Rahmah El Yunusiyyah sang Pahlawan Nasional

Jum'at, 14 November 2025 - 15:54 WIB
loading...
Rahmah El Yunusiyyah...
Fikrul Hanif Sufyan. Foto/Istimewa
A A A
Fikrul Hanif Sufyan
Periset dan Pengajar Sejarah. Pernah menjadi dosen tamu dalam visiting scholar di Faculty of Arts University of Melbourne Australia

PADA 10 November 2025, berakhirlah penantian dari keluarga besar Diniyah Puteri untuk gelar pahlawan nasional. Rahmah El Yunusiyyah (Rahmah El Yunussiah) menjadi bagian dari sepuluh orang yang dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta.

Gelar ini menandai penantian panjang untuk Kak Amah - demikian ia akrab disapa oleh keluarga besar Diniyah Puteri - sejak masa Presiden Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, dan baru diakui sebagai pahlawan nasional di masa Prabowo Subianto .

Rahmah Kecil: Perempuan Mandiri dan Berkemauan Keras

Rahmah El Yunussiah, demikian nama yang diberikan oleh ayahnya bernama Muhammad Yunus al-Khalidiyah bin Imanuddin - seorang Qadhi di Nagari Pandai Sikek. Terlahir dari rahim seorang ibu bernama Rafia pada 26 Oktober tahun 1900 (Sufyan, 2017).

Terbawa membawa suku Sikumbang dalam sistem matrilineal Minangkabau, Kak Amah bertumbuh menjadi anak yang cerdas, keras hati, dan berkemauan kuat di bawah bimbingan kakak kandungnya Zainuddin Labay El Yunussi. Labay pernah mengecap pendidikan di Holland Inlandsche School (HIS) dan berguru pada beberapa ulama besar Minang, satu di antaranya Haji Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul di Surau Jembatan Besi (Sufyan, 2021).

Menginjak usia 10 tahun, Rahmah sudah gemar mendengarkan kajian yang diadakan di beberapa surau di Padang Panjang. Rahmah mengambil perbandingan dari kajian-kajian yang diikutinya, berpindah-pindah dari satu surau ke surau lainnya.

Sejak ditinggal mati ayahnya pada 1906, Rahmah banyak memikirkan dan menyelesaikan sendiri urusannya. Ia menjahit baju sendiri dan menyenangi berbagai macam kerajinan tangan.

Rahmah melepas masa lajangnya dalam usia 16 tahun, dinikahkan oleh keluarganya dengan Bahauddin Lathif, seorang ulama dari Nagari Sumpur - yang pernah menjadi bagian gerakan Sarekat Rakyat di tahun 1920-an. Pernikahan mereka berlangsung pada 15 Mei 1916 dan berakhir pada 22 Juni 1922 tanpa meninggalkan anak.

Suluh Penerang dan Penggerak Kesadaran Perempuan

Kisah Kak Amah sebagai suluh penerang kaum perempuan, terinspirasi dari kakaknya Zainuddin Labay El Yunussi. Sejak Labay mendirikan Diniyahschool pada 10 Oktober 1915, sekolah itu perlahan memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum dan dijalankan dengan cara pendidikan modern. Tidak hanya itu, di sekolahnya Labay menggunakan alat peraga dan memiliki Quthb Khannah (baca:perpustakaan).

Berbeda dengan sekolah partikelir yang berada di Sumatra Westskut masa itu, Labay membolehkan perempuan ikut menjadi murid Diniyahschool. Rahmah ikut mendaftar. Karena kemampuannya, ia diterima duduk di bangku kelas tiga (setara Tsanawiyah). Selain belajar di kelas pada pagi hari, Rahmah memimpin kelompok belajar di luar kelas pada sore harinya. Ia melihat, dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, perempuan tidak bebas mengutarakan pendapat dan bertanya.

Bersama Rasuna Said, Sitti Nansiah, dan Djawana Basyir, Rahmah mempelajari fikih kepada Abdul Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi. Mereka tercatat sebagai murid perempuan pertama yang ikut belajar di Surau Jembatan Besi (Hamka, 1956).

Sejak saat itu, Kak Amah pun mengungkap kegelisahannya pada Labay. Ia menginginkan agar perempuan memperoleh pendidikan yang sesuai dengan fitrahnya dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. "Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika Kakanda bisa, kenapakah saya, adiknya, tidak bisa. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?" (Boekoe Peringatan 15 Tahoen Dinijjahschool Poetri Padang Panjang, 1938).

Labay pun tersenyum dan membolehkan adiknya untuk membuka sekolah sendiri untuk perempuan. Jadi, maka jadilah. Pada 1 November 1923, Rahmah membuka Madrasah Diniyah Li al-Banat sebagai bagian dari Diniyahschool yang dikhususkan untuk murid-murid putri.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Besok, Prabowo Resmikan...
Besok, Prabowo Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk
GMNI Desak Pemerintah...
GMNI Desak Pemerintah Tetapkan Inggit Garnasih sebagai Pahlawan Nasional
Peringati 80 Tahun Peristiwa...
Peringati 80 Tahun Peristiwa Merah Putih, GPPMP Kenang Perjuangan Pahlawan
Kapolri Ziarah ke Makam...
Kapolri Ziarah ke Makam Marsinah: Mengenang Pahlawan Nasional Buruh!
Ziarah Makam Kotagede...
Ziarah Makam Kotagede dan Jejak Perjuangan Sultan HB II Menuju Pahlawan Nasional
Bahlil Soal Masih Ada...
Bahlil Soal Masih Ada Penolakan Gelar Pahlawan Soeharto: Mudah-mudahan Mereka Bisa Ikhlaskan
Pangeran Sambernyawa...
Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Bikin Belanda Kocar-kacir
Selamat Jalan Pahlawan!...
Selamat Jalan Pahlawan! Pemakaman Mayor Anumerta Zulmi Diiringi Isak Tangis
Di Depan Pusara Pahlawan...
Di Depan Pusara Pahlawan M.H. Thamrin, Pramono Serukan Persatuan Orang Betawi
Rekomendasi
Ciangir Disiapkan Jadi...
Ciangir Disiapkan Jadi Penampungan Kompos, Pramono Yakin 9.000 Ton Sampah Jakarta Bisa Tertangani
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Mager di Rp2,73 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
Cinta Laura Dukung Kegiatan...
Cinta Laura Dukung Kegiatan CFD Jadi Ajang Gen Z dan Gen Alpha Bersosialisasi
Berita Terkini
Nahdlatul Ulama: Pesantren...
Nahdlatul Ulama: Pesantren dan Kedaulatan Masyarakat Sipil
Presiden KSPI: Said...
Presiden KSPI: Said Iqbal Akan Dilantik Jadi Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan
Berkas Sudah P21, Pakar:...
Berkas Sudah P21, Pakar: Tinggal Tunggu Penyidik Serahkan Roy Suryo dkk ke JPU
Cerita Prabowo tentang...
Cerita Prabowo tentang 2 Angka Keberuntungan di Hidupnya: 8 dan 13 Selalu Muncul
Pesantren dan AI, Cucun...
Pesantren dan AI, Cucun Tekankan Pentingnya Etika serta Nilai Keagamaan dalam Teknologi
Partai Perindo Minta...
Partai Perindo Minta Presiden Prabowo Perkuat Demokrasi melalui Revisi UU Pemilu
Infografis
7 Universitas Islam...
7 Universitas Islam Negeri Terbaik Masuk Top 100 Nasional Webometrics 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved