNI-Baru.

Keempat, pada 1933, Rahmah memimpin panitia penolakan Ordonansi Sekolah Liar. Bila ia menolak, konsekuensinya adalah sekolahnya terancam ditutup paksa oleh pemerintah. Kak Amah pun dituduh membicarakan politik sehingga mengakibatkannya didenda f. 100 oleh Lanraad Fort de Kock.

Pada tahun yang sama, Belanda melalui Politieke Inlichtingen Dienst (PID) menggeledah Diniyah Puteri. Tiga orang guru Diniyah Puteri: Kanin RAS, Chasjiah AR, dan Siti Adam Addarkawi dikenakan larangan mengajar. Keempat, sikap dan peristiwa yang terjadi di jantung Diniyah Puteri menandakan bahwa Kak Amah tidaklah alergi dengan persoalan politik.

Mendukung Giyugun dan Dobrakannya di Masa Revolusi Kemerdekaan

Selama masa pemerintahan Dai Nippon, Kak Amah ikut dalam berbagai kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bergerak di bidang sosial. Dalam situasi yang mencekam, ibu-ibu ADI mengumpulkan bantuan makanan dan pakaian bagi masyarakat miskin. Kak Amah pun memotivasi masyarakat supaya menyisakan beras genggam setiap kali memasak untuk dibagikan bagi kalangan yang kekurangan pangan. Kepada murid-muridnya, ia menginstruksikan bahwa seluruh taplak meja dan kain pintu yang ada di Diniyah Puteri dijadikan pakaian untuk penduduk.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gus Ipul Dukung Usulan...
Gus Ipul Dukung Usulan Sutan Takdir Alisjahbana Jadi Pahlawan: Pejuang Bahasa Indonesia
Berjasa Besar bagi Bahasa...
Berjasa Besar bagi Bahasa dan Budaya, Sutan Takdir Alisjahbana Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Ditegur Delegasi Belanda...
Ditegur Delegasi Belanda karena Merokok saat KMB, Jawaban Agus Salim Ini Membuat Mereka Terdiam
Besok, Prabowo Resmikan...
Besok, Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk
GMNI Desak Pemerintah...
GMNI Desak Pemerintah Tetapkan Inggit Garnasih sebagai Pahlawan Nasional
Peringati 80 Tahun Peristiwa...
Peringati 80 Tahun Peristiwa Merah Putih, GPPMP Kenang Perjuangan Pahlawan
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
Pangeran Sambernyawa...
Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Bikin Belanda Kocar-kacir
Rekomendasi
4 Alasan Wapres Filipina...
4 Alasan Wapres Filipina Sara Duterte Terancam Dimakzulkan, Konflik dengan Presiden hingga Terjerat Skandal Korupsi
PMB 2026 Universitas...
PMB 2026 Universitas BSI Gelombang 5 Telah Dibuka, Tersedia Prodi Baru!
IHSG Berbalik Menguat...
IHSG Berbalik Menguat 0,69% ke 5.916 meski Sepi Transaksi
Berita Terkini
Prabowo dan PM Wong...
Prabowo dan PM Wong Sepakati 26 Kerja Sama, Pertahanan hingga Keselamatan Nuklir
Lulusan Tak Cukup Pintar...
Lulusan Tak Cukup Pintar AI, IHBS Cetak Generasi Berakhlak Islam di Tengah Revolusi Teknologi
Boni Hargens: Transformasi...
Boni Hargens: Transformasi Polri Harus Dinilai Secara Komprehensif, Bukan dari Satu Indeks
Perlambatan Ekonomi...
Perlambatan Ekonomi Tekan Pendapatan, Agus Taufiq Perindo Desak Perluasan Lapangan Kerja
23 Prajurit Kopassus...
23 Prajurit Kopassus dan Kostrad Dapat Kenaikan Pangkat Luar Biasa dari Panglima TNI
Usai Putusan MK, Irman...
Usai Putusan MK, Irman Gusman: Saatnya Akhiri Debat Prosedural, Fokus pada Kualitas Demokrasi Daerah
Infografis
Kaleidoskop 2025: 6...
Kaleidoskop 2025: 6 Peristiwa Politik Nasional yang Menggemparkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved