Rahmah El Yunusiyyah sang Pahlawan Nasional
Jum'at, 14 November 2025 - 15:54 WIB
loading...
Fikrul Hanif Sufyan. Foto/Istimewa
A
A
A
Fikrul Hanif Sufyan
Periset dan Pengajar Sejarah. Pernah menjadi dosen tamu dalam visiting scholar di Faculty of Arts University of Melbourne Australia
PADA 10 November 2025, berakhirlah penantian dari keluarga besar Diniyah Puteri untuk gelar pahlawan nasional. Rahmah El Yunusiyyah (Rahmah El Yunussiah) menjadi bagian dari sepuluh orang yang dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta.
Gelar ini menandai penantian panjang untuk Kak Amah - demikian ia akrab disapa oleh keluarga besar Diniyah Puteri - sejak masa Presiden Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, dan baru diakui sebagai pahlawan nasional di masa Prabowo Subianto .
Terbawa membawa suku Sikumbang dalam sistem matrilineal Minangkabau, Kak Amah bertumbuh menjadi anak yang cerdas, keras hati, dan berkemauan kuat di bawah bimbingan kakak kandungnya Zainuddin Labay El Yunussi. Labay pernah mengecap pendidikan di Holland Inlandsche School (HIS) dan berguru pada beberapa ulama besar Minang, satu di antaranya Haji Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul di Surau Jembatan Besi (Sufyan, 2021).
Menginjak usia 10 tahun, Rahmah sudah gemar mendengarkan kajian yang diadakan di beberapa surau di Padang Panjang. Rahmah mengambil perbandingan dari kajian-kajian yang diikutinya, berpindah-pindah dari satu surau ke surau lainnya.
Sejak ditinggal mati ayahnya pada 1906, Rahmah banyak memikirkan dan menyelesaikan sendiri urusannya. Ia menjahit baju sendiri dan menyenangi berbagai macam kerajinan tangan.
Rahmah melepas masa lajangnya dalam usia 16 tahun, dinikahkan oleh keluarganya dengan Bahauddin Lathif, seorang ulama dari Nagari Sumpur - yang pernah menjadi bagian gerakan Sarekat Rakyat di tahun 1920-an. Pernikahan mereka berlangsung pada 15 Mei 1916 dan berakhir pada 22 Juni 1922 tanpa meninggalkan anak.
Berbeda dengan sekolah partikelir yang berada di Sumatra Westskut masa itu, Labay membolehkan perempuan ikut menjadi murid Diniyahschool. Rahmah ikut mendaftar. Karena kemampuannya, ia diterima duduk di bangku kelas tiga (setara Tsanawiyah). Selain belajar di kelas pada pagi hari, Rahmah memimpin kelompok belajar di luar kelas pada sore harinya. Ia melihat, dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, perempuan tidak bebas mengutarakan pendapat dan bertanya.
Bersama Rasuna Said, Sitti Nansiah, dan Djawana Basyir, Rahmah mempelajari fikih kepada Abdul Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi. Mereka tercatat sebagai murid perempuan pertama yang ikut belajar di Surau Jembatan Besi (Hamka, 1956).
Sejak saat itu, Kak Amah pun mengungkap kegelisahannya pada Labay. Ia menginginkan agar perempuan memperoleh pendidikan yang sesuai dengan fitrahnya dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. "Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika Kakanda bisa, kenapakah saya, adiknya, tidak bisa. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?" (Boekoe Peringatan 15 Tahoen Dinijjahschool Poetri Padang Panjang, 1938).
Labay pun tersenyum dan membolehkan adiknya untuk membuka sekolah sendiri untuk perempuan. Jadi, maka jadilah. Pada 1 November 1923, Rahmah membuka Madrasah Diniyah Li al-Banat sebagai bagian dari Diniyahschool yang dikhususkan untuk murid-murid putri.
Ia mengatur kegiatan belajar mengajar di masjid yang berseberangan dengan rumah kediamannya di Jalan Lubuk Mata Kucing (kini, Jalan Abdul Hamid Hakim). Rasuna Said, Sitti Nansiah, dan Djawana Basyir, termasuk guru terawal, sementara Rahmah merangkap sebagai guru dan pimpinan.
Mulanya terdapat 71 orang murid perempuan yang kebanyakan adalah ibu-ibu muda. Pelajaran diberikan selama 2,5 jam meliputi dasar pengetahuan agama, gramatika bahasa Arab, dan ilmu alat. Proses pembelajaran masih memakai sistem halaqah. Para guru memakai buku-buku berbahasa Arab dan menerangkannya dengan bahasa Melayu. Dengan hadirnya bagian putri, Diniyahschool peninggalan Zainuddin berangsur-angsur hanya dihadiri oleh murid-murid putra. Madrasah Diniyah Li al-Banat yang didirikan Rahmah menjadi populer dengan nama Diniyah Putri (Rasjad, 1991).
Grafik murid Diniyah Puteri pun makin melejit tinggi. Pada 1928 tercatat 200 murid, dua tahun kemudian naik menjadi 350 orang, dan 400 orang murid pada 1935. Catatan ini menandai awal mercusuar lembaga pendidikan khusus perempuan di Indonesia. Murid-murid Kak Amah tidak saja berasal dari Minangkabau, juga berdatangan dari Benkoelen, Tapanuli, Deli, Aceh, hingga ke tanah Malaya di Selangor (Deliar Noer, 1991).
Tujuh tahun membina Diniyah Puteri, Majalah Aboean Goeroe-Goeroe (AGG) milik perkumpulan para guru di Sumatera Barat menorehkan tinta emas untuk Kak Amah. Pada Mei 1930 majalah AGG menulis, Rahmah adalah orang pertama yang berkiprah untuk kemajuan anak-anak perempuan di Minangkabau. Rahmah dipuji sebagai sosok yang sedikit bicara dan tertawa, tetapi banyak bekerja.
Sejak membangun Madrasah Diniyah Li al-Banat, menolak bekerja sama dengan Asisten Residen Padang Panjang. Bahkan, ketika pemerintah kolonial Belanda melalui Van Straten, controleur Padang Panjang menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri mau menerima subsidi dari pemerintah, ia pun dengan tegas menolaknya.
Baca Juga: Rahmah El Yunusiyyah Pahlawan Nasional, Keluarga Ucapkan Terima Kasih ke Prabowo
Kedua, di jantung Persatuan Murid Diniyah School berdiri gerakan kepanduan yang dinamakan Kepanduan Indonesia Muslim. Kepanduan ini unik dari namanya. Mengusung dua aliran yang berbeda di masa pergerakan, tetapi dilebur menjadi satu, yakni Indonesia yang mewakili kata nasionalisme dan Islam. Kepanduan ini resmi berdiri pada Juli 1931 dan menjadi saingan dari kepanduan El-Hilaal yang menjadi bagian dari organisasi pergerakan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI).
Ketiga, tidak hanya sekadar sebagai organisasi padvinders, Kepanduan Indonesia Muslim menjadi pengusung utama organisasi pergerakan yang didirikan oleh Bung Hatta dan Sutan Sjahrir, yakni Pendidikan Nasional Indonesia atau yang dikenal dalam narasi sejarah nasional sebagai PNI-Baru.
Pada Desember 1932, berdirilah PNI Baru Cabang Padang Panjang, Bukittinggi, Maninjau, Pariaman, dan Padang. Masing-masing cabang, diketuai oleh Leon Salim, Rahimi, Darwis Thaib, S. Thaib, dan M. Nur Arif (Salim, 1980: 24). Sejak cabang berdiri di Padang Panjang, plang nama PMDS diturunkan, berganti dengan PNI Baru. Peristiwa ini menjadi torehan sejarah yang menandai di kota kecil bernama Padang Panjang, dua sekoleh partikelir mengusung warna pergerakan. Sumatra Thawalib dengan PERMI dan Diniyahschool dengan PNI-Baru.
Keempat, pada 1933, Rahmah memimpin panitia penolakan Ordonansi Sekolah Liar. Bila ia menolak, konsekuensinya adalah sekolahnya terancam ditutup paksa oleh pemerintah. Kak Amah pun dituduh membicarakan politik sehingga mengakibatkannya didenda f. 100 oleh Lanraad Fort de Kock.
Pada tahun yang sama, Belanda melalui Politieke Inlichtingen Dienst (PID) menggeledah Diniyah Puteri. Tiga orang guru Diniyah Puteri: Kanin RAS, Chasjiah AR, dan Siti Adam Addarkawi dikenakan larangan mengajar. Keempat, sikap dan peristiwa yang terjadi di jantung Diniyah Puteri menandakan bahwa Kak Amah tidaklah alergi dengan persoalan politik.
Selain bergabung di ADI, Kak Amah tercatat bergabung dengan Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang berkedudukan di Bukittinggi. Ia menjadi Ketua Haha No Kai di Padang Panjang, guna membantu calon perwira barisan Giyugun - yang diinisasi Chatib Sulaiman. Seiring memuncaknya konflik di Padang Panjang, Rahmah membawa sekitar 100 orang muridnya mengungsi untuk menyelamatkan mereka dari serbuan tentara Jepang. Selama pengungsian, ia menanggung sendiri semua keperluan murid-muridnya.
Ketika terjadi kecelakaan kereta api pada 25 Desember 1944 dan 23 Maret 1945 di Padang Panjang, Kak Amah menjadikan bangunan Diniyah Puteri sebagai tempat perawatan korban kecelakaan. Peristiwa ini diganjar dengan piagam penghargaan dari pemerintah Dai Nippon untuk sekolah yang didirikannya. Menjelang berakhirnya masa Dai Nippon, Jepang membentuk Cuo Sangi In yang diketuai oleh Muhammad Sjafei. Rahmah duduk sebagai salah seorang anggota peninjau Cuo Sangi In (Sufyan, 2020).
Setelah dibacakannya pernyataan dukungan terhadap proklamasi kemerdekaan oleh Ketua Cuo Sangi In Muhammad Sjafei, Kak Amah segera mengerek bendera Merah Putih di halaman perguruan Diniyah Puteri. Ia tercatat sebagai perempuan dan orang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat. Berita berkibarnya sang Saka Merah Putih di Diniyah Puteri, segera menyebar ke seluruh pelosok kota dan daerah Batipuh X Koto.
Beberapa bulan berikutnya, tepatnya 5 Oktober 1945, Bung Karno mengeluarkan dekrit pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada 12 Oktober 1945, Kak Amah memelopori berdirinya unit perbekalan TKR untuk Padang Panjang dan sekitarnya. Ia pun menyediakan logistik dan pembelian beberapa kebutuhan alat senjata dari hartanya. Bersama anggota Haha No Kai, Rahmah mengatur dapur umum di perguruan Diniyah Puteri untuk kebutuhan TKR. Anggota-anggota TKR ini menjadi tentara inti dari Batalyon Merapi di bawah pimpinan Anas Karim (Peringatan 55 Tahun Diniyah Putri Padang Panjang, 1978).
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II, Belanda menangkap sejumlah pemimpin-pemimpin Indonesia di Padang Panjang. Kak Amah pun meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang. Namun, ia ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 dan dijebloskan ke tahanan perempuan di Padang Panjang. Setelah tujuh hari ditawan, ia dibawa ke Padang dan ditahan di satu ruangan bekas SPG Negeri Putri Padang. Ia melewatkan tiga bulan di Padang sebagai huis arrest atau tahanan rumah.
Kak Amah meninggalkan Kota Padang untuk memenuhi undangan Kongres Pendidikan II Indonesia di Yogyakarta pada 15-20 Oktober 1949. Di kota yang sama, ia hadir dalam Kongres Muslimin Indonesia yang diselenggarakan pada 20–25 Desember 1949. Dari rentetan kesibukannya sebagai seorang pencerah di Diniyah Puteri, Rahmah sudah menunjukkan kapasitasnya sebagai perempuan yang mencintai republik ini, sebelum ia hadir dan mempertahankannya sejak 1945-1950.
Puncak karier politik dari Kak Amah adalah ketika ia diganjar sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mewakili Sumatra Tengah. Melalui DPR, Rahmah membawa aspirasinya tentang pendidikan dan pelajaran Islam. Pada tahun yang sama, tepatnya 15 Agustus 1955, Imam Besar Al-Azhar Abdurrahman Taj berkunjung ke Indonesia atas undangan Muhammad Natsir.
Abdurrahman Taj mengungkapkan kekagumannya pada Diniyah Puteri, sementara Al-Azhar sendiri saat itu belum memiliki bagian khusus perempuan. Hamka mencatat, Diniyah Puteri memengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka Kulliyatul Banat, bagian Universitas Al-Azhar yang dikhususkan untuk putri pada 1962
Pada Juni 1957, Rahmah berangkat ke Timur Tengah. Seusai menunaikan ibadah haji, ia mengunjungi Mesir dan melakukan kunjungan balasan ke Universitas Al-Azhar. Dalam satu Sidang Senat Luar Biasa, ia mendapat gelar kehormatan Syekhah - kali pertama Al-Azhar memberikan gelar kehormatan syekh pada perempuan karena kapasitas keilmuan dan keulamaannya.
Perempuan pencerah dan penggerak kaumnya itu meninggal dalam usia 68 tahun sebelum melaksanakan salat Magrib pada 26 Februari 1969. Pemerintah Indonesia menganugerahkannya tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana secara anumerta pada 13 Agustus 2013 dan gelar pahlawan nasional pada 10 November 2025.
Senarai kisah Rahmah El Yunussiah ini tentunya berujung, namanya tidak sekadar hadir sebagai pahlawan nasional semata. Goresan tinta sejarawan juga memunculkan nama dan kiprahnya di panggung sejarah nasional Indonesia.
Periset dan Pengajar Sejarah. Pernah menjadi dosen tamu dalam visiting scholar di Faculty of Arts University of Melbourne Australia
PADA 10 November 2025, berakhirlah penantian dari keluarga besar Diniyah Puteri untuk gelar pahlawan nasional. Rahmah El Yunusiyyah (Rahmah El Yunussiah) menjadi bagian dari sepuluh orang yang dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta.
Gelar ini menandai penantian panjang untuk Kak Amah - demikian ia akrab disapa oleh keluarga besar Diniyah Puteri - sejak masa Presiden Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, dan baru diakui sebagai pahlawan nasional di masa Prabowo Subianto .
Rahmah Kecil: Perempuan Mandiri dan Berkemauan Keras
Rahmah El Yunussiah, demikian nama yang diberikan oleh ayahnya bernama Muhammad Yunus al-Khalidiyah bin Imanuddin - seorang Qadhi di Nagari Pandai Sikek. Terlahir dari rahim seorang ibu bernama Rafia pada 26 Oktober tahun 1900 (Sufyan, 2017).Terbawa membawa suku Sikumbang dalam sistem matrilineal Minangkabau, Kak Amah bertumbuh menjadi anak yang cerdas, keras hati, dan berkemauan kuat di bawah bimbingan kakak kandungnya Zainuddin Labay El Yunussi. Labay pernah mengecap pendidikan di Holland Inlandsche School (HIS) dan berguru pada beberapa ulama besar Minang, satu di antaranya Haji Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul di Surau Jembatan Besi (Sufyan, 2021).
Menginjak usia 10 tahun, Rahmah sudah gemar mendengarkan kajian yang diadakan di beberapa surau di Padang Panjang. Rahmah mengambil perbandingan dari kajian-kajian yang diikutinya, berpindah-pindah dari satu surau ke surau lainnya.
Sejak ditinggal mati ayahnya pada 1906, Rahmah banyak memikirkan dan menyelesaikan sendiri urusannya. Ia menjahit baju sendiri dan menyenangi berbagai macam kerajinan tangan.
Rahmah melepas masa lajangnya dalam usia 16 tahun, dinikahkan oleh keluarganya dengan Bahauddin Lathif, seorang ulama dari Nagari Sumpur - yang pernah menjadi bagian gerakan Sarekat Rakyat di tahun 1920-an. Pernikahan mereka berlangsung pada 15 Mei 1916 dan berakhir pada 22 Juni 1922 tanpa meninggalkan anak.
Suluh Penerang dan Penggerak Kesadaran Perempuan
Kisah Kak Amah sebagai suluh penerang kaum perempuan, terinspirasi dari kakaknya Zainuddin Labay El Yunussi. Sejak Labay mendirikan Diniyahschool pada 10 Oktober 1915, sekolah itu perlahan memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum dan dijalankan dengan cara pendidikan modern. Tidak hanya itu, di sekolahnya Labay menggunakan alat peraga dan memiliki Quthb Khannah (baca:perpustakaan).Berbeda dengan sekolah partikelir yang berada di Sumatra Westskut masa itu, Labay membolehkan perempuan ikut menjadi murid Diniyahschool. Rahmah ikut mendaftar. Karena kemampuannya, ia diterima duduk di bangku kelas tiga (setara Tsanawiyah). Selain belajar di kelas pada pagi hari, Rahmah memimpin kelompok belajar di luar kelas pada sore harinya. Ia melihat, dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, perempuan tidak bebas mengutarakan pendapat dan bertanya.
Bersama Rasuna Said, Sitti Nansiah, dan Djawana Basyir, Rahmah mempelajari fikih kepada Abdul Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi. Mereka tercatat sebagai murid perempuan pertama yang ikut belajar di Surau Jembatan Besi (Hamka, 1956).
Sejak saat itu, Kak Amah pun mengungkap kegelisahannya pada Labay. Ia menginginkan agar perempuan memperoleh pendidikan yang sesuai dengan fitrahnya dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. "Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika Kakanda bisa, kenapakah saya, adiknya, tidak bisa. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?" (Boekoe Peringatan 15 Tahoen Dinijjahschool Poetri Padang Panjang, 1938).
Labay pun tersenyum dan membolehkan adiknya untuk membuka sekolah sendiri untuk perempuan. Jadi, maka jadilah. Pada 1 November 1923, Rahmah membuka Madrasah Diniyah Li al-Banat sebagai bagian dari Diniyahschool yang dikhususkan untuk murid-murid putri.
Ia mengatur kegiatan belajar mengajar di masjid yang berseberangan dengan rumah kediamannya di Jalan Lubuk Mata Kucing (kini, Jalan Abdul Hamid Hakim). Rasuna Said, Sitti Nansiah, dan Djawana Basyir, termasuk guru terawal, sementara Rahmah merangkap sebagai guru dan pimpinan.
Mulanya terdapat 71 orang murid perempuan yang kebanyakan adalah ibu-ibu muda. Pelajaran diberikan selama 2,5 jam meliputi dasar pengetahuan agama, gramatika bahasa Arab, dan ilmu alat. Proses pembelajaran masih memakai sistem halaqah. Para guru memakai buku-buku berbahasa Arab dan menerangkannya dengan bahasa Melayu. Dengan hadirnya bagian putri, Diniyahschool peninggalan Zainuddin berangsur-angsur hanya dihadiri oleh murid-murid putra. Madrasah Diniyah Li al-Banat yang didirikan Rahmah menjadi populer dengan nama Diniyah Putri (Rasjad, 1991).
Grafik murid Diniyah Puteri pun makin melejit tinggi. Pada 1928 tercatat 200 murid, dua tahun kemudian naik menjadi 350 orang, dan 400 orang murid pada 1935. Catatan ini menandai awal mercusuar lembaga pendidikan khusus perempuan di Indonesia. Murid-murid Kak Amah tidak saja berasal dari Minangkabau, juga berdatangan dari Benkoelen, Tapanuli, Deli, Aceh, hingga ke tanah Malaya di Selangor (Deliar Noer, 1991).
Tujuh tahun membina Diniyah Puteri, Majalah Aboean Goeroe-Goeroe (AGG) milik perkumpulan para guru di Sumatera Barat menorehkan tinta emas untuk Kak Amah. Pada Mei 1930 majalah AGG menulis, Rahmah adalah orang pertama yang berkiprah untuk kemajuan anak-anak perempuan di Minangkabau. Rahmah dipuji sebagai sosok yang sedikit bicara dan tertawa, tetapi banyak bekerja.
Apakah Kak Amah Alergi Politik?
Pertanyaan ini tentu menggelitik. Banyak yang menegarai sejak melarang murid sekaligus kolega gurunya berpolitik praktis di Diniyah Puteri menandakan Kak Amah alergi dengan persoalan politik. Namun apakan benar, ia benar-benar alergi dengan persoalan politik di masa pergerakan? Beberapa catatan ini akan membantahnya.Sejak membangun Madrasah Diniyah Li al-Banat, menolak bekerja sama dengan Asisten Residen Padang Panjang. Bahkan, ketika pemerintah kolonial Belanda melalui Van Straten, controleur Padang Panjang menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri mau menerima subsidi dari pemerintah, ia pun dengan tegas menolaknya.
Baca Juga: Rahmah El Yunusiyyah Pahlawan Nasional, Keluarga Ucapkan Terima Kasih ke Prabowo
Kedua, di jantung Persatuan Murid Diniyah School berdiri gerakan kepanduan yang dinamakan Kepanduan Indonesia Muslim. Kepanduan ini unik dari namanya. Mengusung dua aliran yang berbeda di masa pergerakan, tetapi dilebur menjadi satu, yakni Indonesia yang mewakili kata nasionalisme dan Islam. Kepanduan ini resmi berdiri pada Juli 1931 dan menjadi saingan dari kepanduan El-Hilaal yang menjadi bagian dari organisasi pergerakan Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI).
Ketiga, tidak hanya sekadar sebagai organisasi padvinders, Kepanduan Indonesia Muslim menjadi pengusung utama organisasi pergerakan yang didirikan oleh Bung Hatta dan Sutan Sjahrir, yakni Pendidikan Nasional Indonesia atau yang dikenal dalam narasi sejarah nasional sebagai PNI-Baru.
Pada Desember 1932, berdirilah PNI Baru Cabang Padang Panjang, Bukittinggi, Maninjau, Pariaman, dan Padang. Masing-masing cabang, diketuai oleh Leon Salim, Rahimi, Darwis Thaib, S. Thaib, dan M. Nur Arif (Salim, 1980: 24). Sejak cabang berdiri di Padang Panjang, plang nama PMDS diturunkan, berganti dengan PNI Baru. Peristiwa ini menjadi torehan sejarah yang menandai di kota kecil bernama Padang Panjang, dua sekoleh partikelir mengusung warna pergerakan. Sumatra Thawalib dengan PERMI dan Diniyahschool dengan PNI-Baru.
Keempat, pada 1933, Rahmah memimpin panitia penolakan Ordonansi Sekolah Liar. Bila ia menolak, konsekuensinya adalah sekolahnya terancam ditutup paksa oleh pemerintah. Kak Amah pun dituduh membicarakan politik sehingga mengakibatkannya didenda f. 100 oleh Lanraad Fort de Kock.
Pada tahun yang sama, Belanda melalui Politieke Inlichtingen Dienst (PID) menggeledah Diniyah Puteri. Tiga orang guru Diniyah Puteri: Kanin RAS, Chasjiah AR, dan Siti Adam Addarkawi dikenakan larangan mengajar. Keempat, sikap dan peristiwa yang terjadi di jantung Diniyah Puteri menandakan bahwa Kak Amah tidaklah alergi dengan persoalan politik.
Mendukung Giyugun dan Dobrakannya di Masa Revolusi Kemerdekaan
Selama masa pemerintahan Dai Nippon, Kak Amah ikut dalam berbagai kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bergerak di bidang sosial. Dalam situasi yang mencekam, ibu-ibu ADI mengumpulkan bantuan makanan dan pakaian bagi masyarakat miskin. Kak Amah pun memotivasi masyarakat supaya menyisakan beras genggam setiap kali memasak untuk dibagikan bagi kalangan yang kekurangan pangan. Kepada murid-muridnya, ia menginstruksikan bahwa seluruh taplak meja dan kain pintu yang ada di Diniyah Puteri dijadikan pakaian untuk penduduk.Selain bergabung di ADI, Kak Amah tercatat bergabung dengan Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang berkedudukan di Bukittinggi. Ia menjadi Ketua Haha No Kai di Padang Panjang, guna membantu calon perwira barisan Giyugun - yang diinisasi Chatib Sulaiman. Seiring memuncaknya konflik di Padang Panjang, Rahmah membawa sekitar 100 orang muridnya mengungsi untuk menyelamatkan mereka dari serbuan tentara Jepang. Selama pengungsian, ia menanggung sendiri semua keperluan murid-muridnya.
Ketika terjadi kecelakaan kereta api pada 25 Desember 1944 dan 23 Maret 1945 di Padang Panjang, Kak Amah menjadikan bangunan Diniyah Puteri sebagai tempat perawatan korban kecelakaan. Peristiwa ini diganjar dengan piagam penghargaan dari pemerintah Dai Nippon untuk sekolah yang didirikannya. Menjelang berakhirnya masa Dai Nippon, Jepang membentuk Cuo Sangi In yang diketuai oleh Muhammad Sjafei. Rahmah duduk sebagai salah seorang anggota peninjau Cuo Sangi In (Sufyan, 2020).
Setelah dibacakannya pernyataan dukungan terhadap proklamasi kemerdekaan oleh Ketua Cuo Sangi In Muhammad Sjafei, Kak Amah segera mengerek bendera Merah Putih di halaman perguruan Diniyah Puteri. Ia tercatat sebagai perempuan dan orang pertama yang mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat. Berita berkibarnya sang Saka Merah Putih di Diniyah Puteri, segera menyebar ke seluruh pelosok kota dan daerah Batipuh X Koto.
Beberapa bulan berikutnya, tepatnya 5 Oktober 1945, Bung Karno mengeluarkan dekrit pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pada 12 Oktober 1945, Kak Amah memelopori berdirinya unit perbekalan TKR untuk Padang Panjang dan sekitarnya. Ia pun menyediakan logistik dan pembelian beberapa kebutuhan alat senjata dari hartanya. Bersama anggota Haha No Kai, Rahmah mengatur dapur umum di perguruan Diniyah Puteri untuk kebutuhan TKR. Anggota-anggota TKR ini menjadi tentara inti dari Batalyon Merapi di bawah pimpinan Anas Karim (Peringatan 55 Tahun Diniyah Putri Padang Panjang, 1978).
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II, Belanda menangkap sejumlah pemimpin-pemimpin Indonesia di Padang Panjang. Kak Amah pun meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang. Namun, ia ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 dan dijebloskan ke tahanan perempuan di Padang Panjang. Setelah tujuh hari ditawan, ia dibawa ke Padang dan ditahan di satu ruangan bekas SPG Negeri Putri Padang. Ia melewatkan tiga bulan di Padang sebagai huis arrest atau tahanan rumah.
Kak Amah meninggalkan Kota Padang untuk memenuhi undangan Kongres Pendidikan II Indonesia di Yogyakarta pada 15-20 Oktober 1949. Di kota yang sama, ia hadir dalam Kongres Muslimin Indonesia yang diselenggarakan pada 20–25 Desember 1949. Dari rentetan kesibukannya sebagai seorang pencerah di Diniyah Puteri, Rahmah sudah menunjukkan kapasitasnya sebagai perempuan yang mencintai republik ini, sebelum ia hadir dan mempertahankannya sejak 1945-1950.
Puncak karier politik dari Kak Amah adalah ketika ia diganjar sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mewakili Sumatra Tengah. Melalui DPR, Rahmah membawa aspirasinya tentang pendidikan dan pelajaran Islam. Pada tahun yang sama, tepatnya 15 Agustus 1955, Imam Besar Al-Azhar Abdurrahman Taj berkunjung ke Indonesia atas undangan Muhammad Natsir.
Abdurrahman Taj mengungkapkan kekagumannya pada Diniyah Puteri, sementara Al-Azhar sendiri saat itu belum memiliki bagian khusus perempuan. Hamka mencatat, Diniyah Puteri memengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka Kulliyatul Banat, bagian Universitas Al-Azhar yang dikhususkan untuk putri pada 1962
Pada Juni 1957, Rahmah berangkat ke Timur Tengah. Seusai menunaikan ibadah haji, ia mengunjungi Mesir dan melakukan kunjungan balasan ke Universitas Al-Azhar. Dalam satu Sidang Senat Luar Biasa, ia mendapat gelar kehormatan Syekhah - kali pertama Al-Azhar memberikan gelar kehormatan syekh pada perempuan karena kapasitas keilmuan dan keulamaannya.
Perempuan pencerah dan penggerak kaumnya itu meninggal dalam usia 68 tahun sebelum melaksanakan salat Magrib pada 26 Februari 1969. Pemerintah Indonesia menganugerahkannya tanda kehormatan Bintang Mahaputra Adipradana secara anumerta pada 13 Agustus 2013 dan gelar pahlawan nasional pada 10 November 2025.
Senarai kisah Rahmah El Yunussiah ini tentunya berujung, namanya tidak sekadar hadir sebagai pahlawan nasional semata. Goresan tinta sejarawan juga memunculkan nama dan kiprahnya di panggung sejarah nasional Indonesia.
(zik)
Lihat Juga :